Bisnis.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat inflasi tahunan (year on year/YoY) di provinsi tersebut mencapai 2,72% pada Desember 2025. Indeks harga konsumen (IHK) tercatat sebesar 109,98.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan Desember 2024, dalam periode lalu ini inflasi Jawa Tengah berada di level 1,67%. Kenaikan harga terutama dipengaruhi komoditas emas perhiasan, cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan beras.
Menurut BPS, perkembangan harga tersebut menunjukkan adanya tekanan inflasi dari komoditas pangan dan sejumlah komoditas nonpangan menjelang akhir tahun.
Baca Juga
- Daftar Lengkap UMK 2026 Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat (Jabar)
- UMK Jatim 2026, Sampang dan Situbondo Terendah
- Profil Feisal Hamka, Putra Babah Alun yang Rajin Tambah Saham CMNP
“Pada bulan Desember dan akhir tahun, angka inflasi secara Year on Year dan Year to Date ini memiliki nilai yang sama karena pembandingnya sama. Inflasi tahunan ini masih sesuai dengan target inflasi pemerintah tahun 2025 yang ada pada kisaran 1,50% hingga 3,50%,” jelas Wisnu Nurdiyanto, Statistisi Ahli Madya, Senin (05/01/2026).
Dia menjelaskan bahwa penyumbang terbesar inflasi Jawa Tengah secara tahunan berasal dari kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 1,14%. Selain itu, penyumbang inflasi berikutnya diikuti dari kelompok pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang memberikan andil inflasi sebesar 0,76% yang didorong dari kenaikan harga emas perhiasan. Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran menjadi kelompok ketiga yang memberikan andil inflasi secara tahunan sebesar 0,24% yang didorong dari naiknya harga nasi dengan lauk.
Terdapat lima komoditas yang memberikan andil terbesar di Jawa Tengah secara tahunan, yakni emas perhiasan sebesar 0,66%, cabai rawit 0,15%, cabai merah sebesar 0,14%, daging ayam ras sebesar 0,13%, dan beras sebesar 0,12%. Terkait perbandingan inflasi tahun 2025 dengan tahun 2024, tercatat bahwa emas perhiasan masih konsisten menjadi komoditas penyumbang tertinggi inflasi Jawa Tengah dengan tahun 2025 memberikan andil sebesar 0,66%, alami kenaikan dibanding tahun 2024 dengan andil hanya sebesar 0,25%.
Sementara itu, pada tahun 2025 komoditas cabai rawit dan cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dan ketiga secara tahunan di Jawa Tengah. Wisnu menyebut bahwa kenaikan harga cabai rawit tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Desember 2025, sedangkan kenaikan harga cabai merah tertinggi terjadi pada Januari 2025 yang saat itu mencapai lebih dari 77%. “Cabai rawit dan cabai merah di tahun 2025 menjadi penyumbang terbesar kedua dan ketiga, padahal kedua komoditas tersebut justru menjadi penyumbang deflasi terdalam pada tahun 2024,” ungkap Wisnu
Berdasarkan hasil pemantauan, 9 wilayah IHK di Jawa Tengah, BPS Jawa Tengah mencatat bahwa semua wilayah mengalami inflasi. Dari 9 wilayah tersebut, Kota Semarang menjadi wilayah dengan angka inflasi tertinggi secara tahunan sebesar 2,84%, sedangkan Kabupaten Rembang menjadi wilayah dengan inflasi terendah sebesar 2,47%. (Fadya Jasmin Malihah)





