Tolong Disimak, Ini Dampak Buruk Menikah Muda

jpnn.com
1 hari lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) buka suara terkait isu menikah muda yang didengungkan oleh seorang konten kreator di media sosial, Azkiave.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono mengatakan, menunda pernikahan saat usia dini dan muda menjadi salah satu investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia.

BACA JUGA: Ammar Zoni dan Dokter Kamelia Sudah Diizinkan Menikah, Tetapi....

Karena itu, isu menikah pada usia 19 tahun perlu ditanggapi dari sisi demografi. Sebab, keputusan menikah muda sangat berpengaruh pada kesehatan reproduksi, pendidikan, karier, psikologis, hingga ekonomi.

"Edukasi untuk menunda pernikahan merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia. Dengan remaja yang sehat, terdidik, dan produktif, Indonesia dapat memaksimalkan potensi bonus demografi dan membangun masa depan bangsa yang lebih kuat dan berkelanjutan," kata dia dikutip Kamis (8/1).

BACA JUGA: 17 Tahun Menikah, Marissa Anita: Tidak Ada yang Saya Sesali

Budi menegaskan, edukasi untuk tidak menikah muda bukan berarti menolak pernikahan, melainkan mendorong pernikahan yang direncanakan dengan matang.

Karena pernikahan yang dilakukan pada usia dan kondisi yang tepat justru lebih berpeluang menciptakan keluarga yang sehat, harmonis, dan sejahtera.

Menurut dia, ketika individu menikah pada usia yang lebih matang, mereka biasanya memiliki pendidikan lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih stabil.

Rumah tangga seperti ini cenderung lebih produktif, mampu menabung, dan berinvestasi.

"Anak-anak mereka juga lebih berpotensi mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang baik. Dalam skala besar, hal ini meningkatkan kapasitas investasi, daya beli masyarakat, memperkuat basis pajak, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.

Selain itu, Budi menambahkan, menikah muda seringkali menyebabkan pendidikan terhenti, terutama bagi perempuan.

Karena ketika pendidikan terputus, kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan menjadi terbatas.

"Dari perspektif demografi, rendahnya tingkat pendidikan penduduk akan menurunkan kualitas tenaga kerja nasional. Pendidikan adalah kunci utama mobilitas sosial dan peningkatan produktivitas, sehingga nikah muda dapat menghambat pembangunan manusia secara keseluruhan," ucap Budi Setiyono.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menkeu Buka Peluang Tambah Batas Defisit APBD 2026 Jika Hal Ini Terpenuhi
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hakim Tolak Eksepsi Delpedro Cs, Jaksa Diminta Hadirkan Saksi
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
KOI Apresiasi Pemerintah atas Bonus Atlet SEA Games 2025
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Tebu Telur, Bagian Tebu yang Jarang Diketahui dan Ternyata Bisa Dimakan
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Resmikan Sekber GKSR Bersama Partai Non-Parlemen, Perindo: Upaya Konsolidasi Lebih Intens
• 14 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.