MerahPutih.com - Para pengungsi korban bencana alam di Sumatra menghadapi tantangan akan tingginya penyakit menular di pengungsian.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyakit yang paling banyak muncul pascabencana adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare.
“Obat-obatan kami sesuaikan dengan jenis penyakitnya,” ujar Budi dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/1).
Menurut Budi, campak menjadi penyakit yang paling diwaspadai karena memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.
Baca juga:
1.178 Orang Tewas dan Ratusan Lainnya masih Hilang, Operasi Pencarian Korban Bencana Alam di Sumatra Diperpanjang
“Penyakit menular yang kami amati dengan sangat dekat itu adalah campak. Karena penularannya paling tinggi. Kalau ingat waktu COVID, reproduction rate satu orang bisa menularkan ke berapa itu paling tinggi di campak,” jelasnya.
Budi mengungkapkan, Kemenkes telah mengidentifikasi kasus campak di lima kabupaten di wilayah Sumatra. Untuk mencegah meluasnya penularan, pemerintah telah menjalankan program imunisasi khusus yang dimulai sejak pekan ini.
“Campak itu sudah kami identifikasi ada di lima kabupaten. Di situ kami sudah lakukan program imunisasi khusus, dan itu sudah berjalan sejak minggu ini,” tutup Budi.
Baca juga:
Bantuan Jaminan Hidup untuk Korban Banjir Sumatera, DPR Ingatkan Penyaluran Tepat Sasaran
Sekadar informasi, berdasarkan data BNPB, jumlah pengungsi bencana banjir dan longsor di Sumatera sempat mencapai puncaknya pada 8 Desember 2025 dengan total 1.057.450 orang.
Jumlah tersebut pun berangsur turun hingga tercatat 242.174 orang per Kamis (8/1). (knu)





