Di tengah dunia yang semakin bising—dengan tuntutan karier, ekspektasi sosial, dan hiruk pikuk media sosial—semakin banyak perempuan memilih jalan berbeda: hidup sederhana dan tenang. Pilihan ini sering dianggap aneh, bahkan dipandang sebagai “kemunduran”. Padahal, kesederhanaan justru bisa menjadi bentuk keberanian. Tekanan sosial terhadap perempuan masih begitu kuat. Ada anggapan bahwa perempuan harus menikah di usia tertentu, segera memiliki anak, lalu tetap tampil sukses di pekerjaan. Standar kebahagiaan seolah ditentukan oleh pencapaian yang bisa dilihat orang lain. Namun, semakin banyak perempuan menyadari bahwa mengejar semua hal sekaligus justru membuat diri kehilangan arah. Kesederhanaan hadir sebagai alternatif. Menikmati hal-hal kecil—secangkir kopi di pagi hari, percakapan jujur dengan teman dekat, atau waktu tenang membaca buku—menjadi cara untuk merawat diri. Hidup sederhana bukan berarti menyerah pada mimpi, melainkan memberi ruang untuk bernapas dan mendengar suara hati. Pilihan ini juga menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya serba cepat. Di era ketika semua orang berlomba menunjukkan pencapaian, hidup tenang adalah cara untuk berkata: “Tidak semua kebahagiaan harus divalidasi oleh keramaian.” Perempuan berhak menentukan ritme hidupnya sendiri, tanpa harus selalu mengikuti ekspektasi orang lain. Tentu, jalan ini tidak mudah. Komentar sinis dan pertanyaan berulang seperti “Kapan menikah?” atau “Kenapa tidak mengejar karier lebih tinggi?” masih sering muncul. Namun, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memenuhi standar sosial, melainkan tentang menemukan kedamaian dalam diri. Hidup sederhana dan tenang menjadi cara menjaga kewarasan di tengah dunia yang semakin riuh. Pada akhirnya, setiap perempuan punya hak untuk memilih jalannya sendiri. Ada yang bahagia dengan pencapaian besar, ada yang bahagia dengan kesederhanaan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Karena kebahagiaan bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang paling jujur dengan diri sendiri.





