Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Pernyataan tersebut disampaikan Andi Amran Sulaiman dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat.
Ia menyebut Nilai Tukar Petani per Desember 2025 mencapai 125,35 persen yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
"Capaian swasembada pangan juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani Desember 2025 tercatat 125,35, tertinggi sepanjang sejarah," ungkapnya.
Rata-rata Nilai Tukar Petani sepanjang 2025 tercatat sebesar 123,26 yang juga menjadi yang tertinggi dalam 33 tahun terakhir.
Dari sisi ekonomi makro, sektor pertanian mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 10,52 persen pada triwulan I 2025 yang menjadi capaian tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Pertumbuhan tersebut kembali menegaskan peran sektor pertanian sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Seluruh capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor," ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada kementerian dan lembaga terkait, TNI, Polri, asosiasi petani, BUMN pangan, serta seluruh petani Indonesia yang dinilai menjadi pilar utama keberhasilan swasembada pangan.
"Atas nama petani Indonesia, kami mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Bapak Presiden. Harga gabah naik, harga pupuk turun, ketersediaan pupuk banyak. Sekali lagi, swasembada ini kerja terbaik Kabinet Merah Putih dari gagasan Presiden dan seluruh petani Indonesia," katanya.
Keberhasilan swasembada pangan turut mendorong peningkatan cadangan beras pemerintah yang mencapai rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025.
Stok cadangan beras pemerintah saat ini berada di kisaran 3,24 juta ton setelah dilakukan penyaluran untuk penanganan bencana dan pengendalian harga.
Dengan tercapainya swasembada, Indonesia resmi menghentikan impor beras yang berdampak pada penurunan permintaan di pasar internasional.
Harga beras dunia tercatat turun tajam dari sekitar 660 dolar Amerika Serikat per metrik ton menjadi sekitar 368 dolar Amerika Serikat per metrik ton atau turun 44,2 persen.
Swasembada pangan didukung peningkatan produksi yang masif melalui intensifikasi pertanian dengan benih unggul, program pompanisasi, optimasi lahan, modernisasi irigasi, peremajaan alat mesin pertanian, serta percepatan pencetakan sawah baru.
Pemerintah juga memperkuat penyaluran pupuk bersubsidi melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025 yang menyederhanakan 145 regulasi dan menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.
Kebijakan agresif penyerapan gabah dilakukan dengan menugaskan Perum Bulog membeli gabah langsung di lapangan dengan skema any quality dan harga Rp6.500 per kilogram.
Kebijakan tersebut mendorong pengadaan beras tahun 2025 menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan tercapainya swasembada pangan nasional yang menandai kembalinya kejayaan pangan Indonesia.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Yang penting hari ini saudara memberi bukti yang nyata. Saudara telah mencatat tonggak penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan mengucap bismillah pada 7 Januari 2026, saya Presiden Prabowo Subianto mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan bagi rakyat Indonesia,” kata Presiden.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area pengamatan November 2025, Badan Pusat Statistik memprediksi produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,71 juta ton yang melampaui kebutuhan domestik.
Indonesia sebelumnya pernah mencapai puncak kejayaan pangan pada 1984 dengan cadangan beras nasional mencapai 2 juta ton.
Pada 1985, Presiden Soeharto menerima penghargaan internasional dari Food and Agriculture Organization di Roma dan Indonesia bahkan menyalurkan bantuan beras ke negara-negara Afrika.
“Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya, saya diundang panen raya dan pengumuman resmi bahwa Indonesia berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan,” ujar Presiden Prabowo.
Lebih dari empat dekade setelah 1984, sejarah kejayaan pangan Indonesia kembali terulang dalam satu tahun pemerintahan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454002/original/095902900_1766546189-1000114224.jpg)

