Diare adalah kondisi gangguan pencernaan yang ditandai oleh buang air besar dengan konsistensi tinja yang lebih cair dari biasanya dan frekuensi lebih dari tiga kali dalam satu hari. Secara biologis, diare terjadi ketika lapisan usus mengalami peradangan atau iritasi akibat masuknya mikroorganisme seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella, Shigella, virus rotavirus atau parasit tertentu yang mengganggu penyerapan air dan elektrolit di saluran pencernaan. Jalur penularannya umumnya melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, kontak langsung dengan feses penderita atau sanitasi lingkungan yang buruk sehingga tubuh kehilangan banyak cairan dan risiko dehidrasi meningkat.
Di Indonesia, fenomena diare bukanlah hal yang asing—termasuk dalam daftar penyakit yang sering terjadi sepanjang tahun, namun cenderung meningkat di musim penghujan. Curah hujan tinggi dapat menyebabkan kontaminasi sumber air bersih dan lingkungan yang lebih lembap serta becek, sehingga bakteri dan virus penyebab diare lebih mudah berkembang dan menyebar. Selain itu, kualitas sanitasi yang menurun selama periode hujan justru memperbesar peluang masukan mikroorganisme berbahaya ke dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat. Beberapa laporan kesehatan mencatat puluhan hingga ratusan ribu kasus diare setiap tahunnya di berbagai wilayah Indonesia, dengan risiko yang lebih tinggi pada anak-anak dan kelompok masyarakat dengan akses sanitasi terbatas.
Menurut dr. Hayin Naila dari HA-Medika di Kendal, musim penghujan menjadi musim yang menantang bagi kesehatan pencernaan warga setempat. Dr. Hayin menjelaskan bahwa pola curah hujan yang tidak teratur sering kali menyebabkan limpasan air hujan bercampur dengan limbah dan sampah, sehingga sumber air minum warga terkontaminasi mikroba patogen. Di musim hujan pula, perilaku masyarakat yang cenderung mengonsumsi makanan siap saji atau jajanan di luar rumah tanpa jaminan kebersihan memperbesar risiko terjadinya diare. Dr. Hayin menekankan pentingnya kesadaran lingkungan dan kebersihan pribadi untuk mengurangi jumlah kasus diare di Kendal dan sekitarnya.
Cara pencegahan diare di musim penghujan dimulai dari tindakan sederhana namun efektif, seperti selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air besar, memastikan makanan dimasak hingga matang, serta hanya mengonsumsi air bersih yang telah direbus atau disaring. Selain itu, menjaga kebersihan dapur dan tempat penyimpanan air juga sangat penting, karena mikroorganisme penyebab diare sering masuk melalui kontaminasi silang antara bahan makanan, peralatan makan dan air yang tidak higienis. Di sisi lain, pemantauan kondisi kesehatan sejak dini dibutuhkan agar jika gejala diare muncul—termasuk frekuensi BAB tinggi, nyeri perut atau tanda dehidrasi—penanganan medis dapat segera dilakukan.
Dengan memahami risiko dan mekanisme timbulnya diare di musim penghujan, masyarakat dapat lebih waspada dan proaktif dalam menerapkan langkah pencegahan. Kesadaran kolektif terhadap kebersihan lingkungan serta pola hidup sehat menjadi pondasi penting dalam upaya menekan angka kejadian diare. Di samping itu, kolaborasi lintas sektor—termasuk pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, dan komunitas lokal—diperlukan untuk memperkuat akses air bersih dan sanitasi yang layak. Pada akhirnya, dengan penerapan langkah pencegahan yang konsisten, kita bukan hanya melindungi diri sendiri tetapi juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat secara luas di tengah tantangan musim penghujan.



