Trump Ingin Kontrol Minyak di Venezuela, China: Merusak Hak Rakyat!

viva.co.id
23 jam lalu
Cover Berita

Beijing, VIVA – Pemerintah China menyatakan keberatannya atas rencana Amerika Serikat untuk memperoleh 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

“Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan penuh serta permanen atas seluruh sumber daya alam dan kegiatan ekonominya. Permintaan Amerika Serikat melanggar hukum internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan merusak hak-hak rakyat Venezuela,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, dikutip Kamis, 8 Januari 2026.

Baca Juga :
Rupiah Melemah seiring Optimisme Purbaya soal Ekonomi RI 2026 Tumbuh 6 Persen
Gedung Putih: Rencana Trump Akuisisi Greenland untuk Cegah Agresi China dan Rusia di Wilayah Artik

Presiden AS Donald Trump saat memaparkan operasi Absolute Resolve di Venezuela
Photo :
  • White House

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.

Trump mengatakan minyak itu akan dijual pada harga pasar, dan hasilnya "akan dikontrol oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat" untuk memastikan penggunaan yang bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.

Padahal berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), negara tersebut mengekspor 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS yang dimulai pada Desember 2025.

Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke Tiongkok, memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari ekspor minyak Venezuela.

Produksi minyak harian Venezuela pada 2025 diketahui sekitar 1,1 juta barel per hari atau jauh berkurang dari produksi tahun 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel minyak per hari akibat masalah tata kelola, kurangnya investasi infrastruktur, dan dampak sanksi.

Minyak Venezuela menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China yang sebagian besar sumber minyaknya berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah, serta Rusia.

"Kerja sama antara China dan Venezuela adalah kerja sama antara dua negara berdaulat dan berada di bawah perlindungan hukum internasional dan hukum yang relevan. Hak dan kepentingan sah China di Venezuela harus dilindungi," tambah Mao Ning.

AS, ungkap Mao Ning, telah lama memberlakukan sanksi sepihak ilegal terhadap industri minyak Venezuela dan secara terang-terangan menggunakan kekuatan terhadap Venezuela baru-baru ini.

"Ini telah memberikan pukulan telak terhadap tatanan ekonomi dan sosial di Venezuela dan mengancam stabilitas rantai industri dan pasokan global. China telah mengutuk keras hal ini," ungkap Mao Ning.

Baca Juga :
IHSG Dibuka Menghijau, Mayoritas Bursa Asia Melemah Imbas Ekskalasi China-Jepang
Trump Utus Menlu AS ke Denmark Pekan Depan, Berunding soal Greenland
Dibalik Penangkapan Presiden Venezuela, Donald Trump Tuduh Maduro Meniru Tarian Ikoniknya

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menhaj Harap Sebagian Kampung Haji Bisa Ditempati Jamaah pada 2028
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Polda Metro Jaya Tutup Kasus Kematian Diplomat Kemlu Arya Daru
• 32 menit lalutvrinews.com
thumb
Pelaporan SPT 2025 Lewat Coretax Capai 47.395
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sampai Titik Terakhirmu Resmi Pamit, Modual Nekad Akhirnya Tembus 300 Ribu Penonton
• 15 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kasus Suap Ijon Proyek, Anggota DPRD Nyumarno Mangkir Panggilan KPK
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.