Saat aktivitas akademik belum dimulai, dapur di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah berdenyut. Sebanyak 93 orang berjibaku sejak pukul 02.00 dini hari, menyiapkan, mengolah, dan mengemas bahan baku menjadi ribuan porsi makanan. Rutinitas ini merupakan bagian dari operasional program Makan Siang Berkah (MSB), kebijakan internal UMY yang menyediakan konsumsi harian bagi seluruh pegawainya.
Berjalan sejak awal Juli 2025, program MSB mendistribusikan sekitar 1.600 porsi makanan setiap hari kerja, Senin sampai Jumat. Semua pegawai bisa ikut makan, tak hanya dosen dan tenaga kependidikan (tendik), melainkan juga tenaga outsourcing seperti petugas kebersihan, petugas parkir, dan personel keamanan.
Dari sisi manajemen, UMY mengalihkan penyediaan konsumsi dari pihak luar ke UMB Boga yang merupakan unit katering internal milik universitas. Anggaran yang dialokasikan untuk MSB mencapai sekitar Rp500 juta per bulan, atau secara akumulatif menyentuh angka Rp6 miliar per tahun. Nilai tersebut dihitung berdasarkan biaya per porsi sebesar Rp15 ribu untuk 1.600 paket selama 22 hari kerja setiap bulannya.
“Yang dilihat oleh UMY adalah bukan dari segi nominalnya, tetapi dari segi keberkahannya,” kata Rektor UMY, Achmad Nurmandi, kepada Pandangan Jogja, Jumat (19/12).
Achmad yang menjabat sebagai Rektor UMY periode 2024–2029 merupakan pencetus program MSB. Menurutnya, program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. “Jadi kita mencoba (agar) karyawan itu tidak hanya bekerja di sini, tapi juga mereka merasa at home di sini dengan diberikan makan siang, nyaman. Jadi mereka nggak ke mana-mana gitu loh (untuk membeli makan). Idenya begitu,” tuturnya.
Diakui sejumlah pegawai UMY, terutama tenaga operasional, kehadiran makan siang di tempat kerja membantu mengurangi pengeluaran harian. Sebelum program MSB berjalan, mereka biasanya membawa bekal dari rumah atau membeli makanan sendiri saat jam istirahat. “Sangat mengirit sekali mas, bisa mengurangi paling nggak Rp15 ribu per hari,” ungkap salah satu karyawan yang ditemui Pandangan Jogja di lingkungan UMY.
Menu MSB tidak diberikan secara asal-asalan, melainkan harus memenuhi standar gizi sebagaimana ditekankan oleh Achmad. “Saya minta supaya gizinya tuh cukup. Misalnya ada proteinnya, ada karbo, ada nabatinya,” tegas sang Rektor. UMB Boga menyajikan menu yang bervariasi setiap harinya, mulai dari ayam woku pada hari Senin, bandeng di hari Selasa, hingga pecel lele setiap Jumat. Setiap porsinya mencakup lauk utama, lauk pendamping, olahan sayur, kondimen, dan buah.
“Untuk menu Maksiber (MSB) sendiri kami biasanya sudah membuat selama satu bulan full untuk kami berikan ke para konsumen di UMY, dan kami biasanya men-share seminggu sekali," kata Manajer UMB Boga, Arif Budiman.
Hemat Anggaran Konsumsi hingga Rp4 MiliarMeski menghabiskan anggaran sebesar Rp6 miliar—angka yang mungkin terdengar besar bagi sebagian orang—, program MSB sebenarnya justru menghemat anggaran konsumsi di UMY hingga 40 persen. Sebelumnya, anggaran konsumsi kampus mencapai Rp10 miliar per tahun dan pengadaannya hanya di kegiatan tertentu, seperti rapat fakultas, jurusan, atau agenda institusional lainnya. Dalam skema tersebut, kampus menyediakan nasi kotak dan snack box dengan anggaran sekitar Rp25 ribu per orang, dan hanya diberikan kepada peserta kegiatan.
Melalui program MSB, biaya makan per porsi memang ditekan menjadi Rp15 ribu. Namun, konsumsi bergizi ini jadi bisa dinikmati oleh seluruh pegawai, tak terbatas bagi peserta rapat saja. Selain juga, tentunya, makanan sudah pasti tersedia setiap hari.
UMY juga melakukan perubahan pada aspek distribusi konsumsi. Kini, UMB Boga tidak lagi menggunakan kemasan sekali pakai seperti nasi kotak, melainkan beralih menggunakan wadah permanen berupa termos dan kontainer kecil yang dapat digunakan berulang kali. Penggunaan wadah pakai ulang ini turut berdampak pada berkurangnya volume sampah kemasan dari aktivitas konsumsi di kampus.
“Makan siang barokah itu kan supaya orang tidak beli tidak beli makanan di sudah dikemas. Kan ada ada sampah di situ. Kalau kita kasih makan siang kan mereka enggak enggak ada kemasan kemasan-kemasan untuk membungkus makanan toh,” pungkas Achmad.





