Jakarta – Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) resmi hadir sebagai asosiasi baru di industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Terbentuk pada Desember 2026, AMDATARA diharapkan menjadi katalisator bagi kemajuan industri AMDK nasional melalui penguatan kolaborasi, integritas, dan keberlanjutan.
Ketua Umum Terpilih AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengatakan pembentukan AMDATARA merupakan respons atas kebutuhan akan wadah resmi yang mampu menyatukan pelaku industri AMDK untuk bersama-sama menghadapi tantangan sekaligus membangun masa depan industri yang lebih sehat bagi masyarakat Indonesia.
“Sebagai Ketua Umum, saya yakin AMDATARA akan menjadi katalisator bagi kemajuan industri AMDK, dengan fokus pada kolaborasi, integritas, dan keberlanjutan,” ujar Karyanto.
Ia menegaskan, AMDATARA akan menjadi rumah bagi industri AMDK yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi yang solid, asosiasi ini berkomitmen memastikan kepatuhan terhadap regulasi, mendorong inovasi, menjaga kualitas produk, serta meningkatkan kontribusi positif industri terhadap lingkungan dan masyarakat.
Ke depan, AMDATARA akan berperan sebagai platform kolaborasi antaranggota, advokasi kebijakan dengan pemerintah, edukasi publik mengenai hidrasi sehat dan pengelolaan sumber daya air, serta pengelolaan sampah kemasan. Selain itu, asosiasi ini juga mendorong standardisasi kualitas melalui penerapan SNI dan sertifikasi, serta penguatan investasi di sektor AMDK.
“AMDATARA juga mendukung transformasi industri menuju era industri 4.0, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta sinergi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tambah Karyanto.
AMDATARA didukung puluhan anggota dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi Utara.
Pembentukan AMDATARA mendapat sambutan positif dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar, Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, berharap AMDATARA dapat berperan strategis dalam menyinergikan pelaku industri AMDK dengan kebijakan pemerintah.
“Saya berharap melalui kolaborasi yang konsisten, kita dapat mendorong transformasi industri AMDK menuju industri yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa industri AMDK memiliki efek ganda yang luas terhadap perekonomian, mulai dari sektor transportasi, penjualan ritel, hingga industri pendukung lainnya. Oleh karena itu, Kemenperin memberikan apresiasi kepada pelaku usaha AMDK atas kontribusinya dalam pengembangan industri minuman nasional.
Saat ini, industri AMDK di Indonesia terus mengalami ekspansi signifikan dengan nilai pasar mencapai puluhan triliun rupiah per tahun dan pertumbuhan rata-rata 5–8 persen. Sejak berdiri pada 1973 dengan satu pabrik berkapasitas 6 juta liter per tahun, industri ini berkembang menjadi 707 pabrik dengan lebih dari 2.000 merek dan total kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun.
Sektor AMDK menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung dan berkontribusi terhadap ekspor makanan dan minuman nasional, dengan tingkat utilisasi industri di atas 70 persen dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh pertambahan penduduk, urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan.
Meski demikian, industri AMDK juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari implementasi SNI wajib, persepsi publik terkait pengelolaan sumber daya air, regulasi migrasi BPA pada kemasan, ketidaksinkronan regulasi pusat dan daerah, hingga pengelolaan sampah kemasan dan penerapan Extended Producer Responsibility (EPR). Tantangan lainnya meliputi pajak air, persaingan pasar yang ketat, serta tuntutan adaptasi terhadap ekonomi sirkular, digitalisasi, dan sertifikasi halal.
Dengan kehadiran AMDATARA, pelaku industri AMDK berharap tercipta sinergi yang lebih kuat untuk menjawab berbagai tantangan tersebut sekaligus mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan.



