Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak global melemah seiring dengan kekhawatiran pasokan global yang berlimpah mengimbangi ketidakpastian produksi Venezuela pascapenangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat.
Melansir Reuters pada Rabu (7/1/2026) harga minyak berjangka jenis Brent turun 69 sen atau 1,1% ke level US$61,07 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 79 sen atau 1,4% ke US$57,53 per barel.
Analis PVM Oil, Tamas Varga, menilai masih terlalu dini untuk mengukur dampak penangkapan Nicolás Maduro terhadap keseimbangan pasar minyak global. Namun, dia menegaskan pasokan minyak pada 2026 kemungkinan tetap memadai, terlepas dari ada atau tidaknya peningkatan produksi dari Venezuela yang merupakan anggota OPEC.
“Yang terlihat jelas, pasokan minyak akan mencukupi pada 2026, baik dengan maupun tanpa tambahan produksi dari negara tersebut,” ujarnya.
Morgan Stanley dalam catatan riset terbarunya menyebut permintaan minyak global diperkirakan hanya tumbuh sekitar 900.000 barel per hari (bph) sepanjang tahun lalu, lebih rendah dibandingkan tren historis sebesar 1,2 juta bph.
Di sisi pasokan, produksi minyak OPEC meningkat sekitar 1,6 juta bph, sementara pasokan dari negara non-OPEC bertambah sekitar 2,4 juta bph dalam periode kuartal IV/2024 hingga kuartal IV/2025.
Baca Juga
- Ambisi Kuasai Venezuela, Trump Kumpulkan Bos Minyak AS Akhir Pekan Ini
- OPEC+ Tetap Tahan Produksi Minyak Global walau Venezuela Bergejolak
- Maduro Tumbang, Krisis Utang Venezuela Kembali Mengemuka
“Kondisi ini membuat kedua sumber pasokan memasuki 2026 dengan level yang sangat kuat,” tulis analis Morgan Stanley, seraya menambahkan pasar minyak berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta bph pada paruh pertama 2026.
Hasil jajak pendapat Reuters pada Desember lalu juga menunjukkan pelaku pasar memperkirakan harga minyak akan tetap tertekan pada 2026 akibat meningkatnya pasokan dan lemahnya pertumbuhan permintaan.
Sementara itu, persediaan minyak mentah dan produk minyak AS diperkirakan meningkat pada pekan lalu, berdasarkan survei awal Reuters yang dirilis Senin (6/1/2026). American Petroleum Institute (API) dijadwalkan merilis estimasi persediaan mingguan AS pada Selasa malam waktu setempat, disusul data resmi pemerintah AS pada Rabu.
Penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates menilai, seiring semakin jelasnya surplus minyak global, tekanan penurunan harga berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat.
Tekanan harga juga dapat diperparah oleh penangkapan Maduro oleh AS pada akhir pekan lalu, yang dinilai berpeluang mempercepat berakhirnya embargo minyak AS terhadap Venezuela dan membuka jalan bagi peningkatan produksi.
Pelaku pasar turut memperdebatkan arah pasokan minyak Venezuela ke depan, setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim perusahaan minyak AS siap berinvestasi di negara Amerika Selatan tersebut guna mendongkrak produksi dan ekspor.
Industri minyak Venezuela telah lama mengalami penurunan, terutama akibat minimnya investasi dan sanksi AS. Produksi minyak negara tersebut rata-rata hanya mencapai 1,1 juta bph sepanjang tahun lalu.
Analis Rystad Energy, Janiv Shah, memperkirakan tambahan pasokan Venezuela dalam dua hingga tiga tahun ke depan hanya sekitar 300.000 bph, dengan kebutuhan belanja tambahan yang terbatas.
“Sebagian peningkatan ini dapat dibiayai secara organik oleh PDVSA, tetapi komitmen modal internasional tetap diperlukan untuk mewujudkan target produksi 3 juta barel per hari pada 2040,” ujarnya.




