Liputan6.com, Jakarta - Keberlanjutan di industri makanan kini menjadi prioritas operasional. Meningkatnya biaya pangan, regulasi, kekurangan tenaga kerja, dan harapan konsumen memaksa bisnis menata ulang cara makanan disiapkan, disimpan, dan dikemas.
Limbah makanan dan sampah plastik menimbulkan tekanan finansial dan lingkungan. Dapur besar dan produsen makanan sering kehilangan bahan akibat porsi tidak konsisten, pembusukan, produksi berlebih, dan penyimpanan yang kurang baik.
Advertisement
Plastik sekali pakai tetap banyak digunakan karena praktis dan menjaga keamanan pangan. Kemajuan keberlanjutan akan tercapai jika sampah makanan dan plastik ditangani secara bersamaan.
Perubahan ini bersifat jangka panjang dan memengaruhi seluruh lini operasi. Penggunaan sumber daya yang boros tidak hanya membebani lingkungan, tetapi juga menurunkan daya saing bisnis.
Saat ini, keberlanjutan diterapkan langsung di dapur, pabrik, hingga distribusi, menurut laporan Forbes Tech Council, Kamis (8/1/2026).
Sebagian besar limbah makanan tidak berasal dari konsumen, melainkan terjadi selama operasional. Dapur restoran, fasilitas pengolahan, dan gudang penyimpanan menjadi titik utama pemborosan bahan pangan.
Pengurangan limbah dimulai dari perbaikan cara kerja sehari-hari. Pelacakan stok yang rapi, perencanaan produksi yang jelas, dan standar persiapan bisa mengurangi kerugian sebelum memakai teknologi baru.
Pengaturan porsi yang tepat, resep yang jelas, dan prosedur kerja yang disiplin membantu meminimalkan kesalahan manusia di dapur atau pabrik yang sibuk. Langkah ini penting untuk efisiensi dan keberlanjutan.



