Kenapa Istirahat Sering Bikin Rasa Bersalah?

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Istirahat seharusnya sederhana. Tubuh lelah, lalu berhenti sejenak. Pikiran penat, lalu diberi ruang. Tapi bagi banyak orang, istirahat justru datang bersama rasa bersalah. Seolah-olah berhenti sebentar adalah kesalahan kecil yang harus ditebus dengan produktivitas setelahnya.

Rasa bersalah ini jarang muncul begitu saja. Ia tumbuh dari kebiasaan hidup yang menilai manusia dari seberapa sibuk dan bergunanya ia. Sejak lama kita diajarkan bahwa rajin itu baik, malas itu buruk. Masalahnya, istirahat sering keliru dimasukkan ke dalam kategori malas.

Di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, istirahat terlihat seperti kemunduran. Ketika tidak mengerjakan apa-apa, muncul suara kecil di kepala: seharusnya kamu bisa lebih produktif. Padahal tubuh tidak selalu kelelahan karena kurang niat, tapi karena memang butuh berhenti.

Secara biologis, tubuh manusia tidak dirancang untuk terus berada dalam mode aktif. Sistem saraf kita bekerja bergantian antara fokus dan pemulihan. Tanpa jeda yang cukup, konsentrasi menurun, emosi lebih mudah meledak, dan kelelahan menjadi kronis. Istirahat bukan hadiah setelah kerja keras, tapi bagian dari siklus itu sendiri.

Sayangnya, istirahat sering disyaratkan. Kita baru merasa “boleh” berhenti setelah semua tugas selesai. Padahal dalam kenyataannya, daftar tugas jarang benar-benar habis. Selalu ada yang bisa dikerjakan, selalu ada yang tertunda. Akhirnya, istirahat terus ditunda, dan rasa bersalah tetap tinggal.

Rasa bersalah juga muncul karena kita mengukur diri dengan standar orang lain. Melihat orang lain tetap produktif membuat kita merasa tertinggal saat berhenti. Padahal kita tidak tahu apa yang sedang mereka korbankan. Perbandingan ini membuat istirahat terasa seperti kegagalan pribadi.

Belajar beristirahat bukan berarti menjadi tidak bertanggung jawab. Justru sebaliknya. Istirahat yang cukup membantu kita kembali dengan pikiran lebih jernih dan tubuh yang lebih siap. Masalahnya bukan pada istirahatnya, tapi pada cara kita memaknainya.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan kebiasaan berhenti, tapi cara kita memandang berhenti itu sendiri. Istirahat bukan tanda menyerah. Ia tanda bahwa kita mendengarkan tubuh dan pikiran kita.

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling sibuk. Dan istirahat tidak pernah benar-benar menjadi musuh dari usaha—kecuali kita sendiri yang terus menganggapnya demikian.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sekjen PKP Didyk Choiroel Ditunjuk sebagai Komisaris BTN
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rugikan Negara Rp16,8 Triliun, Isa Rachmatarwata Dipenjara 1,5 Tahun
• 16 jam lalusuara.com
thumb
Terungkap Foto Bulan Madu Shin Min Ah dan Kim Woo Bin di Spanyol
• 21 detik laluinsertlive.com
thumb
Presiden targetkan MBG jangkau seluruh desa pada Desember 2026
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Siklon Tropis Jenna di Barat Daya Banten, BMKG Waspadai Gelombang hingga 6 Meter
• 4 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.