Pada tulisan kali ini, saya akan kembali mengulas cerita perjalanan menuju gunung tertinggi di Jawa Tengah, yaitu Gunung Slamet. Catatan ini adalah buah perjalanan yang sengaja kuabadikan sebagai panduan bagi kalian yang ingin menggapai puncak tertinggi tanah Jawa Tengah.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, pahami dulu karakter Gunung Slamet. Sebab, mendaki bukan sekadar menanjak, tapi soal membangun kedekatan dengan alam yang kita tuju.
Informasi SingkatBerdiri gagah sebagai atap tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet menyimpan pesona samudra awan di ketinggian 3.428 mdpl. Raksasa yang tertidur panjang ini menduduki posisi kedua sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa dan secara administratif terdapat di lima kabupaten sekaligus (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes).
Penamaan "Slamet" memiliki makna yang mendalam. Dalam bahasa Jawa, Slamet berarti aman atau selamat. Di balik keindahannya, terselip mitos ramalan Jayabaya yang konon letusan besar gunung ini sanggup membelah Pulau Jawa menjadi dua karena posisinya yang berada tepat di tengah.
Oleh sebab itu, nama tersebut disematkan sebagai sebuah harapan agar sang raksasa tetap tenang dan senantiasa memberikan perlindungan bagi masyarakat di bawah kakinya.
Bagi kalian yang ingin bertamu, tersedia tujuh pintu masuk resmi, seperti jalur Baturaden, Bambangan, Kaliwadas, Kaliguara, Sawangan, Gunung Malang, dan Permadi Guci. Pada pendakian kali ini, kami memilih jalur Bambangan karena merupakan jalur tercepat dan juga cukup landai. Di jalur ini, terdapat juga warung yang jumlahnya sangat banyak, di hampir setiap pos.
Persiapan PerjalananPerjalanan kali ini saya lalui bersama adik dan om. Sejujurnya, mendaki ke sini bukanlah rencana awal kami. Gunung Slamet menjadi destinasi alternatif setelah rencana pendakian ke Gunung Gede di akhir tahun 2025 terpaksa batal karena penutupan sementara.
Begitu mendengar kabar tersebut, kami segera mencari informasi tentang Gunung Slamet dan merombak total persiapan—mulai dari fisik, perlengkapan, hingga logistik.
Kami memulai perjalanan dari Terminal Pasar Senen menggunakan bus menuju Terminal Bobotsari, Purbalingga. Bus berangkat pada 22 Desember 2025 pukul 19.30 WIB dan tiba di tujuan sekitar pukul 04.30 pagi keesokan harinya. Setibanya di Purbalingga, teman baik saya membantu kami dengan mengantar ke titik awal pendakian di Basecamp Bambangan.
Perjalanan Hari PertamaSetelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan mobil, kami tiba di basecamp. Sebelum mulai menanjak, kami menyempatkan diri untuk sarapan dan juga kembali mengecek satu per satu perlengkapan di dalam tas. Di sana, kami juga bertemu dengan Pak Fardan selaku guide yang akan mendampingi perjalanan kami.
Beruntungnya, urusan pendaftaran pun sudah dibantu olehnya, sehingga kami bisa lebih fokus bersiap. Tepat pukul 08.30—setelah semua dirasa aman—kami mulai mengenakan carrier dan siap melangkahkan kaki untuk memulai pendakian.
BC Bambangan - Pos 1 Pondok GembirungMengawali perjalanan dari basecamp menuju pos 1, kami memutuskan untuk menjajal jasa ojek Gunung Slamet yang mendebarkan. Dengan tarif Rp70.000 sekali jalan, menurut kami ini sangat sebanding (worth it) untuk memangkas waktu menjadi 15 menit saja, mengingat jika berjalan kaki bisa memakan waktu hingga dua jam.
Sebagai gambaran, jalur menuju pos 1 ini diawali dengan melewati area perkebunan warga, sebelum akhirnya memasuki area hutan pinus milik Perhutani, dengan medan tanah dan bebatuan.
Pos 1 Pondok Gembirung - Pos 2 Pondok WalangSetibanya di pos 1, kami singgah sejenak di salah satu warung. Sembari menunggu kedatangan Pak Fardan, kami melakukan pemanasan dan mendokumentasikan suasana awal pendakian. Begitu beliau tiba, kami berdoa agar perjalanan ini diberi kelancaran. Tepat pukul 09.12, petualangan pun dimulai. Dari total 9 pos yang ada di jalur Bambangan ini, kami menargetkan untuk membangun tenda dan bermalam di pos 5.
Trek menuju pos 2 sebenarnya tergolong landai, meski sesekali kami tetap harus menjumpai tanjakan khas pegunungan. Sejak awal, kami sudah sepakat agar jalan santai saja tidak terburu-buru. Saya mengambil posisi di depan untuk mengatur pace berjalan agar ritme napas kami tetap terjaga. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya kami tiba di pos 2 tepat pukul 10.16.
