JAKARTA - Hanya dalam kurun waktu setahun, pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto berhasil mewujudkan cita-cita swasembada pangan. Bukti tersebut terlihat dari jumlah cadangan beras pemerintah yang mencapai 3,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Prabowo menyebut swasembada pangan sebetulnya ditargetkan dapat dicapai dalam waktu empat tahun. Berkat kerja keras dan kerja sama yang solid dari para jajarannya, swasembada pangan dapat terwujud lebih cepat.
“Waktu saya dilantik menjadi Presiden, saya beri target empat tahun swasembada pangan. Terima kasih saudara-saudara bekerja keras, bersatu, kompak, sehingga satu tahun kita sudah swasembada. Satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki sendiri. Satu tahun kita tidak tergantung bangsa-bangsa lain,” kata Prabowo saat berpidato dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, dikutip Kamis (8/1/2026).
Tercapainya swasembada pangan merupakan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, berdaulat, dan mandiri. Kemandirian pangan sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa.
Prabowo menuturkan Indonesia pernah terancam krisis pangan akibat ketergantungan pada impor. Pada masa pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, Indonesia sempat kesulitan mendapatkan pasokan beras dari luar negeri.
Oleh karena itu, momentum swasembada beras kali ini dinilai sangat tepat dan relevan. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri.
“Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau pangannya tergantung bangsa lain. COVID adalah pembuka mata, peringatan, lampu kuning bagi bangsa Indonesia agar jangan mau tergantung bangsa lain. Apalagi untuk pangan, juga untuk energi,” tegasnya.
Selain pangan, Prabowo juga meyakini Indonesia dapat mandiri dalam pemenuhan kebutuhan energi. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi yang besar, sehingga swasembada bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya adalah pengelolaan yang benar serta keberpihakan kepada petani dan nelayan.
“Bagaimana bisa negara yang begitu besar, diberi karunia tanah yang subur, tetapi tergantung bangsa lain untuk pangan. Kita impor pangan tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya. Dan saya tidak habis pikir, puluhan tahun para petani dan nelayan kita kurang dihormati, kurang dibela, dan kurang dilindungi,” ujar Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan, menurunkan harga pangan serta sarana produksi pertanian, dan memastikan hasilnya benar-benar dirasakan oleh rakyat.
“Kemenangan ini adalah kemenangan rakyat. Dan ini baru awal. Kita akan buktikan swasembada ini kita jaga, kita ulangi, dan kita pertahankan setiap tahun,” tutupnya.
Original Article



