Jakarta, VIVA – Perusahaan teknologi raksasa asal Korea Selatan, Samsung Electronics, memproyeksi lonjakan kinerja keuangan signifikan pada kuartal IV-2025. Perusahaan memperkirakan laba operasional naik hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan panduan kinerja (earnings guidance) yang dirilis Kamis, 8 Januari 2026, produsen chip memori terbesar di dunia ini mengakumulasi akan mengantongi laba operasional mencapai 20 triliun won. Jumalh ini hasil penjualan konsolidasi sekitar 93 triliun won pada tiga bulan terakhir 2025.
Proyeksi kinclonya laba perusahaan menandai peningkatan signifikan dibandingkan kuartal IV-2024. Jika terealisasi, perusahaan berhasil melampaui rekor laba operasional tertinggi sebesar 17,6 triliun won yang dicatatkan pada kuartal III-2018.
Lonjakan laba Samsung sejalan meningkatnya harga chip memori di tengah ledakan permintaan sementara pasokan terbatas. Perusahaan teknologi global, seperti Nvidia, berebut pasokan chip guna pengembangan prosesor dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).
- Samsung
Di sisi lain, fokus produsen memori untuk memenuhi permintaan AI yang sangat menguntungkan turut memicu keterbatasan pasokan di pasar. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan chip untuk komputer pribadi dan perangkat seluler.
“Pasar memori telah memasuki fase Hyper-Bull, dengan kondisi saat ini melampaui puncak historis tahun 2018. Daya tawar pemasok berada pada titik tertinggi sepanjang masa didorong permintaan tinggi untuk AI dan kapasitas server,” jelas Tim Analis Counterpoint Research dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 8 Januari 2026.
Lebih lanjut, Tim Analis Counterpoint Research memperkirakan harga memori melonjak 40–50 persen pada kuartal IV 2025. Tren kenaikan diproyeksikan berlanjut pada kuartal I-2026 dengan kisaran serupa sebelum meledak hingga sekitar 20 persen pada kuartal II tahun ini.
Kondisi pasar ini memang menekan biaya produksi bagi banyak produsen elektronik konsumen. Namun, situasi tersebut justru menjadi berkah bagi pemain besar industri memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron.
Saham Samsung Electrnics telah meningkat lebih dari 145 persen dalam 12 bulan terakhir. Pada sesi perdagangan terakhir, saham Samsung menguat 0,5 persen di tengah gejolak pasar dan ketegangan geopolitik global.
Meski sudah membukukan lompatan harga ratusan persen, Samsung masih tertinggal dari SK Hynix dalam pengembangan high-bandwidth memory (HBM) yang banyak digunakan pada prosesor AI, termasuk buatan Nvidia. Ekspansi kapasitas produksi HBM diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama Samsung pada tahun ini.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/1013060/original/012701700_1444211819-490007862.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2872121/original/018743100_1564887513-20190804-JICOMFEST-3.jpg)

