FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa kembali menyampaikan pandangannya sebagai ahli Epidemiologi.
Kali ini, ia mengungkapkan analisis yang disebutnya sebagai metasintesis awal terkait perbandingan dua kelompok foto yang ia namai Jokowi 1 dan Jokowi 2.
Dijelaskan Tifa, selama ini beredar pertanyaan di tengah masyarakat mengenai apakah Jokowi 1 dan Jokowi 2 merupakan orang yang sama.
“Saya kembangkan dengan menggunakan perbandingan dua kelompok foto dimana kelompok foto pertama saya sebut Jokowi 1 dan kelompok foto kedua Jokowi 2,” ujar Tifa di X @DokterTifa (6/1/2026).
Ia menegaskan, pendekatan yang digunakan bersifat ilmiah dan berbasis hitung-hitungan.
Baginya, matematika menjadi alat yang objektif dan bebas bias untuk menguji kesamaan atau perbedaan.
“Matematika sebagai Alatnya Allah SWT yang objektif dan bebas bias kita gunakan untuk membuktikan kesamaan atau perbedaan,” sebutnya.
Tifa mengaku menggunakan salah satu model matematika, yakni Teorema Bayesian, dengan pendekatan lintas disiplin ilmu.
“Saya menggunakan salah satu model Matematika yaitu Bayesian Theorema dengan pendekatan Ilmu Epidemiologi, Anatomi, Morfologi, Frenologi, dan Perilaku,” ucapnya.
Sebagai seorang epidemiolog, ia mengatakan bahwa kemampuan berhitung merupakan bagian dari kompetensi profesinya.
“Sebagai Epidemiolog yang merupakan Matematikanya Ilmu Kedokteran, maka bidang hitung-menghitung adalah sebagian dari kompetensi saya,” lanjutnya.
Ia menuturkan bahwa variabel yang dianalisis secara serial diawali dari aspek anatomi morfologi.
Variabel tersebut meliputi bentuk kranium atau tulang kepala, proporsi wajah bagian atas, tengah, dan bawah, hingga struktur rahang dan dagu.
“Meliputi bentuk Cranium atau bentuk kepala dengan cranial outline oval dan rectangural, proporsi wajah meliputi upper, mid, lower facial atau perbandingan bentuk wajah atas, tengah, bawah, dan struktur rahang dan dagu, mandibula dan Menton,” terangnya.
Bukan hanya itu, analisis juga mencakup morfologi hidung, pola rambut, hingga garis rambut atau hairline.
“Selain itu, juga meliputi morfologi hidung, masalah bridge, tip, dan alat, hingga pola rambut dan hairline atau temporal recession density,” Tifa menuturkan.
Seluruh variabel tersebut kemudian dikonversi menjadi angka dan dimasukkan ke dalam rumus Bayesian.
“Kelimanya saya ubah menjadi angka dan saya masukkan dalam rumus matematika Bayesian,” jelasnya.
Ia menyebut hasil perhitungan menunjukkan perbedaan signifikan antara dua kelompok foto tersebut.
“Hasil akhir, persamaan Jokowi 1 dan 2 sebesar 0,29 persen. Perbedaannya, sebesar 99,71 persen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan hasil tersebut melalui pendekatan posterior Bayesian.
“Posterior Bayesian berbasis indikator visual dan anatomi morfologi menunjukkan probabilitas kesamaan antara Jokowi 1 dan Jokowi 2 pada kisaran sub-1 persen,” katanya.
“Probabilitas perbedaan antara Jokowi 1 dan Jojo 2 pada kisaran 99,71 persen,” sambung dia.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Tifa menyimpulkan bahwa dua kelompok foto yang dibandingkan menunjukkan individu yang berbeda.
“Bahasa sederhananya, foto-foto Jokowi versi rambut tebal, hidung mancung, rahang tirus, kacamata, dan kumis dengan foto-foto Jokowi versi rambut tipis, hidung tepes, tanpa kacamata dan tanpa kumis, adalah dua orang yang berbeda, dengan perbedaan sebesar 99,71 persen,” tegasnya.
“Ilmu Bilangan atau Matematika adalah Ilmunya Allah sesuai dengan QS Al Qamar ayat 49, sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan bilangan,” kuncinya.
(Muhsin/Fajar)



