Perang Saudara Menggila di Arab, Korban Sipil Berjatuhan

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: REUTERS/Mahmoud Hassano

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Suriah utara mencapai titik didih pada Selasa (6/1/2026). Bentrokan paling mematikan sejauh ini pecah antara pasukan pemerintah Suriah dan pejuang Kurdi di wilayah yang diperebutkan di kota Aleppo. Insiden ini terjadi di tengah buntunya upaya integrasi pasukan Kurdi ke dalam militer nasional.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa seorang tentara tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat. Media pemerintah juga menyebutkan tiga warga sipil tewas dan sembilan pegawai Direktorat Pertanian Aleppo terluka akibat penembakan yang dituduhkan kepada SDF.

Pihak SDF dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Melalui pernyataan resminya, SDF mengklaim bahwa proyektil yang jatuh di lingkungan al-Midan berasal dari faksi-faksi yang berafiliasi dengan pemerintah Damaskus. SDF justru menuding balik militer pemerintah telah meluncurkan serangan drone yang menewaskan seorang penduduk di wilayah Sheikh Maqsoud serta melukai dua anak-anak.


Baca: Awas Perang Baru Arab Memanas, Saudi Bombardir Yaman

"Penembakan membabi buta ini merupakan serangan langsung terhadap area pemukiman dan membahayakan nyawa warga sipil secara serius," tulis pernyataan SDF.

Dampak dari pertempuran ini sangat dirasakan oleh warga sipil. Di Rumah Sakit Al-Razi Aleppo, suasana haru menyelimuti keluarga korban. Ahmad Abu Sheikh, seorang ayah, menunggu dengan cemas putrinya yang berusia 4 tahun, Fatima, yang harus menjalani operasi berjam-jam akibat terkena serpihan peluru.

"Saya hanya ingin tahu, apa yang harus saya katakan pada putri saya saat melihatnya nanti? Di mana matanya pergi?" ujarnya setelah mengetahui Fatima harus kehilangan satu matanya.

Konflik ini merupakan cerminan dari sulitnya menyatukan kekuatan militer di Suriah pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 lalu. Sejatinya, pemerintahan transisi di bawah Presiden Interim Ahmad al-Sharaa telah menandatangani kesepakatan pada Maret 2025 untuk melebur SDF ke dalam tentara nasional.

Namun, implementasinya terhambat oleh sejarah permusuhan.Banyak faksi dalam tentara nasional Suriah yang baru merupakan mantan pemberontak dukungan Turki, yang secara historis merupakan musuh bebuyutan pasukan Kurdi. Turki sendiri menganggap SDF sebagai organisasi teroris karena hubungannya dengan PKK.

Baca: Iran Chaos! Puluhan Tewas dalam Demo Berdarah, AS Mau Ikut-ikutan

Kementerian Pertahanan Suriah menuduh SDF mencoba menggagalkan kesepakatan 10 Maret dan menyeret tentara ke dalam pertempuran terbuka. Sebaliknya, SDF menyebut serangan pemerintah sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang secara sistematis menargetkan infrastruktur penting seperti air dan listrik.

Meskipun ketenangan sempat kembali pada Selasa malam, bentrokan dilaporkan kembali berkobar hanya dalam hitungan jam, menandakan rapuhnya stabilitas di wilayah utara Suriah.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video:Prabowo Umumkan Keberhasilan RI Capai Swasembada Pangan Nasional

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
“Venezuela Meledak: Trump Masuk, Dana Rahasia Elite PKT Terancam, Khamenei Siapkan Rencana Kabur”
• 20 jam laluerabaru.net
thumb
Datangi Kemenhut, Kejagung Bantah Kabar soal Penggeledahan, Tetapi...
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Video: Kapal Tanker Disita AS, Rusia Ingatkan As Picu Ketegangan Baru
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Banjir kembali rendam sejumlah kecamatan di Aceh Timur
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Demo Buruh di Monas Hari Ini, 1.659 Aparat Gabungan Dikerahkan
• 17 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.