Maduro Tertangkap, Radar Tiongkok Lumpuh, Moskow Diserang Drone: Dunia Bergejolak dalam 72 Jam

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Amerika Serikat secara mengejutkan meluncurkan sebuah operasi militer berskala besar yang langsung mengguncang tatanan geopolitik global. Washington mengumumkan bahwa melalui operasi tersebut, mereka berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.  Kabar ini segera menyita perhatian luas komunitas internasional dan memicu reaksi berantai dari Amerika Latin hingga Eurasia.

Venezuela di Bawah Maduro: Negara yang Kehilangan Fungsi Dasar

Selama bertahun-tahun pemerintahan Maduro, Venezuela secara de facto kehilangan kemampuan tata kelola negara yang efektif. Pemilu dinilai banyak pihak telah berubah menjadi formalitas politik tanpa makna substantif. Aparat militer dan kepolisian terjerat kolusi sistemik dengan kartel kriminal dan jaringan narkotika lintas negara.

Sumber daya nasional dijarah oleh elite korup yang memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan strategis Tiongkok dan Rusia. Dampaknya bukan hanya dirasakan rakyat Venezuela melalui kemiskinan massal dan krisis kemanusiaan, tetapi juga diekspor ke luar negeri dalam bentuk gelombang pengungsi, kejahatan lintas batas, serta distorsi pasar energi global.

Kritik atas “Non-Intervensi” dan Pembenaran Operasi Militer

Jurnalis senior Jepang, Akio Yaita, menegaskan bahwa apabila komunitas internasional terus mengagungkan prinsip “tidak mencampuri urusan dalam negeri” tanpa batas, maka dunia pada hakikatnya sedang membiarkan para diktator menindas rakyatnya atas nama kedaulatan, sekaligus mengekspor instabilitas ke luar negeri.

Dalam konteks ini, operasi militer AS yang berlangsung singkat dengan dampak eksternal minimal dinilai sebagai bentuk “obat keras di masa kacau”. Meski terlihat dingin dan tegas, langkah tersebut dinilai berpotensi menelan korban jiwa jauh lebih sedikit dibandingkan sanksi berkepanjangan, perang proksi, atau perang saudara yang berlarut-larut.

Sinyal Psikologis untuk Beijing, Moskow, dan Pyongyang

Lebih dari sekadar menjatuhkan satu rezim, operasi ini mengirimkan pesan keras: rezim otoriter tidaklah kebal ketika kubu demokrasi benar-benar mengambil keputusan. Menurut Yaita, dampak psikologis dari pesan ini terhadap Beijing, Moskow, dan Pyongyang jauh lebih menghancurkan daripada ribuan pernyataan diplomatik tanpa aksi nyata.

Dia juga menyoroti detail penting sebelum operasi dimulai: Presiden AS, Donald Trump lebih dahulu menelepon Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis bahwa aliansi Jepang–AS kini telah masuk ke rantai pengambilan keputusan aksi nyata, bukan sekadar konsultasi simbolik.

Bagi Taiwan, pesan ini sangat krusial: keamanan tidak ditentukan oleh ancaman musuh, melainkan oleh apakah sekutu benar-benar bertindak saat momen genting tiba.

Radar Tiongkok Lumpuh: Demonstrasi Teknologi Militer AS

Dari sisi militer, dampak operasi ini juga langsung menyasar Beijing. Pengamat Taiwan Wang Haoyu mencatat bahwa inti sistem pertahanan udara Venezuela mengandalkan radar buatan Tiongkok JY-27, yang selama ini diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman seperti F-22 dan F-35.

Namun dalam operasi ini, setelah militer AS melancarkan perang elektronik intensif, radar-radar tersebut dilaporkan lumpuh total dan gagal memberikan peringatan dini. Angkatan udara Venezuela ditekan habis bahkan sebelum mampu lepas landas.

Ini menjadi demonstrasi terbuka bahwa konsep Anti-Access/Area Denial (A2AD) Tiongkok sangat rapuh di hadapan teknologi siluman dan peperangan elektronik Amerika.

