Jangankan Datangkan Pemain, PSM Makassar Sampai Saat Di-Banned FIFA

harianfajar
22 jam lalu
Cover Berita



FAJAR, MAKASSAR — Laga besar akan tersaji di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. PSM Makassar dijadwalkan menjamu Bali United pada Jumat, 9 Januari 2025, dalam pertandingan penutup putaran pertama Super League 2025/2026.

Namun, laga ini datang di tengah situasi yang tidak ideal bagi Pasukan Ramang. PSM Makassar masih berada dalam bayang-bayang sanksi FIFA, yang membuat ruang gerak klub sangat terbatas. Jangankan mendatangkan pemain baru untuk memperbaiki skuad, melakukan manuver strategis di bursa transfer pun nyaris mustahil.

Dalam kondisi seperti ini, PSM dipaksa bertahan dengan komposisi yang ada, sementara tekanan prestasi terus meningkat.

Pertandingan melawan Bali United pun menjadi ujian krusial. Bagi PSM, kemenangan bukan sekadar target, melainkan keharusan jika tak ingin menutup putaran pertama di papan tengah atau bahkan terjerembap ke papan bawah klasemen.

Tekanan semakin besar karena PSM sedang berada dalam tren negatif. Kekalahan demi kekalahan membuat posisi tim rawan. Jika kembali gagal meraih poin penuh, PSM berpotensi menelan empat kekalahan beruntun, sebuah situasi yang jarang terjadi dalam beberapa musim terakhir.

Suporter PSM Makassar, Rizal, menilai laga kontra Bali United bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga pembuktian nyata atas janji evaluasi yang berulang kali disampaikan pelatih Tomas Trucha.

“Ini bukan sekadar menang atau kalah. Ini pembuktian. Kalau masih kalah lagi, berarti evaluasi yang dijanjikan itu tidak berjalan maksimal,” ujar Rizal, Kamis (8/1).

Ia menegaskan, kemenangan atas Bali United akan memberi sedikit ruang napas bagi suporter, sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap tim yang saat ini seperti kehilangan arah.

Secara historis, Bali United memang bukan lawan yang ramah bagi PSM. Dari total 22 pertemuan, PSM hanya mencatat tujuh kemenangan, enam kali imbang, dan sembilan kali kalah. Dalam lima pertemuan terakhir, PSM bahkan tak sekali pun menang—tiga kali kalah dan dua laga berakhir imbang.

“Justru karena Bali tim kuat, kalau PSM bisa menang, itu jadi sinyal bahwa tim benar-benar sudah berbenah,” lanjut Rizal.

Masalahnya, persoalan PSM tak hanya ada di hasil, tetapi juga pada skema permainan. Pola yang diterapkan Tomas Trucha perlahan mulai terbaca lawan.

Sejak awal kedatangannya, pelatih asal Ceko itu menegaskan enggan bermain bertahan atau mengandalkan serangan balik. Ia lebih memilih pendekatan menyerang dengan penguasaan bola.

Pendekatan ini sempat menjanjikan pada tiga laga awal: kalah tipis 0-1 dari Dewa United, membantai PSBS lima gol tanpa balas, dan menang dramatis 3-4 atas Persis Solo. Namun setelah itu, performa PSM merosot tajam.

Dalam empat pertandingan berikutnya, PSM tak pernah menang dan kehilangan 11 poin. Titik baliknya terjadi saat bertandang ke markas Persebaya Surabaya. Hasil imbang 1-1 di laga itu justru menjadi poin terakhir PSM hingga kini.

Setelahnya, PSM tumbang 0-1 di kandang sendiri dari Malut United, kalah 0-1 di markas Persib Bandung, dan terakhir harus menelan epic comeback saat melawan Borneo FC.

Ironisnya, Trucha sendiri mengakui sempat meninggalkan prinsip awalnya. Saat melawan Borneo FC, PSM memilih bertahan dan mengandalkan serangan balik setelah unggul, namun justru kehilangan kendali permainan.

“Setelah unggul, kami mencoba mempertahankannya dengan counter attack. Tapi dalam 25 menit terakhir kami bermain tidak bagus,” ujar Trucha.

Lagi-lagi, janji evaluasi kembali disampaikan.

“Kami akan berbenah dan mengevaluasi apa yang salah agar tidak terjadi lagi,” katanya.

Trucha juga mengakui tiga kekalahan beruntun menjadi sinyal bahaya.

“Ini tidak bagus untuk pemain, tidak bagus untuk owner, tidak bagus untuk suporter, juga tidak bagus untuk pelatih,” tegasnya.

Pengamat sepak bola Assegaf Razak menilai evaluasi memang wajib dilakukan, tetapi harus berdampak nyata.

“Menang pun perlu evaluasi, apalagi kalah. Tapi evaluasi harus jelas, jangan kesalahan yang sama terus diulang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pengambilan keputusan Trucha dalam pertandingan, termasuk pergantian pemain yang dinilai tidak efektif serta keterlambatan mengubah pendekatan permainan.

“Keputusan di tengah pertandingan itu krusial. Tidak boleh ragu, apalagi di laga penting,” kata mantan pelatih PSM Makassar tersebut.

Meski demikian, Assegaf menilai PSM masih memiliki peluang untuk bangkit, terutama jika evaluasi dilakukan secara jujur dan tepat menjelang putaran kedua akhir Januari nanti.

Namun selama sanksi FIFA masih membatasi ruang gerak klub, PSM tak punya banyak pilihan. Tanpa tambahan pemain, beban sepenuhnya ada pada Tomas Trucha dan skuad yang ada saat ini.

Laga melawan Bali United pun menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Ini adalah ujian ketahanan, konsistensi, dan kepercayaan—di tengah keterbatasan yang nyata.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tomas Trucha Siapkan Pengganti Victor Luiz
• 2 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Mendikdasmen Dorong Murid di Garut Jadi Generasi Serba Bisa untuk Majukan Daerah
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kemlu matangkan persiapan jelang dialog "2+2" RI-Turki di Ankara
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Tinjau Banjir Kalsel, Gibran Tegaskan Komitmen Pemerintah Percepat Pemulihan
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hadiri Sidang Lanjutan, Nadiem Makarim Disambut Simpatisan di Ruang Pengadilan
• 21 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.