MerahPutih.com - Pemerintah terus melakukan pendataan sekaligus normalisasi kondisi daerah terdampak bencana di Sumatera, termasuk yang melanda Aceh Tamiang, Aceh, yang menjadi lokasi terparah.
Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Widodo menyebutkan sekitar 58.000 bangunan rusak akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang.
Angka tersebut didapatkan dari hasil analisis tim Gugus Tugas Penanggulangan Bencana BRIN melalui pemetaan citra satelit.
"Kami mengamati dengan baik apa yang terjadi di lapangan, kalau kami boleh katakan Aceh Tamiang boleh dikatakan 90 persen terdampak," ujarnya.
Baca juga:
Bantuan Jaminan Hidup untuk Korban Banjir Sumatera, DPR Ingatkan Penyaluran Tepat Sasaran
Ia menegaskan, data kerusakan ini masih perlu divalidasi lebih lanjut, sebab metode yang digunakan berbeda dengan metode yang dilakukan oleh pemangku kepentingan lainnya.
Namun, data tersebut telah disampaikan kepada pihak Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) untuk bisa menjadi acuan pengambilan keputusan yang tepat.
Data kerusakan ini, dapat diakses melalui laman https://spectra.brin.go.id, di mana bisa menjadi acuan kepada seluruh pemangku kepentingan dalam merekonstruksi wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Ia menegaskan, dampak bencana di Aceh Tamiang sangat memprihatinkan, banyak bangunan rumah yang tinggi lantai dan fondasinya dan itu bersih semua tersapu banjir dengan sangat bersih.
"Tidak ada bekas dinding, tidak ada atap, isinya rumah juga tidak tahu kemana, dan itu sangat banyak, sangat luas area yang mengalami seperti itu," ungkapnya.




