Beijing, VIVA – Pemerintah China menyatakan keberatannya atas rencana Amerika Serikat untuk memperoleh 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
“Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan penuh serta permanen atas seluruh sumber daya alam dan kegiatan ekonominya. Permintaan Amerika Serikat melanggar hukum internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan merusak hak-hak rakyat Venezuela,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, dikutip Kamis, 8 Januari 2026.
- White House
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
Trump mengatakan minyak itu akan dijual pada harga pasar, dan hasilnya "akan dikontrol oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat" untuk memastikan penggunaan yang bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.
Padahal berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), negara tersebut mengekspor 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS yang dimulai pada Desember 2025.
Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke Tiongkok, memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari ekspor minyak Venezuela.
Produksi minyak harian Venezuela pada 2025 diketahui sekitar 1,1 juta barel per hari atau jauh berkurang dari produksi tahun 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel minyak per hari akibat masalah tata kelola, kurangnya investasi infrastruktur, dan dampak sanksi.
Minyak Venezuela menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China yang sebagian besar sumber minyaknya berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah, serta Rusia.
"Kerja sama antara China dan Venezuela adalah kerja sama antara dua negara berdaulat dan berada di bawah perlindungan hukum internasional dan hukum yang relevan. Hak dan kepentingan sah China di Venezuela harus dilindungi," tambah Mao Ning.
AS, ungkap Mao Ning, telah lama memberlakukan sanksi sepihak ilegal terhadap industri minyak Venezuela dan secara terang-terangan menggunakan kekuatan terhadap Venezuela baru-baru ini.
"Ini telah memberikan pukulan telak terhadap tatanan ekonomi dan sosial di Venezuela dan mengancam stabilitas rantai industri dan pasokan global. China telah mengutuk keras hal ini," ungkap Mao Ning.




