Selama musim libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Taman Ismail Marzuki menjadi destinasi favorit warga Jakarta. Puluhan ribu pengunjung memadati kawasan ini untuk menikmati wisata edukatif dan budaya, dengan Planetarium sebagai primadona utama.
Taman Ismail Marzuki (TIM) tak sekadar panggung seni, tetapi juga primadona wisata edukatif di jantung Jakarta. Di bawah sentuhan manajemen PT Jakarta Propertindo (Jakpro), TIM sukses memikat kembali hati publik.
Hal ini tercermin dari catatan Direktur Utama Jakpro, Iwan Takwin, yang menyebutkan bahwa selama periode 22 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, kawasan legendaris Cikini ini dikunjungi sebanyak 67.198 orang.
Antusiasme yang besar menjadi sinyal kuat bahwa warga Jakarta sedang rindu ruang publik yang menawarkan interaksi budaya dan pengetahuan, bukan sekadar hiburan semata.
Di tengah antusiasme tersebut, Teater Bintang Planetarium Jakarta muncul sebagai primadona. Fasilitas yang mati suri lebih dari 13 tahun ini menjadi magnet yang menyedot lebih dari 5.500 pengunjung selama musim libur sekolah tersebut.
Tiket pertunjukan selalu ludes terjual setiap harinya, baik melalui war tiket daring di Loket.com maupun antrean langsung (on the spot) di lokasi. Skema pembagian kuota tiket 50:50 terbukti efektif menjaga keadilan akses bagi masyarakat.
Fenomena tiket yang selalu habis dalam hitungan menit ini ditegaskan oleh Iwan sebagai indikator bahwa literasi sains kini memiliki daya pikat yang setara dengan hiburan populer.
”Banyaknya pengunjung Planetarium Jakarta menjadi indikator bahwa wisata edukasi memiliki daya pikat yang sangat kuat dalam mendorong pariwisata Jakarta yang berkualitas. Fasilitas seperti Planetarium memainkan peran sebagai jembatan literasi sains yang dapat diakses oleh masyarakat luas,” ujar Iwan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/1/2025).
Lebih dari sekadar memutar film bintang, TIM sedang membangun ekosistem masa depan. Planetarium kini tidak hanya menjual nostalgia, tetapi menawarkan pengalaman imersif kelas dunia dengan teknologi proyeksi langit terbaru dan simulasi tata surya berbasis data sains terkini.
Bahkan, dalam waktu dekat, Iwan mengatakan, pengunjung akan disambut oleh AI Virtual Host, yakni pemandu digital cerdas yang direncanakan menggunakan representasi figur Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Inovasi ini untuk menyiratkan pesan bahwa pemerintah daerah hadir mendukung penuh integrasi teknologi dan edukasi.
Selain aktivasi Planetarium Jakarta, kawasan TIM selama musim liburan juga diramaikan oleh berbagai kegiatan, mulai dari konser musik, event komunitas, konferensi, pameran, hingga beragam program seni dan budaya.
Penguatan ekosistem TIM juga ditandai dengan hadirnya Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated. Hotel ini menawarkan 139 kamar, mulai dari tipe standar hingga suites.
Mengusung tema “Cultural Symphony, Artistic Hospitality”, hotel ini dirancang oleh arsitek ternama Indonesia, Andra Matin, yang memadukan nuansa seni dan budaya dengan desain modern dan minimalis.
Paviliun Raden Saleh diharapkan menjadi destinasi pilihan strategis bagi seniman, budayawan, pekerja kreatif, serta pemangku kepentingan yang mendukung berbagai kegiatan seni dan budaya di TIM.
Menurut Iwan, kolaborasi lintas sektor ini semakin menegaskan posisi TIM sebagai pusat seni dan budaya bertaraf nasional maupun internasional.
”Kami mendorong TIM tidak hanya sebagai pusat pertunjukan, tetapi sebagai ekosistem kreatif yang hidup dan berkelanjutan,” ujar Iwan.
Iwan mengatakan, integrasi antara Planetarium Jakarta, ruang-ruang seni budaya, serta fasilitas pendukung seperti Paviliun Raden Saleh merupakan bagian dari komitmen Jakpro dalam membangun ruang publik yang relevan dengan kebutuhan kota modern.
Keberhasilan TIM selama musim liburan ini diharapkan menjadi fondasi bagi inovasi berkelanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata Jakarta, yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada pengetahuan.
Head of Strategic Business Unit (SBU) Taman Ismail Marzuki Jakpro, Anya Christina, menjelaskan bahwa untuk mengatur kunjungan ke Planetarium, TIM menerapkan skema paruh rata, yakni 50 persen tiket dijual daring dan 50 persen melalui loket on the spot (OTS). Planetarium menggelar empat sesi pertunjukan dengan kapasitas 200 tiket per sesi.
”Kami memahami tingginya antusiasme masyarakat ke Planetarium Jakarta, sehingga pengelolaan kuota dilakukan secara terukur agar penonton tetap nyaman dan aman. Saat ini, ada empat pertunjukan dalam sehari, dengan pembagian kuota tiket 50 persen online dan 50 persen OTS agar lebih adil,” ujarnya.
