JAKARTA, KOMPAS.com - Permukiman padat penduduk di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kelurahan Klender, Jakarta Timur, menyimpan persoalan yang jarang terlihat dari jalan raya.
Rumah-rumah kecil berdempetan, gang sempit, dan saluran air yang sebagian besar tidak berfungsi optimal menjadi bagian hidup warga di permukiman yang posisinya sekitar tiga meter lebih rendah dari jalan utama itu.
Rahmat Satriono (60), Ketua RW 01 yang telah menjabat selama 20 tahun, mengungkapkan bahwa kondisi sanitasi di wilayahnya begitu jauh dari standar.
Baca juga: Potret Permukiman Padat di Klender, Hidup 3 Meter di Bawah Jalan dengan Infrastruktur Minim
“Rata-rata rumah tidak punya sistem pengolahan air limbah. SPALD-nya (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik) enggak ada. Limbah langsung ke saluran, terus ke kali," kata Rahmat saat ditemui Kompas.com di sekretariat RW 01, Senin (5/1/2026).
Rahmat menjelaskan, pemasangan septic tank di rumah-rumah warga sulit dilakukan karena masing-masing rumah hanya berukuran 4x4 atau 4x5 meter.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=klender, permukiman kumuh, indepth, permukiman padat penduduk, permukiman padat di jakarta&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNi8yMTUzMDg3MS9wZXJtdWtpbWFuLXBhZGF0LWRpLWtsZW5kZXItaGFkYXBpLWtyaXNpcy1zYW5pdGFzaS1nb3QtbWF0aS1oaW5nZ2EtbGltYmFo&q=Permukiman Padat di Klender Hadapi Krisis Sanitasi, Got Mati hingga Limbah ke Kali§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Beberapa fasilitas komunal sempat dibangun, tetapi tidak dipakai karena warga harus menanggung biaya perawatan.
“Sekitar hampir 50 persen rumah di pinggir itu enggak punya MCK yang layak," ujar dia.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa permukiman mulai dihuni sejak awal 1980-an. Saat itu, warga lama memanfaatkan lahan rendah di bawah saluran got untuk membangun rumah.
“Dulu jalan memang sudah tinggi, bukan ditinggikan belakangan," kata Rahmat.
Meskipun sanitasi buruk, Rahmat mengaku warga jarang mengeluhkan masalah kesehatan.
“Warga sudah terbiasa. Nyamuk juga hampir enggak ada di sini. Puskesmas sering kontrol, jadi pas ada kontrol, warga malah enggak buang sembarangan," kata dia.
Genangan Air dan Risiko BanjirSeorang warga bernama Tuti (45) yang tinggal di RT 07 mengungkapkan pengalamannya tinggal di permukiman yang posisinya lebih rendah dari jalan raya.
Baca juga: Pantai Cilincing Menghilang, Terkubur Gunungan Limbah Kulit Kerang
“Kalau hujan gede, air suka masuk ke rumah. Tapi biasanya cepat surut, paling sejam dua jam sudah kering," kata Tuti.
Ia mengaku rumahnya tidak memiliki septic tank dan limbah rumah tangga langsung dialirkan ke got yang bermuara ke Kali Sunter.
Sementara itu, Rono (38), warga RT 06 yang bekerja sebagai ojol, mengatakan bahwa meski permukiman ini berada di lokasi strategis dekat stasiun dan jalan raya, kondisi saluran air di sekitarnya sangat memprihatinkan.
"Gotnya ada, tapi ya begitu. Air ngalir aja. Kalau hujan lokal, kadang ada genangan," ujar Rono.
Ia menyebut banjir besar jarang terjadi, tetapi genangan lokal tetap kerap muncul saat hujan deras.