Pos 2 Pondok Walang - Pos 3 Pondok CemaraUsai beristirahat sekitar 10 menit sambil mengisi tenaga dengan gorengan dan minuman di warung, kami pun melanjutkan perjalanan. Medan menuju pos 3 mulai menunjukkan "wajah" aslinya yang semakin terjal.
Di tengah perjalanan, kami sempat melewati pos bayangan yang dikelilingi pohon-pohon berlumut, spot yang cukup estetik untuk berfoto. Tepat pukul 11.30, kami akhirnya menginjakkan kaki di pos 3 setelah menempuh waktu sekitar satu jam perjalanan.
Sama seperti pos 2, terdapat juga warung pada pos 3, sehingga kami pun memanfaatkan kursi yang ada untuk beristirahat sejenak selama 10 menit kembali.
Pos 3 Pondok Cemara - Pos 4 SamarartnhuPerjalanan dilanjutkan. Setelah berjuang kembali selama kurang lebih 50 menit, kami tiba di pos 4 pada pukul 12.24. Berbeda jauh dengan pos-pos sebelumnya, di sini tidak ada warung maupun kursi kayu. Hanya ada area datar yang terbilang sempit, mungkin hanya cukup untuk menampung sekitar 4 hingga 5 tenda saja jika dalam keadaan darurat atau pendakian malam.
Pos 4 Samarartnhu - Pos 5 Samhyang RangkahDi pos 4, kami beristirahat selama 10 menit. Meskipun areanya terbilang sempit, pos ini cukup terbuka, sehingga kami bisa meluruskan kaki sambil sedikit menikmati pemandangan di sekitar. Setelah energi dirasa cukup, kami kembali memanggul carrier untuk menuju pos 5. Jalur kembali menanjak dan setelah 40 menit meniti trek, kami akhirnya tiba di pos 5 Samhyang Rangkah tepat pukul 13.12 WIB.
Pos 5 Samhyang RangkahPos 5 adalah spot mendirikan tenda terbaik. Areanya sangat luas, memiliki shelter, warung, dan sumber mata air. Begitu sampai, om saya yang baru pertama kali mendaki langsung tergoda aroma menggoda dari salah satu warung dan segera memesan seporsi Pop Mie.
Melihat awan mendung yang mulai mendekat, saya dan Pak Fardan bergegas mendirikan tenda, sementara adik saya mulai menyiapkan peralatan memasak agar semua urusan beres dengan cepat. Benar saja, saat kami sedang memasang flysheet, rintik hujan mulai turun. Beruntung, tenda sudah berdiri kokoh, sehingga kami bisa langsung mengungsi ke dalam.
Selesai dengan urusan tenda, saya membantu adik menyelesaikan masakan. Sekitar pukul 15.00, kami selesai makan, merapikan kembali peralatan masak, dan melaksanakan salat. Sore itu, kami habiskan dengan beristirahat total untuk memulihkan tenaga.
Magrib pun tiba. Kami terbangun untuk menunaikan salat Magrib yang dijama dengan Isya. Suasana malam yang dibasuh hujan, ditambah hangatnya hidangan makan malam, menciptakan momen yang sangat nikmat. Setelah mencuci semua peralatan masak dan merapikan logistik, kami kembali masuk ke dalam sleeping bag untuk beristirahat karena esok adalah summit attack.
Perjalanan Hari KeduaPos 5 Samhyang Rangkah - Pos 6 Samhyang KetebonanAlarm kami berbunyi, menandakan sudah pukul 02.00 dini hari. Satu persatu kami terbangun dan masih dalam keadaan mengantuk, mencoba membangunkan satu sama lain. Pagi itu dimulai dengan menyeduh minuman hangat dan menyantap nasi goreng instan sebagai "bahan bakar" utama sebelum mendaki puncak.
Usai makan, kami mengemas daypack berisi air minum, camilan, kompor, dan nesting untuk berjaga-jaga jika rasa lapar melanda di tengah jalan.
Tepat pukul 03.10, summit attack dimulai. Dengan jaket dan headlamp yang sudah kami gunakan, kami menembus dinginnya malam. Perjalanan menuju pos 6 terasa seperti "bonus" karena hanya dalam 20 menit berjalan santai, kami sudah sampai di titik tersebut.
Pos 6 Samhyang Ketebonan - Pos 7 Samhyang KenditKami tak beristirahat di pos 6. Selain karena tidak terdapat kursi ataupun shelter, kami rasa juga masih sanggup untuk melanjutkan. Trek mulai terasa semakin sempit, vegetasi merapat dan sesekali kami harus melewati semacam "lorong" tanah. Setelah perjalanan 30 menit, kami akhirnya tiba di plang pos 7 tepat pada pukul 03.58 WIB.
Pos 7 Samhyang Kendit - Pos 8 Samhyang JampangSetibanya di pos 7, kami akhirnya berisitirahat. Seperti biasa, kami tidak ingin tubuh menjadi terlalu dingin, jadi 10 menit dirasa cukup. Perjalanan berlanjut menuju pos 8 dan perjalanan ke pos ini bisa dibilang "bonus" karena hanya dalam 15 menit, plang pos 8 sudah terlihat di depan mata. Namun, treknya lebih menanjak dibandingkan sebelumnya.
