DUNIA kembali memasuki fase paling rapuh dalam tata hubungan internasional. Ketegangan geopolitik yang meningkat pasca operasi Amerika Serikat di Caracas, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro menjadi penanda penting bahwa era stabilitas global pasca Perang Dingin semakin menjauh. Peristiwa ini menjadi simpul krisis yang berpotensi mengguncang keamanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi global secara bersamaan.
Venezuela bukan negara biasa dalam peta geopolitik energi dunia. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat, pada awal 2023 Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah terbukti, setara kurang lebih 17% dari cadangan global.
Angka ini jelas menempatkan Venezuela pada posisi yang bahkan melampaui beberapa negara besar lain, misalnya Kanada dengan 163 miliar barel (Januari 2024) dan Irak dengan 145 miliar barel (2023), sementara Rusia berada pada kisaran 58 miliar barel (1 Januari 2024).
Sehingga, dalam logika pasar energi, guncangan politik pada negara dengan “bantalan cadangan” sebesar ini hampir pasti memunculkan risk premium, memperbesar volatilitas harga, dan pada akhirnya menekan negara-negara pengimpor energi, terutama di Global South yang ruang fiskalnya jauh lebih sempit.
Geopolitik Energi dan Logika Kekuasaan GlobalMerujuk pada kajian keilmuan, energi selalu dipahami sebagai instrumen kekuasaan. Daniel Yergin (1991) dalam The Prize menegaskan bahwa sejarah modern tidak dapat dilepaskan dari perebutan dan penguasaan sumber daya energi.
Minyak, sejak awal abad ke-20, bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga senjata geopolitik. Penangkapan Presiden Venezuela harus dibaca dalam kerangka geopolitik energi, yakni upaya negara kuat mengamankan akses dan kontrol atas sumber daya strategis.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=krisis energi, krisis pangan, perdamaian dunia, minyak bumi, ketahanan energi, serangan as ke venezuela&post-url=aHR0cHM6Ly9pbnRlcm5hc2lvbmFsLmtvbXBhcy5jb20vcmVhZC8yMDI2LzAxLzA4LzA4Mjg1NTgxL2VuZXJnaS1wYW5nYW4tZGFuLWJheWFuZy1iYXlhbmcta3Jpc2lzLWdsb2JhbA==&q=Energi, Pangan, dan Bayang-Bayang Krisis Global§ion=Internasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Dalam perspektif realisme klasik (Morgenthau, 1948), negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional dan distribusi kekuasaan. Norma hukum internasional sering kali menjadi subordinat ketika kepentingan strategis dipertaruhkan. Namun, tindakan Amerika Serikat dengan menangkap kepala negara di ibukota negaranya sendiri menciptakan ketidakpastian struktural di pasar energi global.
Alih-alih menenangkan pasar, konflik justru memunculkan risk premium yang mendorong volatilitas harga minyak dunia. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
Krisis Energi dan Efek Domino terhadap PanganKrisis energi hampir selalu berjalan beriringan dengan krisis pangan. Hubungan keduanya bersifat struktural. Produksi pangan modern bergantung pada energi, mulai dari pupuk berbasis gas alam, mekanisasi pertanian, hingga distribusi dan logistik.
Amartya Sen (1981) dalam Poverty and Famines mengingatkan bahwa kelaparan bukan semata persoalan ketersediaan pangan, melainkan akses ekonomi terhadap pangan. Ketika harga energi meningkat akibat ketegangan geopolitik, biaya produksi dan distribusi pangan ikut melonjak. Pada titik inilah krisis energi berubah menjadi krisis pangan.
Selain itu, dalam kerangka complex systems theory (Bar-Yam, 1997), sistem global saat ini bersifat saling terhubung dan rentan terhadap gangguan. Guncangan di satu titik, seperti konflik geopolitik di Venezuela, dapat memicu dampak berantai di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara dengan ketahanan pangan dan energi yang rapuh.
Ketidakpastian Geopolitik dan Rapuhnya Tata DuniaPeristiwa di Venezuela juga menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan tata kelola global. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dunia berupaya membangun sistem internasional berbasis aturan (rules based international order). Namun, penangkapan kepala negara oleh kekuatan asing menunjukkan semakin kaburnya batas antara hukum internasional dan politik kekuasaan.
Immanuel Wallerstein (1974) melalui world systems theory menjelaskan bahwa sistem dunia cenderung mempertahankan ketimpangan antara negara pusat dan pinggiran. Krisis Venezuela dapat dibaca sebagai ekspresi terbaru dari relasi asimetris tersebut, di mana negara kaya sumber daya tetapi lemah secara politik menjadi arena perebutan kepentingan global.
Konsekuensinya adalah meningkatnya ketidakpercayaan antarnegara, fragmentasi pasar global, serta melemahnya kerja sama multilateral. Dalam jangka panjang, situasi ini berisiko memicu perlombaan penguasaan sumber daya dan memperbesar potensi konflik terbuka di berbagai kawasan.
Di tengah situasi global yang semakin tidak pasti, pelajaran terpentingnya yakni urgensi membangun ketahanan energi maupun pangan. Ketergantungan berlebihan pada sistem global yang rapuh justru memperbesar kerentanan ketika krisis geopolitik terjadi. Diversifikasi sumber energi, percepatan transisi energi terbarukan, serta penguatan produksi pangan domestik bukan lagi sekadar agenda pembangunan semata, melainkan strategi bertahan hidup dalam sistem dunia yang semakin tidak stabil.
Di saat yang sama, penguatan multilateralisme dan penghormatan terhadap kedaulatan negara tetap menjadi prasyarat penting untuk mencegah dunia jatuh ke dalam spiral krisis berkepanjangan. Krisis Venezuela merupakan cermin bagi dunia, bahwa di era ketidakpastian geopolitik, energi dan pangan bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal keamanan, kedaulatan, dan masa depan peradaban global.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang




