Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergeming menghadapi gelombang protes dari asosiasi eksportir terkait kebijakan anyar sentralisasi penempatan 100% devisa hasil ekspor (DHE) selama 12 bulan di bank-bank milik negara (Himbara).
Purbaya menegaskan bahwa kebijakan itu terpaksa diambil pemerintah sebagai langkah mutlak untuk menutup celah kebocoran devisa yang selama ini dimanfaatkan melalui manipulasi sistem. Dia pun tak ambil pusing meski pelaku usaha berdalih aturan ini membebani biaya produksi.
"Biar saja. Kenapa selama ini memanipulasi sistem? Terpaksa kita lakukan itu karena untuk menutup kebocoran. Biar saja protes, kan peraturan kita yang bikin," tegasnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Bendahara negara itu mengungkapkan bahwa Peraturan Presiden yang mengatur ketentuan itu telah ditandatangani oleh Presiden Presiden Prabowo meski belum diterbitkan.
Menurutnya, aturan itu akan berlaku surut terhitung sejak 1 Januari 2026. Dia memastikan payung hukum teknis akan terbit selambat-lambatnya pada pekan kedua Januari ini.
Purbaya membeberkan alasan fundamental di balik kebijakan keras ini. Dia menyoroti anomali data perekonomian tahun lalu, yang mana surplus neraca perdagangan tercatat jumbo mencapai US$38 miliar, tetapi cadangan devisa hanya bertambah US$0,8 miliar.
Baca Juga
- Segera Berlaku! Aturan Sentralisasi DHE SDA ke Himbara Sudah diteken Prabowo
- Bongkar Pasang Aturan Penempatan DHE SDA Tak Pernah Usai
- Sederet Pemanis di Balik Sentralisasi DHE SDA ke Himbara
Menurutnya, posisi cadev Indonesia yang bertahun-tahun tertahan di kisaran US$150 miliar menunjukkan bahwa kebijakan retensi devisa sebelumnya tidak efektif.
"Artinya kebijakan kemarin kurang berhasil. Jadi, kita coba perbaiki seperti ini. Kalau dia [eksportir] enggak taruh uangnya di luar, taruh di sini, kan cadangan devisanya kencang. Rupiah akan stabil, anda enggak menyalahkan saya lagi rupiahnya lemah terus," ujarnya.
Purbaya optimistis sentralisasi DHE di Himbara akan memperkuat Rupiah di tengah penguatan bursa saham dan pertumbuhan ekonomi. Dia pun mengirim sinyal peringatan keras bagi para 'pemain' yang selama ini menghindari kewajiban devisa.
"Kalau ada yang mengeluh, ya biar saja mengeluh. Kenapa kemarin mereka bermain-main? Ngaku enggak nanti? Siapa yang begitu, nanti saya kejar," pungkasnya.



