Prospek Emiten Emas PSAB, ARCI hingga HRTA di 2026 Saat Tensi Geopolitik Memanas

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Sejumlah emiten pertambangan emas di RI bergeliat pada tahun 2025. Kenaikan itu di tengah lonjakan harga emas global dan juga ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Bank Sentral AS hingga memicu ketidakpastian pasar global dan bikin harga emas melonjak sepanjang 2025.

Di samping itu survei Goldman Sachs menunjukkan banyak investor memperkirakan harga emas dapat mencapai rekor baru di US$ 5.000 per troy ounce pada akhir 2026. Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak 58,6% year-to-date, bahkan untuk pertama kalinya menembus level US$ 4.000 pada 8 Oktober. 

Dalam survei terhadap lebih dari 900 klien institusional di platform Marquee Goldman Sachs, sebanyak 36% responden kelompok terbesar memperkirakan harga emas akan tetap melaju dan menembus US$ 5.000 pada tahun depan.  

Sementara itu, 33% responden memprediksi harga akan berada di kisaran US$ 4.500–US$ 5.000. Secara keseluruhan, lebih dari 70% investor institusional optimistis harga emas akan terus naik tahun depan. Hanya sekitar 5% responden yang memprediksi harga bisa turun ke rentang US$ 3.500–US$ 4.000 dalam 12 bulan ke depan.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi tahun ini harga emas dapat mencapai US$ 5.400 sampai US$ 5.700 per ons. Hal ini didukung oleh berbagai faktor, seperti permintaan bank sentral, investor, institusi hingga bank. “Selain itu kondisi geopolitik yang meningkat juga diperkirakan mempercepat kenaikan harga emas,” kata Lukman saat dihubungi Katadata.co.id, Selasa (6/1).

Meski harga naik, menurut Lukman, produksi emas dunia tidak akan jauh berbeda jumlahnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2026 jumlah emas yang ada di dunia mencapai 5 ribu ton, berasal dari hasil penambangan 3.700 ton dan daur ulang emas 1.300 ton.

“Semua produksi emas akan terserap karena angka permintaannya masih lebih tinggi dari pasokan,” ujarnya.

Seiring euforia kenaikan harga emas pada tahun lalu, prospek kinerja industri emas pada tahun ini dinilai masih positif, namun ruang kenaikannya lebih terbatas. Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai potensi upside industri emas tidak akan sebesar tahun sebelumnya.

“Prospek upside untuk industri emas akan lebih terbatas tahun ini dibandingkan tahun lalu,” ucap Ezaridho ketika dihubungi Katadata.co.id, Senin (5/1). 

Ezaridho menilai kenaikan harga emas tahun ini tidak akan setinggi tahun lalu. Setelah melonjak sekitar 75% pada tahun lalu, kata Ezaridho, perlambatan laju naiknya harga emas diperkirakan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakannya ke depan.

NH Korindo merekomendasikan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Sementara itu ada PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) meski bukan perusahaan tambang emas, dinilai proxy pergerakan harga emas karena model bisnisnya terkait industri emas.

Outlook Sektor Pertambangan Emas

Kemudian Henan Putihrai Sekuritas dalam risetnya menyebut kuatnya permintaan emas, terutama dari bank sentral, menyumbang sekitar 17–20% konsumsi global. Sepanjang 2022–2024, pembelian bersih emas oleh bank sentral tercatat lebih dari dua kali lipat rata-rata satu dekade sebelumnya. Tak hanya itu tren ini berlanjut hingga 2025, yang dipimpin oleh bank sentral negara berkembang.

Dari sisi pasokan, produksi emas dinilai masih terhambat dan tersebar, mengingat proses ekstraksi bijih hanya menghasilkan sekitar 0,5–5 gram emas per ton bijih. Secara year-to-date, harga emas telah melonjak sekitar 53% hingga mencapai kisaran US$ 4.000 per ons.

Henan Putihrai juga menilai alasan bank sentral menimbun emas, yakni sebagai lindung nilai di tengah gejolak finansial dan geopolitik, sarana diversifikasi portofolio cadangan devisa di tengah meningkatnya risiko geopolitik. 

Emas juga menjadi bagian dari perubahan strategi cadangan, di mana dalam lima tahun ke depan bank sentral diperkirakan meningkatkan porsi emas dan secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS.

Selain itu, agenda fiskal ekspansif Presiden Trump melalui usulan undang-undang “One Big Beautiful Act” mendorong ekspektasi kenaikan utang dan inflasi serta memicu kekhawatiran terhadap independensi The Fed. Keraguan pasar terhadap disiplin kebijakan tersebut menekan yield riil dan dolar AS sehingga investor beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi dan kredibilitas fiskal.

“Lonjakan harga emas mencerminkan pelarian besar-besaran menuju aset aman di tengah ketidakpastian stabilitas fiskal dan moneter AS,” demikian tertulis dalam Henan Putihrai Sekuritas Indonesia’s 2026 Market Outlook: The New Regime, dikutip Selasa (6/1). 

Henan Putihrai Sekuritas merekomendasikan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

 

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lirik Lagu Rutinitas - Idgitaf
• 13 jam laluinsertlive.com
thumb
Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai Sejak 1980-an
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Berikut Jadwal Lengkap Proliga 2026 Pekan Ini, Venue Pertandingan dan Tim
• 18 menit lalunarasi.tv
thumb
Zodiak Pemalu yang Penuh Perhitungan: Virgo Berpikir Panjang, Pisces Mudah Gugup
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
RI Pantau Ketat Situasi Yaman Selatan, Dorong Penyelesaian Damai
• 14 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.