Prabowo Ingatkan Ancaman Ketergantungan Impor: Swasembada Pangan dan Energi Harga Mati

tvonenews.com
1 hari lalu
Cover Berita

Hambalang, tvOnenews.com - Presiden RI, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kemandirian pangan dan energi merupakan syarat mutlak bagi kemerdekaan dan kesejahteraan suatu bangsa.

Penegasan itu disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada agenda retret tertutup Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).

Prabowo menyatakan, tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka apabila tidak mampu menjamin kebutuhan makan rakyatnya sendiri. Menurutnya, fondasi awal kemandirian tersebut adalah swasembada beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.

“Tidak ada bangsa yang merdeka bila mana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyatnya dan awalnya adalah swasembada beras, karena beras adalah makanan pokok kita,” ujar Prabowo.

Namun demikian, Prabowo menekankan bahwa konsep swasembada pangan tidak boleh dimaknai secara sempit hanya pada beras. Ia menyebut, swasembada pangan mencakup seluruh sumber karbohidrat dan protein yang dibutuhkan masyarakat.

“Tapi yang dikatakan swasembada pangan adalah tidak hanya beras, beras, jagung, singkong, dan yang lain-lain swasembada pangan artinya adalah karbohidrat dan protein, kita harus swasembada protein,” tegasnya.

Setelah pangan, Prabowo menegaskan pilar kemandirian berikutnya adalah swasembada energi. Ia mengingatkan, ketergantungan pada pasokan energi dari negara lain akan menghambat upaya Indonesia keluar dari kemiskinan dan mencapai kemakmuran.

“Dan juga selain swasembada pangan, dasar selanjutnya adalah swasembada energi jadi kalau kita tergantung dengan bangsa lain untuk energi kita. Tidak mungkin kita makmur tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan,” ucap Prabowo.

Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung dinamika geopolitik global yang menurutnya semakin membenarkan strategi kemandirian nasional. Ia mencontohkan ketidakpastian pasokan beras dunia akibat konflik di sejumlah negara produsen.

“Sudah-sudah strategi ini ternyata dibenarkan oleh dinamika dunia kita bisa bayangkan, kalau kita tidak swasembada beras, di tengah konflik di mana-mana, di tengah perang di mana-mana sumber import beras kita tadinya adalah Thailand, dan Kamboja, dan Vietnam sekarang Thailand sama Komboja perang terus setelah perang, negosiasi, senjata-senjata, damai, meletus lagi,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Seksi 6 Ditargetkan Beroperasi Secara Fungsional saat Arus Mudik Lebaran
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rakyat Menanti Pansus DPR Tuntaskan Konflik Agraria
• 9 jam lalukompas.id
thumb
AS Sita Kapal Tanker yang Kabur dan Dikawal Rusia
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Badan Geologi Jelaskan Asal Mula Sinkhole di Limapuluh Kota, Sumbar, tak Terjadi Tiba-Tiba
• 17 jam lalumerahputih.com
thumb
Toko Pengecatan Suku Cadang Sepeda Motor di Bogor Kebakaran
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.