Jakarta: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan keterbukaannya terhadap kritik konstruktif dari masyarakat. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Perayaan Natal Nasional di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Senin, 5 Januari 2026. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam evaluasi kebijakan agar pemerintahan dapat berjalan lebih baik.
Prabowo mengakui bahwa rasa tidak nyaman saat menerima kritik atau koreksi adalah hal yang manusiawi. Namun, ia menilai kritik justru berperan sebagai pelindung bagi seorang pemimpin.
Baca Juga :
Presiden Prabowo Ingin Swasembada Tiap Tahun“Kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan,” ujar Prabowo seperti dikutip dari Live Event Metro TV, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia juga mengungkapkan, kritik dari masyarakat kerap mendorongnya untuk meninjau ulang kebijakan maupun langkah yang telah diambil. Setiap masukan tersebut, kata Prabowo, selalu ia telaah secara objektif sebagai bahan perbaikan dalam pengambilan keputusan ke depan.
“Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak ‘Prabowo mau hidupkan lagi militerisme’. Saya koreksi lagi, apa benar? Saya panggil ahli hukum untuk mengkaji mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” ujar Presiden menambahkan.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan agar kritik tidak bergeser menjadi fitnah. Ia menilai kebohongan yang memicu kecurigaan, perpecahan, dan kebencian justru berpotensi merusak persatuan bangsa.
Dalam menyikapi hal tersebut, Prabowo menegaskan bahwa jawabannya bukan sekadar pernyataan, melainkan kerja nyata yang dapat dibuktikan.
“Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja,” tegasnya.
(Adrian Bachtiar)




