SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin. Situasi global yang selama ini sudah rapuh oleh perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza, dan rivalitas AS-Tiongkok, membuat konflik ini diprediksi bakal menjadi pemicu gempa geopolitik dunia.
Aksi koboi Presiden Donald Trump jelas membuka tabir bahwa tatanan global kini semakin kehilangan jangkar moral, hukum, dan stabilitas. Ketika tekanan berubah menjadi serangan terbuka, dunia kembali diingatkan bahwa hukum internasional sering kali tunduk pada logika kekuatan.
Prinsip kedaulatan, non-intervensi, dan multilateralisme yang selama ini diagungkan, mendadak tampak seperti jargon kosong ketika berhadapan dengan kepentingan geopolitik raksasa. Masyarakat dunia secara terbuka dipertontonkan bahwa tatanan global berjalan sesuai dengan besarnya kekuatan.
Baca Juga :
Jalani Sidang di New York, Nicolas Maduro Bantah Semua TuduhanBegitu pun dengan negara-negara di Barat. Mereka cenderung bereaksi dengan hati-hati, menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional tanpa secara terbuka mengecam sekutu terpentingnya itu.
Dalam situasi seperti ini, geopolitik global bukan sekadar tidak stabil, melainkan sudah babak belur, tercerai-berai oleh kepentingan sepihak.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat ini ditangkap dan dibawa ke AS. Foto: Truth Social.
Situasi di Venezuela membuat negara-negara di dunia, terutama negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, akan menyadari bahwa tidak ada jaminan keamanan absolut dalam sistem global hari ini. Bahkan, yang terjadi bisa saja potensi menguatnya politik aliansi yang memecah dunia ke dalam blok-blok saling curiga.
Ketika kepentingan energi, ideologi, atau pengaruh regional dipertaruhkan, hukum internasional bisa disingkirkan. Ketidakpastian itu juga bakal memicu efek domino, kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi pasar keuangan.
Baca Juga :
RI Tetap Tenang di Tengah Gejolak AS-VenezuelaKetahanan ekonomi, kemandirian pangan, stabilitas politik domestik, dan kecermatan membaca peta global menjadi fondasi utama agar Indonesia tidak sekadar menjadi korban turbulensi global.
Dalam dunia yang semakin tidak menentu, Indonesia tidak boleh lengah. Bersiap bukan berarti memihak, melainkan memperkuat diri. Bukan untuk ikut dalam konflik, melainkan agar tetap tegak berdiri ketika tatanan global terus bergeser tanpa kepastian arah.



