JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki mulut Gang Jelakeng dari arah Jalan Perniagaan Barat, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat, langkah kaki seolah ditarik mundur melintasi lorong waktu.
Gang sepanjang sekitar 130 meter ini bukan sekadar jalan tikus di tengah riuh rendah wilayah Tambora, melainkan sebuah koridor sejarah yang menyimpan memori kolektif Jakarta Barat.
Di sepanjang gang, sisa-sisa arsitektur Tionghoa-kolonial masih berdiri, meski sebagian besar berada dalam kondisi memprihatinkan.
Baca juga: Tak Ada Halte Layak di Terminal Tanjung Priok, Penumpang Jaklingko Bertahan dalam Sengsara
Dinding-dinding kusam dengan cat yang mengelupas, serta jendela kayu besar bergaya vintage, menjadi saksi bisu bahwa kawasan ini pernah memiliki status sosial yang jauh berbeda dari apa yang tampak hari ini.
Nama “Jelakeng” diyakini berasal dari dialek Tionghoa yang merujuk pada keberadaan rumah-rumah hiburan dan penginapan pada masa lampau.
Berbanding terbalik dengan masa jayanya sebagai titik pertemuan budaya dan transaksi sosial, suasana gang kini terasa lebih sunyi dan terhimpit, meski lokasinya strategis di antara Pasar Pecinan Glodok, Pusat Grosir Asemka, dan Glodok Plaza.
Jejak sejarah tersebut kian memudar, tertutup deretan bangunan tua yang dibiarkan kosong dan tak terurus, menciptakan nuansa melankolis di balik megahnya kawasan niaga Kota Tua.
Transformasi sosial dan ekonomi kawasan ini tampak jelas dari perubahan fungsi bangunan yang kini didominasi sebagai gudang dan tempat usaha mikro.
Beberapa rumah tua yang dahulu megah telah beralih fungsi menjadi bengkel kecil atau tempat penyimpanan barang-barang pengepakan.
Papan-papan iklan sederhana seperti “Bakmi Atu” atau toko bahan alat pengepakan menempel di dinding-dinding beton yang retak.
Fenomena bangunan kosong dan terbengkalai di beberapa sudut gang menjadi bukti bahwa Jelakeng sedang dalam masa transisi yang sulit.
Banyak pemilik bangunan yang lebih memilih meninggalkan properti mereka atau sekadar menjadikannya tempat transit logistik tanpa melakukan perawatan estetika.
Baca juga: Roy Suryo Laporkan 7 Pendukung Jokowi ke Polisi atas Tuduhan Ijazah Palsu dan Korupsi Hambalang
Akar-akar tanaman liar yang merambat di antara celah batu bata dan pagar-pagar besi yang berkarat menunjukkan kurangnya kesadaran akan pelestarian cagar budaya.
Bangunan-bangunan ini seolah sedang menghilang secara perlahan, kalah bersaing dengan modernitas Jakarta yang terus mendesak dari segala arah.
Di balik tembok-tembok kusam tersebut, kehidupan warga tetap berjalan dengan ritme yang akrab. Mereka hidup berdampingan, bahkan di atas ruang-ruang bersejarah yang mungkin tidak mereka sadari sepenuhnya.
Seorang warga tampak asyik beraktivitas di depan pintu rumahnya yang merangkap bengkel, sementara di sudut lain, kedai bakmi sederhana tetap melayani pelanggan setianya.
Murhad (67), salah satu warga asli yang telah menempati wilayah ini sejak kecil, membuka kenangannya tentang masa lalu Gang Jelakeng.
“Saya lahir dan besar di sini. Dulu, gang ini ramai sekali. Semua orang tahu Gang Jelakeng itu pusat hiburan malam, tempat saudagar dan pelaut singgah setelah berlayar di Sunda Kelapa,” katanya sambil menepuk dinding rumahnya yang kusam dan berlapis cat mengelupas saat ditemui Kompas.com, Rabu (7/1/2026).





