JAKARTA, KOMPAS.com - Di pinggir jalan depan Jakarta International Expo (JIExpo), Pademangan, Jakarta Utara, lansia bernama Ohar (70) duduk di atas bangku kecil sambil mengawasi setiap pengendara yang lewat.
Ia berharap ada pengendara yang berhenti untuk membeli dagangan kerak telurnya. Setiap ada pembeli, pria asal Garut, Jawa Barat, itu langsung menyambutnya dengan senyuman dan mata berbinar.
"Mau telor ayam atau bebek dan mau berapa?" Kata Ohar sambil tersenyum bertanya kepada pembeli, Selasa (30/12/2025) malam.
Kebanyakan pembeli memilih menggunakan telur bebek karena rasanya gurih, meski harganya lebih mahal dibandingkan telur ayam.
Meski tahu akan lebih mahal dari telur ayam, kebanyakan pembeli memastikan terlebih dahulu harga perporsi kerak telur yang dijual Ohar, karena takut "digetok" harga.
Baca juga: 4 Dekade Tinggal di Bawah Jalan Besar, Warga Klender Menanti Hunian Layak
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, cerita bertahan hidup, bertahan hidup di Jakarta, cerita warga bertahan hidup&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8wOTA4MjM4MS9jZXJpdGEtcGVuanVhbC1rZXJhay10ZWxvci10YWstbWVyb2tvay1kZW1pLWJlcnRhaGFuLWhpZHVwLWRpLWpha2FydGE=&q=Cerita Penjual Kerak Telor, Tak Merokok demi Bertahan Hidup di Jakarta§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Namun, wajah Ohar langsung berubah menjadi khawatir ketika para pembeli menanyakan harga kerak telornya.
Sebab, ia takut apabila dagangannya tak jadi dibeli karena harganya dinilai mahal, meski sudah memasang harga standar.
Ohar menjual satu porsi kerak telor bebek seharga Rp 30.000, sementara untuk telur ayam Rp 25.000.
Harga jual tersebut sudah disesuaikan dengan mahalnya modal yang telah di keluarkan.
Sebab, hampir semua bahan-bahan yang diperlukan untuk berjualan kerak telur mengalami kenaikan yang signifikan saat ini.
"Sekarang modalnya mahal kan, arang Rp 150.000 untuk dua hari, bawang sudah jadi itu Rp 250.000 itu sekilo, kalau kelapa Rp 13.000 satu gelondong," ungkap Ohar.
Belum lagi, harga beras ketan yang tadinya hanya Rp 15.000 per liter, kini naik menjadi Rp 20.000 per liter.
Dalam satu hari, ia selalu membawa dua liter beras ketan untuk 60 porsi kerak telur.
Namun, dua liter beras ketan yang dibawa Ohar jarang sekali habis dalam satu hari dan terpaksa harus ia bawa pulang lagi ke rumah untuk dicuci agar bisa digunakan kembali di esok harinya.
Baca juga: Kisah Kusir Delman di Monas, Sehari-Hari Bergantung pada Wisatawan
Untung Rp 40.000Sudah 17 tahun berdagang kerak telor, Ohar merasa peminat makanan legendaris ini semakin menurun setiap tahunnya.
Dulu, lansia tersebut bisa melayani 60 - 70 porsi kerak telur per harinya dengan harga masih Rp 7.000 per porsi.
Bisa melayani puluhan porsi setiap harinya membuat Ohar menggantungkan hidup di dagangan kerak telurnya selama belasan tahun.
Namun kondisi saat ini jauh berbeda, Ohar sudah jarang sekali melayani puluhan porsi kerak telur setiap harinya.
Berjualan dari pukul 10.00 WIB hingga 24.00 WIB, kerak telur Ohar paling banyak hanya laku delapan porsi. Itu pun tak setiap hari.
Apabila dirata-ratakan, keuntungan yang didapatkan pria paruh baya tersebut kurang dari Rp 50.000 per hari, meski sudah berdagang lebih dari 12 jam.
"Rata-rata paling pendapatannya Rp 300.000 itu kotor ama modal, paling sisa buat makan sekitar Rp 40.000," ungkap Ohar.
Baca juga: Derap Kuda Delman yang Masih Bertahan di Kawasan Monas
Ia mengaku, bertahan hidup di kota Jakarta dengan pendapatan rata-rata Rp 40.000 per harinya cukup sulit.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5381481/original/057661700_1760507064-Ilustrasi_Facebook.jpg)