Pos 8 Samhyang Jampang - Pos 9 PelawanganKami memutuskan untuk langsung saja menuju ke Pos 9 Pelawangan karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 04.21. Di sini batas vegetasi sudah mulai terlihat, dengan minimnya pohon tinggi dan trek yang kemudian didominasi oleh batuan dan kerikil. Pemandangan kota purbalingga sudah sangat terlihat jelas dari sini, sekitar 30 menit berjalan akhirnya kami tiba di Pos 9 Pelawangan pada pukul 04.51.
Kami memutuskan untuk kembali beristirahat sejenak sekaligus menunaikan salat subuh, sebelum melakukan last push menuju puncak. Di pos 9, tak lagi ada tumbuhan yang tumbuh, paling hanya semak belukar yang keras mengakar. Pemandangan lereng gunung Slamet terhampar sangat indah, membuat kami semakin mengagumi keindahan-Nya.
Pos 9 Pelawangan - Puncak SejatiKetika kami melihat ke atas, tantangan sesungguhnya telah menanti. Jalur menuju puncak kini sepenuhnya berubah menjadi hamparan kerikil dengan bongkahan batu sedimentasi berukuran besar. Tanjakan yang semakin terjal dan medannya yang labil seolah menjadi ujian terakhir bagi siapa pun yang ingin berpijak di titik tertinggi Jawa Tengah.
Tepat pukul 05.10 WIB, kami memulai langkah terakhir menuju puncak. Jalur kerikil dan bebatuan ini terasa seolah tanpa ujung. Namun, setelah satu jam berjuang melawan lelah, kaki kami akhirnya berpijak di Puncak Sejati Gunung Slamet, titik tertinggi di Jawa Tengah.
Rasa syukur langsung membuncah saat menyaksikan lautan awan yang menampakkan kemegahannya. Di sini—di hadapan mahakarya sang Pencipta—kami benar-benar merasa kecil. Kami pun segera mengabadikan momen ini sebanyak-banyaknya, sembari sesekali membantu pendaki lain untuk juga mendokumentasikan momen ini.
Perjalanan TurunTak terasa, jarum jam sudah menunjuk ke angka 07.21. Matahari yang mulai menyengat seolah memberi isyarat bahwa perjumpaan kami dengan puncak harus segera diakhiri. Perjalanan turun awalnya terasa melegakan karena seluruh jalur kini terlihat jelas.
Namun, ada momen lucu yang mewarnai perjalanan kami. Adik saya mendadak jadi sangat penakut saat menghadapi trek kerikil. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, khawatir terpeleset dan jatuh, yang tentu saja jadi bahan candaan kami sepanjang jalan.
Kami tiba kembali pos 5 sekitar pukul 10.00 pagi. Tanpa membuang waktu, pembagian tugas kembali dilakukan. Saya dan om sibuk mengepak perlengkapan, sementara adik saya langsung berjibaku dengan alat masak untuk menyiapkan makan siang terakhir kami di atas gunung. Setelah perut kenyang dan tenaga sedikit pulih, kami memutuskan untuk berjalan turun pada pukul 11.50.
Sayangnya, langit tak lagi bersahabat. Perjalanan turun kami ditemani hujan deras yang awet, seolah tak mau berhenti mengiringi langkah kami hingga tiba di pos 1. Begitu sampai di batas hutan tersebut, kami tak pikir panjang lagi dan langsung kembali menggunakan jasa ojek untuk cepat-cepat sampai ke basecamp.
Setibanya di basecamp, perasaan lega luar biasa langsung menyerbu. Kami segera melepaskan carrier yang berat, meluruskan kaki, dan langsung bergantian mandi. Segar sekali rasanya mengganti pakaian basah dengan baju kering. Setelah itu, kami merapikan kembali barang bawaan dan mengganti sepatu gunung yang penuh lumpur dengan sandal santai.
Sama seperti saat keberangkatan, teman saya sudah bersiap menjemput untuk mengantar kami menuju stasiun kereta. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan Purbalingga, kami menyempatkan diri untuk makan besar terlebih dahulu untuk menghilangkan lapar yang sudah tidak bisa diajak kompromi agar di kereta kami bisa istirahat dengan tenang.
Akhir KataBerhasil menapakkan kaki di Puncak Sejati Gunung Slamet—titik tertinggi di Provinsi Jawa Tengah—adalah sebuah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya. Terima kasih setulusnya saya ucapkan kepada adik dan om saya yang telah membuat perjalanan ini terasa begitu hangat dan tak terlupakan.
Tak lupa, apresiasi setinggi-tingginya untuk Pak Fardan dan teman baru lainnya, yang bukan hanya menjadi pendamping perjalanan, melainkan juga sahabat baru yang sangat sabar menghadapi setiap tantangan di jalur pendakian ini.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467284/original/085184900_1767869292-9.jpg)
