Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Rabu (7/1/2026), bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.761 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.758 per dolar AS.
Ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung disebut memberikan sentimen pelemahan terhadap kurs rupiah.
“Untuk hari ini, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS,” ungkap Josua Pardede analis mata uang dilansir dari Antara.
Sebelumnya, pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menculik Nicolas Maduro Presiden Venezuela bersama istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.
Serangan AS itu pun mengundang kecaman luas dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mengkhawatirkan aksi tersebut dapat menjadi preseden yang sangat buruk dalam hubungan internasional.
Ketidakpastian seputar Rupiah juga membebani pasar obligasi, sebagaimana tercermin dalam tren kenaikan surat berharga negara (SBN) sepanjang sesi perdagangan Selasa (6/1/2026).
Tercatat, imbal hasil seri acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun ditutup masing-masing pada 5,49 persen (+2 basis points/bps), 6,10 persen (+1 bps), 6,39 persen (0 bps), dan 6,50 persen (+1 bps).
Volume perdagangan obligasi pemerintah mencapai Rp50,28 triliun pada Selasa (6/1/2026), jauh lebih tinggi dibandingkan Senin (5/1/2026) yang mencapai Rp29,02 triliun.
“Sementara itu, pada lelang SUN tanggal 6 Januari 2026, Kementerian Keuangan menyerap Rp40 triliun dari total penawaran sebesar Rp90,96 triliun,” ujar Josua. (ant/saf/ipg)


