Reli saham-saham konglomerat, khususnya Grup Bakrie, menjadi penopang utama kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026.
IDXChannel – Reli saham-saham konglomerat, khususnya Grup Bakrie, menjadi penopang utama kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026.
Dorongan tersebut turut membawa IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level 8.970 pada perdagangan Rabu (7/1/2026) pagi, setelah berulang kali menembus level puncak baru sejak awal pekan ini.
Apabila menilik data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham tambang milik Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), melonjak sekitar 25 persen dalam sepekan terakhir dan diperdagangkan di level Rp462 per saham, tertinggi sejak Mei 2017.
Saham Grup Bakrie lainnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), juga melambung sekitar 21 persen dalam sepekan, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di level Rp865 pada perdagangan pagi ini.
Sementara itu, saham besutan pengusaha Happy Hapsoro turut mencuri perhatian. Emiten sektor minyak dan gas (migas) PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tercatat menyentuh rekor tertinggi di level Rp8.125 per saham pada perdagangan Rabu pagi.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, saham-saham konglomerat masih menjadi perhatian pelaku pasar pada tahun ini.
“Jika kita melihat saham-saham Prajogo Pangestu yang hampir semua saham sudah masuk indeks, yang menarik di tahun ini adalah saham Bakrie dan Happy Hapsoro,” ujar Michael, Rabu (7/1).
Menurut dia, daya tarik utama saham-saham milik para konglomerat tersebut terletak pada likuiditasnya yang tinggi.
Selain itu, ia menyebut saham-saham milik konglomerat lain juga patut dicermati investor. “Saham-saham dari konglomerat Sinarmas juga bisa dilirik,” katanya.
Sebelumnya, Michael menilai saham-saham konglomerat masih berpeluang melanjutkan reli pada 2026, seiring pergeseran besar dalam struktur industri pengelolaan dana global.
Menurut dia, pasar tengah memasuki fase ketika fund pasif kian dominan dibandingkan fund aktif, baik dari sisi jumlah maupun ukuran aset kelolaan. Kondisi ini, kata Michael, membawa implikasi langsung terhadap pola alokasi investasi di pasar saham.
“Kita menyambut era di mana passive fund jumlah dan size-nya lebih besar daripada active fund,” ujarnya, pada 24 Desember 2025.
Ia menjelaskan, mayoritas fund pasif mengandalkan metode berbasis indeks dalam berinvestasi. Akibatnya, perhatian investor global akan semakin tertuju pada saham-saham yang memiliki bobot besar di indeks utama.
“Seperti yang kita ketahui, kebanyakan passive fund menggunakan metode indeks dalam berinvestasi,” kata Michael.
Dalam konteks ini, saham-saham konglomerat dinilai berada di posisi yang menguntungkan. Pasalnya, emiten-emiten tersebut umumnya memenuhi persyaratan kapitalisasi pasar minimum untuk masuk ke dalam konstituen indeks global.
“Hal ini menjadi sorotan terhadap saham-saham konglomerat yang rata-rata memiliki requirement minimal market cap cukup besar untuk bisa masuk ke dalam konstituen indeks, terutama MSCI dan FTSE,” ujarnya.
Dengan latar tersebut, Michael berpandangan tren penguatan saham konglomerasi masih berlanjut pada 2026, meski dengan dinamika yang tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Sementara, Founder WH Project William Hartanto menilai fenomena saham-saham konglomerat, yang ia juga sebut sebagai new blue chips, berpotensi mencapai fase puncak pada 2026.
“Fenomena new blue chips bisa mencapai puncaknya di 2026,” katanya, pada 24 Desember 2025.
Namun, ia mengingatkan bahwa fase tersebut justru bisa diwarnai dengan pergerakan yang cenderung melambat.
Menurut William, kejenuhan beli berpeluang membuat laju harga saham-saham tersebut tidak lagi seagresif sebelumnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



