Pasar modal bakal kedatangan dua perusahaan yang akan mencatatkan perdana sahamnya atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal I 2026 ini. BEI sudah membocorkan sektornya, yakni dari infrastruktur dan pertambangan.
Berdasarkan rumor pasar, PT Anugrah Neo Energy Materials disebut-sebut sebagai calon perusahaan yang akan melantai di bursa. Informasi yang beredar di kalangan pasar modal menyebutkan Neo Energy telah menyelesaikan tahap registrasi awal IPO dan kini memasuki tahap edukasi investor dalam waktu dekat.
Merujuk laman resmi perusahaan, Neo Energi pertama kali beroperasi pada 2007 dengan mengantongi izin tambang di Morowali, Sulawesi Tengah. "Izin ini menjadi landasan awal bagi asset yang kelak menandai Langkah kami memasuki sektor pertambangan," tulis manajemen seperti dikutip Kamis (8/1).
Katadata.co.id sudah berupaya mendapatkan konfirmasi dari manajemen Neo Energy mengenai kabar IPO ini. Namun hingga berita ini ditayangkan belum ada informasi resmi dari perusahaan.
Lalu seperti apa profil usaha Neo Energy?Merujuk laman resmi perseroan, Neo Energy merupakan perusahaan energi yang berkomitmen untuk mentransformasi lanskap energi global melalui pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) yang berkelanjutan. Perusahaan memimpin inovasi di seluruh rantai nilai baterai kendaraan listrik (EV), mulai dari ekstraksi dan pengolahan hingga pengembangan teknologi katoda canggih.
Pendekatan Neo Energy mengintegrasikan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dengan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung ekosistem EV secara menyeluruh dari tambang hingga pasar.
Adapun misinya berfokus pada percepatan ekonomi hijau melalui pengelolaan komoditas secara bertanggung jawab dan pemanfaatan energi terbarukan yang berdampak. Pada 2024, penjualan bijih nikel Neo Energi mencapai 2,2 juta wmt.
“Kami juga mendapatkan persetujuan RKAB baru dengan kapasitas produksi maksimum 2,5 juta wmt hingga 2026,” ujar manajemen.
Baru Akuisisi Aset TambangSeiring dengan pengembangan usaha, perusahaan tercatat baru memperluas basis dengan mengakuisisi PT Multi Dinar Karya (MDK), operator konsesi pertambangan nikel Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah. Akuisisi ini menambahkan tambang produksi kedua ke portofolio dan diversifikasi sumber bijih nikel.
Dengan tambang Tojo Una-Una MDK, Neo Energy optimistis bisa memperkuat keamanan pasokan bijih untuk pabrik pengolahan perusahaan kedepannya dan memperoleh skala yang lebih besar dalam operasi hulu. Penambahan area konsesi baru tidak hanya meningkatkan cadangan dan potensi produksi, tetapi juga semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia terintegrasi untuk pasar bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pada September 2024 lalu, Neo Energy melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk proyek High-Pressure Acid Leaching (HPAL) yang berlokasi di Kawasan Industri Neo Energy Morowali (NEMIE). Pembangunan smelter HPAL ini disebut menjadi pembangunan smelter pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada saat peletakan batu pertama menyatakan proyek baterai HPAL Neo Energy ini diharapkan akan mampu menambah kapasitas MHP nasional sebanyak 120 ribu MT per tahun.
Raksasa Baterai Cina Gandeng Neo EnergyRumor yang beredar itu juga menyebut bahwa raksasa baterai ternama sekaligus mitra strategis Volkswagen Group asal Cina, Gotion High-Tech akan resmi bergabung sebagai mitra strategis Neo Energy.
Skemanya, Gotion dikabarkan akan mengambil porsi saham pada proyek HPAL (High-Pressure Acid Leaching) milik ANEM. Perusahaan juga akan menyediakan transfer teknologi dan jaminan pembelian (offtake) untuk produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Selain itu, Gotion juga disebut akan bertindak sebagai standby buyer dalam rencana IPO ANEM. Namun hingga saat ini belum diketahui berapa besaran porsi dan nilai investasinya. Perusahaan juga belum menyampaikan jadwal hingga berapa jumlah saham yang ditebar saat IPO.
