Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial
Berawal dari akun fufufafa, kemudian menjadi bincang viral dan kontroversi karena nuansa politiknya, kini menjadi lagu yang menghibur “Republik Fufufafa”. Adalah Grup rock legendaris “Slank” merilis lagu ini, tepat di ulang tahunnya yang ke 42, bertajuk konser amal “Hey 42th Slank” untuk membantu korban bencana alam di Sumatra. Video klip lagu ini juga dirilis dan menjadi buah bibir netizen, karena berdandan ala karakter Joker.
Kejeniusan “Slank” sebagai pemusik telah menghentakkan tangan dan kaki kita. Irama “Republik Fufufafa” mengalun indah, mudah dinikmati, santai dengan gaya khas musik rock n’ roll. “Slank” juga dengan gaya unik “joker” di video klip, menambah sensasi penikmat lagu group legendaris ini.
Single terbaru “Republik Fufufafa” yang ditulis Bimbim (Gitaris Slank) ini, juga memperlihatkan kecerdikannya melihat peluang pasar musik. Betapa tidak, “fufufafa” telah menjadi “viral” di berbagai media selama ini karena nuansa politiknya. Controversial marketing atau shock advertising lagu “Republik Fufufafa” membuat dikenal semakin meluas. Semoga pundi dan “cuang” semakin mengalir.
Paling penting dan menarik dari lagu “Republik Fufufafa” ini adalah pesan moral yang disampaikan secara jenaka dan lugas serta relevan dengan kondisi kekinian. Negeri kacau balau yang dinarasikan dalam syair lagu “Republik Fufufafa”, mengingatkan kita pada kondisi bahwa etika (adab) dalam membangun hubungan sosial hilang dan muncul prilaku gak sopan, kurang ajar, sok tahu, dan belagu. Prilaku ini, memang terlihat ditengah kehidupan kita. Betapa mudahnya berkata dan berprilaku yang kasar, fitnah, hoaks, dan tidak sepatutnya, dalam berbagai interaksi. Kebencian dan kekerasan tersebar dan menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.
Kita melihat kekerasan dan bulying (perundungan) di dunia pendidikan, keluarga dan masyarakat, perusakan fasilitas umum negara seperti pencurian baut jembatan bailey di Aceh, arogansi kelompok, sampai pernyataan blunder pejabat publik terjadi di negeri ini.
Republik kacau balau juga digambarkan oleh “Slank” dengan kondisi kesehatan masyarakat yang banyak mengalami stunting, kurang gizi, dan IQ rata-rata mongkey. Situasi seperti ini, banyak dialami oleh masyarakat miskin, kurang mampu, tertinggal, terpencil dan daerah rawan pangan.
Presiden Prabowo menyebutkan 1 dari 5 anak Indonesia kekurangan gizi, dengan angka di beberapa daerah bisa lebih dari 30%. Bila gizi buruk, secara jangka panjang negeri ini akan diderita masalah kesehatan dan penyakit seperti resistensi insulin, tekanan darah tinggi (hipertensi), kondisi lemak tubuh tidak normal (dislipidemia), diabetes (karbohidrat yang berlebihan), penyakit jantung (jantung koroner, gagal jantung & stroke) , sistem imun tubuh melemah (imunodefisiensi) gangguan kesuburan (infertilitas)(www.alodokter.com, 7 dampak gizi buruk terhadap kesehatan).
Kita bisa membayangkan bila negeri kita mewarisi masyarakat yang lemah sumber daya manusianya. Padahal, kehidupan akan datang, semakin kuat persaingan dan kompetisi dan itu membutuhkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, trampil, kreatif dan unggul.
Republik semakin kacau balau, bila psikotropika (zat berbahaya) seperti narkoba menjadi candu generasi kita. Sakau narkoba merusak saraf akal sehat, kehilangan kesadaran diri dan sosial, dan mentalitas jiwa dan kesehatan raga hancur.
Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 2,11%, setara dengan sekitar 4,15 juta jiwa dalam rentang usia 15-64 tahun. BNN juga mengungkapkan bahwa sekitar 50 orang di Indonesia meninggal setiap hari akibat narkoba, atau mencapai sekitar 18.000 orang per tahun. Kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah generasi muda berusia 14 hingga 25 tahun. BNN mencatat 746 kasus narkoba selama tahun 2025, yang berasal dari 42 jaringan narkoba terorganisir.
Dalam penanganan kasus tersebut, BNN menangkap 1.174 orang tersangka. Sementara, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menangani lebih dari 38.000 kasus penyalahgunaan narkoba dari Januari hingga Oktober 2025 dan Polri berhasil menyita total 197,71 ton narkoba sepanjang tahun 2025 (Indonesia Drug Report 2025, Puslitdatin, BNN 2025).
Republik semakin kacau balau, bila cara instan menjadi budaya. Sakau judi, jalan mengharap masa depan. Padahal justru menerbangkan apa yang ada tanpa bekas. Menurut data PPATK, ada sekitar 9,7 juta pemain judi tahun 2024 dan 3,1 juta pemain judi di tahun 2025.
Karena sakau narkoba dan judi, urat malu dan kasih sayang putus. Kekerasan, krimimalitas, dan merampas hak orang lain tanpa ampun, menjadi peristiwa keseharian negeri. Seringkali, anak, istri, suami, dan keluarga tercinta menjadi korban sasaran para prilaku “sakau” narkoba dan judi.
Slank dengan “Republik Fufufafa” telah mengingatkan kita semua pentingnya membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat secara raga dan juga jiwa, serta mengajarkan pentingnya akhlak atau keadaban dalam bergaul dan berinteraksi kepada seluruh kalangan.
Peradaban negeri akan lahir dan tumbuh bila adanya pendidikan, pelatihan dan pembiasaan yang secara sistematis dilakukan sejak lahir sampai dewasa. Peradaban negeri ini lahir dari pendidikan dan juga ketauladanan orang tua (ayah/ibu) di lingkungan keluarga dan rumah, pendidikan dan ketauladanan di lingkungan sekolah oleh guru, senior dan alumni, serta pendidikan dan ketauladanan di lingkungan masyarakat oleh berbagai agen-agen perubahan dan tokoh-tokoh masyarakat.
Namun, pendidikan akhlak (keadaban) perlu topangan kecerdasan (IQ) yang cukup agar memahami betapa pentingnya akhlak dalam membangun interaksi sosial di seluruh lingkungan interaksi. Kecerdasan intelektual (IQ) dapat tumbuh bila ada kecerdasan kinesitas (fisik). Disinilah, program ketahanan pangan untuk pencegahan stunting, olahraga dan pembangunan kesehatan masyarakat secara terpadu perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
Kecerdasan intelektual (IQ), Kecerdasan Kinesitas dan Kecerdasan Emosional (Akhlak) akan hancur bila prilaku berbahaya mengkonsumsi narkoba dan berjudi menjadi kebiasaan dan candu. Seluruh kecerdasan akan punah, saraf otak akan rusak, jiwa menjadi kering, tubuh akan malas, penyakit mentalitas dan stress akan datang, dan “sakau” akan menghilangkan segalanya, kehampaan dan kesunyian diri datang, hilang kenalaran dan akal sehat, aturan sosial terhadap diri, keluarga dan masyarakat terabaikan, kacau balau.
Pada level “sakau” yang kacau balau ini, kecerdasan spritual adalah solusi dan benteng terakhir. Peran pendidikan moral dan religus perlu digerakkan bukan hanya menempatkan anak didik dan masyarakat sebagai obyek (sasaran). Perlu gerakan pendidikan keagamaan dan moralitas, yang menempatkan para penuntut ilmu sebagai “subyek” perubahan. Dengan cara tersebut, ilmu keagamaan dan moralitas yang dimiliki, bukan hanya sampai di pengetahuan tersimpan di otak, tetapi teraktualisasi dan bahkan menjadi pendorong tersebarnya kebaikan yang meluas.
Kita prihatin, sakau narkoba, judi dan laku amoral lainnya, menimpa mereka yang juga berlatar pendidikan tinggi dan keagamaan. Pada konteks ini, jejaring interaksi menjadi faktor utama juga menentukan keberlanjutan integritas diri seseorang atau jatuh dalam kehidupan kacau balau. Strategi hidup berkawan dan berjejaring, membangun pulau dan benteng integritas, adalah cara terbaik.
Pulau dan benteng integritas akan menjadi kuat dan terus tumbuh kuat dan maju apabila jejaring integritas ini bergerak bersama menjadi pelopor perubahan dan pengembang integritas. Pro aktif dan bekerjasama, bergotong royong, bergerak bersama adalah kunci membangun ketahanan diri, keluarga dan masyarakat. Bila pasif, kita akan tergerus oleh longsor dan air bah “Republik Fufufafa”.
Terimakasih “Slank”, diultah 42, tetap berkarya secara kreatif dan menginspirasi kita semua untuk terus mengawal negeri agar tidak kacau balau. Teruslah berkarya, musiknya membuat kita “enjoy man” dan tetap kritis. (*)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4843315/original/041301600_1716764000-20240526_123544.jpg)

