Motivasi Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela mulai terbuka. Di balik isu politik dan keamanan, terlihat upaya perebutan sumber daya strategis, mulai dari minyak hingga mineral kritis.
Hal ini telah dinyatakan secara gamblang oleh Presiden Donald Trump. Tak lama setelah mengumumkan serangan terhadap Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro, Trump mendorong perusahaan minyak dan gas Ameirka Serikay untuk masuk ke Venezuela.
Berdasarkan data Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC, cadangan minyak global mencapai 1,57 triliun barel pada 2024. Dari jumlah tersebut 19% atau 303,22 miliar barel cadangan minyak berada di wilayah Venezuela. Negara Amerika Latin ini tercatat sebagai pemilik cadangan paling banyak, melampaui Arab Saudi.
Selain memiliki cadangan minyak terbesar, Venezuela juga diperkirakan memiliki cadangan besar pada sejumlah komoditas mineral kritis yang diduga menjadi incaran Trump, meski datanya masih simpang siur.
Direktur Program Mineral Kritis Center for Strategic & International Studies (CSIS) Gracelin Baskaran menduga cadangan mineral kritis juga menjadi incaran Trump. Namun, sulit menemukan data pasti berapa jumlah cadangan mineral kritits yang dimiliki negara Amerika Latin ini.
Berdasarkan pemberitaan di New York Times pada 25 Desember 1956, Venezuela telah menemukan deposit bijih dalam skala besar yang cadangannya diperkirakan mendekati minyak bumi di negara tersebut. Namun tujuh dekade setelahnya, industri pertambangan mineral negara ini tetap marginal,terfragmentasi, dan terbelakang.
Adapun berdasarkan data tingkat aset dari 24 tambang penghasil emas yang teridentifikasi mengungkapkan bahwa Venezuela memiliki perkiraan 74,98 juta ons emas, setara dengan sekitar 2.343 ton di dalam tanah. Pada skala tersebut, kekayaan emas geologis Venezuela berpotensi signifikan.
Sebagai perbandingan, cadangan emas resmi di Amerika Serikat berjumlah 8.133 ton, 3.350 ton di Jerman, 2.452 ton di Italia, 2.437 ton di Prancis, 2.330 ton di Rusia, dan 2.303 ton di Tiongkok. Ini menempatkan Venezuela di peringkat kelima untuk cadangan emas secara global.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat konflik AS-Venezuela tidak bisa dilepaskan dari motif ekonomi, khususnya perebutan cadangan sumber daya alam. Menurutnya, kepentingan Amerika Serikat bukan hanya pada minyak Venezuela, tetapi juga pada cadangan mineral kritis yang dimiliki negara tersebut.
Di titik inilah, relevansi dengan Indonesia menjadi kuat. “Indonesia memiliki mineral kritis yang sangat besar,” kata Faisal kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).
Komoditas ini sangat strategis ini sangat strategis dalam rantai pasok industri global. Terutama untuk baterai dan kendaraan listrik.
Faisal menilai, AS kini tengah agresif mengejar akses terhadap mineral kritis, termasuk Indonesia. Hal ini terlihat dalam berbagai sinyal renegosiasi hubungan dagang sebelumnya.
Masuknya AS ke sektor ini berpotensi membawa sisi positif, terutama jika mampu menciptakan kompetisi investasi. Selama ini pengolahan mineral kritis didominasi investor dari Cina.
“Kalau AS juga bisa masuk berinvestasi itu akan bagus. Tapi ada syaratnya. Apakah ingin menguasai, mengambil, mengeruk dengan tambangnya ataku seperti Cina dengan masuk di industri pengolahannya. Jadi membangun smelter,” ujarnya.
Faisal menjelaskan, pembangunan smelter bisa menciptakan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan kawasan industri menjadi kunci. Jika tidak, investasi justru berisiko mengulang pola lama eksploitasi sumber daya tanpa manfaat jangka panjang.
Dampak Harga Komoditas MenguatDi sisi lain, Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menilai Indonesia justru berpeluang memetik keuntungan sebagai negara yang relatif netral.
“Kenapa? Karena dengan tensi geopolitik yang meningkat, sebenarnya ada imbas positif terkait dengan beberapa harga komoditas yang justru dimiliki atau diproduksi oleh Indonesia,” kata Myrdal.
Ketegangan geopolitik cenderung mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas, dan sebagian di antaranya merupakan andalan Indonesia. Ia mencontohkan, harga emas dan nikel yang mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Indonesia banyak produksi dan dampaknya positif buat kita,” ujarnya.
Konflik AS dan Venezuela juga berpotensi meningkatkan pasokan minyak global jika AS berhasil mendorong produktivitas Venezuela. Bagi Indonesia sebagai net oil importer, Myrdal menilai hal ini justru menguntungkan karena bisa menekan harga minyak dunia dan mengurangi bahan impor energi.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menambahkan, dampak ke neraca perdagangan Indonesia juga akan relatif terbatas. “Karena hubungan dagang RI dan Venezuela relatif sangat kecil, tidak lebih dari 1% persen dari total ekspor impor Indonesia,” kata Rizal.