5 Proyek Utama yang Tengah Digarap Neo EnergyProyek Nikel Laterit TAS MineTAS Mine merupakan tambang nikel laterit utama milik Neo Energy yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Tambang ini memegang izin usaha pertambangan (IUP) bernomor 001 dan memiliki sumber daya lebih dari 200 juta ton nikel dan memiliki dua dermaga operasional.
Beroperasi sejak 2010, Tambang TAS menjadi sumber utama arus kas dan penopang pasokan bijih bagi Grup Neo Energy. Selain punya cadangan sumber daya yang besar dan berkualitas tinggi, tambang ini dilengkapi sistem logistik langsung dari lokasi penambangan serta pelabuhan yang dapat diperluas untuk mendukung kenaikan kapasitas kedepannya.
Dengan efisiensi operasional yang tinggi, TAS tetap menjadi salah satu produsen nikel berbiaya rendah di Indonesia. Pendapatan stabil dari tambang ini juga berperan penting dalam mendanai pengembangan hilirisasi dan memastikan ketersediaan bahan baku untuk proyek pengolahan High Pressure Acid Leach (HPAL) perusahaan.
Tambang Multi Proyek MDK MineTambang MDK berlokasi di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, dan mencakup area seluas 10.800 hektare. Tambang nikel laterit ini memiliki potensi tinggi untuk pengembangan jangka panjang.
Sebagai bagian dari rencana ekspansi, Neo Energy akan membangun dua lokasi dermaga (jetty). Adapun MDK mengubah Neo Energy menjadi produsen tambang multi-proyek. Proyek ini menyediakan sumber bijih berkapasitas tinggi kedua, diversifikasi pendapatan, dan memastikan pasokan limonit jangka panjang untuk pengolahan baterai.
Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Berkarbon Rendah Neo Energy tengah menyiapkan pembangunan pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) berkarbon rendah yang akan memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk mendukung rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV).
Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2029, dengan kapasitas produksi lebih dari 61.000 ton nikel dan lebih dari 4.000 ton kobalt per tahun. Pabrik NEMIE HPAL merupakan langkah strategis Neo Energy dalam memasuki rantai nilai baterai kendaraan listrik (EV).
Dengan memanfaatkan teknologi teruji ENFI dan bijih tambang kami sendiri, proyek ini akan memasok MHP berkarbon rendah kepada produsen katoda global. Dengan insentif pajak selama 20 tahun dan logistik terintegrasi, HPAL berpotensi menjadi salah satu aset bahan baterai paling kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia.
Proyek Strategis Nasional NEMIENEMIE ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada tahun 2024. Kawasan industri hijau ini berlokasi di mulut tambang TAS, Morowali, Sulawesi Tengah, dengan luas area mencapai 4.758 hektare. Dilengkapi dengan dua dermaga operasional, kawasan ini berfokus pada pengolahan bahan baku baterai dan produksi kendaraan listrik (EV).
Fasilitas pendukung seperti pelabuhan laut dalam yang ditargetkan beroperasi pada 2026 serta pembangkit listrik captive. NEMIE mengubah area tambang perusahaan menjadi pusat industri hijau dengan fasilitas lengkap. Kawasan ini dilengkapi pelabuhan yang dapat diperluas, pasokan listrik yang stabil, dan lahan luas untuk mendukung kebutuhan penyewa.
Dengan keberadaan fasilitas HPAL milik sendiri sebagai pembeli utama bahan baku, kawasan ini mendorong pengolahan bernilai tambah dan memperkuat ekosistem nikel Indonesia. Desain terintegrasi NEMIE juga membantu menekan biaya investasi bagi penyewa serta menciptakan sinergi rantai pasok di seluruh Grup.
Kawasan Industri Hijau NEPIENEPIE merupakan kawasan industri hijau yang berlokasi di Parigi, sekitar dua jam dari Palu. Kawasan seluas 2.500 hektare ini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2024 dan memiliki garis pantai sepanjang 15 kilometer.
Dengan posisi yang strategis, NEPIE disiapkan untuk menjadi pusat pengembangan energi masa depan dan industri berkelanjutan di Sulawesi Tengah. NEPIE menjadi ekspansi generasi baru yang dirancang untuk industri berbasis energi terbarukan. Kawasan ini memiliki potensi besar tenaga air dan akses ke perairan dalam sehingga ideal untuk pembangunan pabrik baterai, katoda, dan pengolahan logam hijau berskala besar.



