Magelang (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter yang cukup signifikan, baik dokter umum maupun dokter spesialis.
Ia di Magelang, Kamis, menyampaikan kondisi tersebut membuat rasio dokter terhadap jumlah penduduk Indonesia masih jauh di bawah standar ideal internasional.
Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri launching studi kedokteran program Sarjana dan pendidikan profesi Dokter di kampus Universitas Muhamadiyah Magelang (Unimma).
Menurut dia, berdasarkan indikator Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, negara dengan kategori lower middle income idealnya memiliki rasio satu dokter per 1.000 penduduk. Sementara rata-rata dunia berada di angka 1,76 dokter per 1.000 penduduk.
"Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta, idealnya membutuhkan sekitar 280 ribu dokter. Saat ini posisi kita masih di angka 0,5 dokter per 1.000 penduduk," katanya
Ia menambahkan, secara regional Indonesia juga masih tertinggal. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke delapan, di bawah Myanmar, Thailand, dan Filipina. Bahkan di kelompok negara G20, Indonesia menempati posisi terbawah, masih di bawah India dan China.
Baca juga: Menkes: Idealnya butuh tiga dokter spesialis jantung di RS daerah
Kondisi ini, menurut dia, menjadi alasan pemerintah mendorong penambahan fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Ia mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang telah membuka fakultas kedokteran ke-23.
"Saya titip jangan berhenti di 23, Muhammadiyah punya jaringan besar, kalau bisa sampai puluhan lagi dalam 10 tahun ke depan supaya manfaatnya lebih luas," katanya.
Selain jumlah, persoalan lain yang disoroti adalah distribusi dokter yang belum merata. Ia menyebut sebagian besar pendidikan kedokteran masih terpusat di Pulau Jawa, sehingga lulusan dokter juga cenderung bekerja di wilayah yang sama.
"Ke depan, saya berharap pembukaan fakultas kedokteran lebih banyak dilakukan di luar Jawa, terutama di Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah timur lainnya," katanya.
Saat ini, jumlah dokter umum di Indonesia diperkirakan sekitar 160 ribu orang, sementara dokter spesialis sekitar 40 ribu orang. Namun, untuk memenuhi kebutuhan minimal, Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 70 ribu dokter umum dan 40 ribu dokter spesialis.
"Kita butuh dokter spesialis minimal satu di setiap kota. Itu pun sebenarnya belum ideal, karena dokter juga butuh waktu istirahat dan tidak mungkin selalu siaga," katanya.
Ia menuturkan, produksi dokter umum saat ini sekitar 12 ribu orang per tahun, sementara dokter spesialis hanya sekitar 2.700 orang per tahun. Dengan angka tersebut, dibutuhkan waktu cukup panjang untuk menutup kekurangan dokter di Indonesia.
Baca juga: Menkes ajak putra-putri daerah penuhi kebutuhan dokter spesialis
Baca juga: Menkes-Mendiktisantek akselerasi capai target 70.000 dokter spesialis
Ia di Magelang, Kamis, menyampaikan kondisi tersebut membuat rasio dokter terhadap jumlah penduduk Indonesia masih jauh di bawah standar ideal internasional.
Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri launching studi kedokteran program Sarjana dan pendidikan profesi Dokter di kampus Universitas Muhamadiyah Magelang (Unimma).
Menurut dia, berdasarkan indikator Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, negara dengan kategori lower middle income idealnya memiliki rasio satu dokter per 1.000 penduduk. Sementara rata-rata dunia berada di angka 1,76 dokter per 1.000 penduduk.
"Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta, idealnya membutuhkan sekitar 280 ribu dokter. Saat ini posisi kita masih di angka 0,5 dokter per 1.000 penduduk," katanya
Ia menambahkan, secara regional Indonesia juga masih tertinggal. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke delapan, di bawah Myanmar, Thailand, dan Filipina. Bahkan di kelompok negara G20, Indonesia menempati posisi terbawah, masih di bawah India dan China.
Baca juga: Menkes: Idealnya butuh tiga dokter spesialis jantung di RS daerah
Kondisi ini, menurut dia, menjadi alasan pemerintah mendorong penambahan fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Ia mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang telah membuka fakultas kedokteran ke-23.
"Saya titip jangan berhenti di 23, Muhammadiyah punya jaringan besar, kalau bisa sampai puluhan lagi dalam 10 tahun ke depan supaya manfaatnya lebih luas," katanya.
Selain jumlah, persoalan lain yang disoroti adalah distribusi dokter yang belum merata. Ia menyebut sebagian besar pendidikan kedokteran masih terpusat di Pulau Jawa, sehingga lulusan dokter juga cenderung bekerja di wilayah yang sama.
"Ke depan, saya berharap pembukaan fakultas kedokteran lebih banyak dilakukan di luar Jawa, terutama di Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah timur lainnya," katanya.
Saat ini, jumlah dokter umum di Indonesia diperkirakan sekitar 160 ribu orang, sementara dokter spesialis sekitar 40 ribu orang. Namun, untuk memenuhi kebutuhan minimal, Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 70 ribu dokter umum dan 40 ribu dokter spesialis.
"Kita butuh dokter spesialis minimal satu di setiap kota. Itu pun sebenarnya belum ideal, karena dokter juga butuh waktu istirahat dan tidak mungkin selalu siaga," katanya.
Ia menuturkan, produksi dokter umum saat ini sekitar 12 ribu orang per tahun, sementara dokter spesialis hanya sekitar 2.700 orang per tahun. Dengan angka tersebut, dibutuhkan waktu cukup panjang untuk menutup kekurangan dokter di Indonesia.
Baca juga: Menkes ajak putra-putri daerah penuhi kebutuhan dokter spesialis
Baca juga: Menkes-Mendiktisantek akselerasi capai target 70.000 dokter spesialis