Dampak Energi Global: Rusia dan Tiongkok Paling Terpukul

Peneliti senior CSIS Clayton Swope menyatakan bahwa jika Washington benar-benar mendorong perubahan rezim, maka pihak yang paling tidak aman justru Rusia dan Tiongkok, dua negara dengan kepentingan strategis terbesar di sektor energi Venezuela.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yang layak dikembangkan, namun karakter minyaknya yang sangat kental membuat biaya produksi tinggi dan membutuhkan teknologi khusus. Penentu masa depan Venezuela bukan semata kilang minyak, melainkan stabilitas politik—sesuatu yang hampir selalu absen selama era Maduro.

Hingga kini, pemerintahan Trump masih mempertahankan pembatasan ekspor minyak Venezuela dan sanksi sistematis terhadap individu serta entitas terkait, dengan tujuan memaksa perubahan arah politik. Selama kebijakan ini tidak berubah, peran Venezuela di pasar energi global akan tetap terbatas.

Bagi Tiongkok, dampaknya sangat signifikan. Selain sebagian kecil minyak yang dikirim Chevron ke Teluk Meksiko, hampir seluruh ekspor minyak Venezuela mengalir ke Beijing. Preseden bahwa AS dapat menggunakan sanksi hingga kekuatan militer untuk memengaruhi negara pengekspor energi menjadi alarm keras bagi semua importir energi.

Rusia di Bawah Tekanan: Dari Minyak hingga Drone

Bagi Rusia, risiko bahkan lebih besar. Perusahaan minyak Rusia telah lama terlibat di Venezuela. Jika AS memperkuat kontrolnya, Moskow berpotensi kehilangan akses sepenuhnya. Selain itu, terdapat armada tanker bayangan yang digunakan bersama oleh Venezuela, Iran, dan Rusia untuk menghindari sanksi. Jika operasi AS meningkatkan risiko dan biaya armada ini, tekanan langsung akan menghantam ekspor energi Rusia.

Tekanan itu terasa nyata pada malam 5 Januari 2026, ketika Moskow mengalami serangan drone terbesar sejak awal tahun. Ledakan terdengar berulang kali, dan empat bandara utama—Vnukovo, Domodedovo, Zhukovsky, dan Sheremetyevo—ditutup atau dibatasi operasinya, menyebabkan sekitar 200 penerbangan tertunda atau dibatalkan.

Rusia mengklaim menembak jatuh 20–40 drone di sekitar Moskow dan 253 drone di 14 wilayah, meski hingga kini belum ada verifikasi visual independen.

Serangan paling signifikan terjadi di Yelets, sekitar 300 km selatan Moskow, di mana sebuah pabrik militer pemasok sistem tenaga rudal dan drone terbakar hebat—menandakan target prioritas Ukraina kini merambah jauh ke kedalaman strategis Rusia.

Eskalasi Perang Ukraina dan Bayang-bayang Iran

Di medan tempur, Ukraina menunjukkan peningkatan kemampuan. Pada awal Januari, jet MiG-29 Ukraina menjatuhkan bom terpandu ASM Hammer ke jembatan logistik penting di wilayah Pokrovsk, menghancurkannya total. Selain itu, rudal jelajah jarak jauh Ukraina “Flamingo” dilaporkan memiliki jangkauan hingga 3.000 km, cukup untuk menjangkau wilayah industri Rusia.

Sementara itu, laporan The Times mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian B ke Moskow jika situasi domestik runtuh. Mantan agen intelijen Israel, Beni Sabti menyatakan bahwa Khamenei praktis tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Di dalam negeri Iran, protes ekonomi besar sejak akhir 2025 telah menewaskan puluhan orang dan memicu tantangan langsung terhadap kepemimpinan tertinggi.

Pada 4 Januari 2026, Trump memperingatkan Teheran dari Air Force One bahwa pembantaian demonstran akan berujung pada “konsekuensi berat”. Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS merilis video berbahasa Persia dengan pesan singkat namun mengancam: “Pergi sekarang.”

Meski Iran membalas dengan pernyataan keras, banyak pengamat menilai kepercayaan diri elite Teheran kini tak lagi sekuat sebelumnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Basarnas Sulut Bagikan Internet Gratis untuk Korban Banjir Bandang di Sitaro
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
China Layangkan Protes karena AS Incar 50 Juta Barel Minyak Venezuela
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Keterbatasan Armada Jadi Penyebab Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Catatan Dahlan Iskan: Timtim Maduro
• 13 jam lalugenpi.co
thumb
Penampakan Gunungan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.