Anya menegaskan, kuota tiket per sesi sudah disesuaikan dengan kapasitas kursi, sehingga tidak memungkinkan adanya penambahan penonton di luar kuota, demi menjamin keamanan, kenyamanan, dan kualitas pengalaman edukasi pengunjung.
Untuk mendukung transparansi, Jakpro memperkuat sistem ticketing terintegrasi, sehingga seluruh data pengunjung tercatat rapi dan praktik percaloan atau penyalahgunaan tiket dapat diminimalkan.
Planetarium TIM menawarkan pengalaman lebih dari sekadar pertunjukan di Teater Bintang. Pengunjung dapat mengamati benda langit secara langsung melalui teleskop observatorium Asko dan Takahashi, serta menjelajahi ruang pameran edukatif yang menyimpan koleksi menarik, mulai dari baju luar angkasa hingga fragmen batu meteor asli.
Anya menuturkan, Planetarium Jakarta tidak beroperasi pada hari Senin dan hari libur nasional. Selain itu, terdapat perbedaan waktu tayang antara hari kerja dan akhir pekan untuk menyesuaikan kenyamanan pengunjung.
Mulai Januari 2026, pembagian sesi pertunjukan Teater Bintang Planetarium Jakarta dibedakan berdasarkan hari operasional. Pada Selasa, Rabu, dan Kamis, dua sesi awal (show 1 dan show 2) dikhususkan untuk rombongan sekolah.
Sementara itu, show 3 yang digelar pukul 15.30 WIB dan show 4 pada pukul 18.30 WIB dibuka untuk pelajar dan masyarakat umum. Selanjutnya, pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, seluruh sesi pertunjukan dari show 1 hingga show 4 dapat diakses oleh pengunjung umum. Namun, show 2 dimulai pukul 14.00 WIB dan show 3 dimulai pukul 16.00 WIB.
Untuk pembelian tiket secara langsung, loket dibuka satu jam sebelum pertunjukan dimulai dengan kuota terbatas di setiap sesi. Setiap pertunjukan menyediakan 70 tiket umum, 20 tiket pelajar, serta 5 tiket bagi pengunjung difabel beserta pendamping.
Adapun jam operasional loket OTS disesuaikan dengan jadwal pertunjukan. Untuk show 1, loket dibuka pukul 09.00–10.00 WIB. Show 2 melayani pembelian tiket pada pukul 12.00–13.00 WIB untuk Selasa hingga Kamis, dan pukul 13.00–14.00 WIB pada Jumat hingga Minggu.
Sementara itu, loket show 3 dibuka pukul 14.30–15.30 WIB pada Selasa hingga Kamis dan pukul 15.00–16.00 WIB pada Jumat hingga Minggu. Untuk show 4, loket tiket tersedia setiap hari operasional pada pukul 17.30–18.30 WIB.
Bagi warga yang berencana berkunjung, Anya mengimbau untuk terus memantau kanal media sosial atau Instagram resmi Taman Ismail Marzuki (@tim.cikini) serta akun resmi Jakpro guna memperoleh informasi terbaru terkait jadwal pertunjukan.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap wisata edukasi antariksa di Planetarium Jakarta, Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan tengah mematangkan rencana untuk menambah kapasitas layanan. Salah satu opsi yang dikaji adalah menambah frekuensi pertunjukan (show) harian di Teater Bintang.
”Rupanya semua orang ingin hadir. Sekarang kan sudah berjalan empat show. Ada permintaan untuk menambah satu show lagi,” ujar Pramono di Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026) sore.
Dengan tambahan pertunjukan, diharapkan kepadatan pengunjung bisa terurai sehingga pengalaman menonton menjadi lebih nyaman.
Selain penambahan jadwal pertunjukan, Pramono juga mempertimbangkan akses tiket yang lebih inklusif. Saat ini, pembagian tiket dilakukan secara seimbang, yakni 50 persen melalui pembelian daring dan 50 persen melalui pembelian langsung di lokasi.
Adapun rencana ke depan adalah memperbesar porsi tiket OTS agar warga yang datang langsung dapat lebih banyak terlayani.
”Sekarang kami sedang mempertimbangkan untuk dibagi lagi. Show-nya ditambah, serta tiket untuk orang yang datang langsung diperbanyak,” tuturnya.
Ananda (25), warga Cikini, setuju atas rencana penambahan show di Teater Bintang Planetarium. Ia menilai langkah ini sangat membantu mengurangi antrean panjang yang kerap terjadi saat liburan atau akhir pekan.
”Kapasitas empat show saat ini masih kurang karena banyak keluarga dan pelajar yang datang. Penambahan kuota OTS juga akan sangat membantu masyarakat yang tidak terbiasa membeli tiket secara daring,” ujar Ananda, Rabu.
Meski demikian, ia berharap kualitas pengalaman menonton tetap terjaga. Ananda juga berharap fasilitas seperti teleskop observatorium dan ruang pameran edukatif dapat dimanfaatkan secara maksimal, serta ada panduan atau kegiatan tambahan yang membuat pengunjung lebih mudah memahami materi pertunjukan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5313542/original/006368300_1755009869-ChatGPT_Image_Aug_12__2025__09_37_15_PM.jpg)

