Pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa saat sedang stres, burnout, dan lelah dengan pekerjaan, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah “Butuh healing nih, butuh pantai”?
Mengapa bukan mal? Mengapa mayoritas definisi “tempat healing saat lelah” di kepala kita selalu melibatkan alam, langit putih, dan suara deburan ombak?
Seringkali kita melabeli kegiatan ke pantai dengan sebutan “healing.”Namun, tahukah bahwa dorongan untuk ke laut itu bukan sekadar tren media sosial dan fomo dengan konsep “healing pantai.”
Jika dibedah melalui kacamata sains, ketertarikan seseorang pada pantai adalah respons biologis yang mendalam. Bukan sekadar dilabeli sebagai “tempat healing,” pantai juga merupakan “obat” multisensori bagi otak yang sedang burnout dan kelelahan.
Berikut adalah alasan ilmiah mengapa otak kita selalu ingin “pulang” ke pantai, tidak hanya sekadar “healing”
Fenomena Blue MindSeseorang yang kehidupannya di kehidupan perkotaan yang serba cepat dan crowded, membuat otak manusia terjebak dalam mode “Red Mind.” Red Mind adalah keadaan / kondisi saat otak terus menerus merasa cemas, waspada , stres, dan ketakutan. Kondisi ini timbul ketika otak kelelahan berpikir, terstimulasi berlebihan oleh notifikasi WhatsApp, kemacetan, dan deadline waktu pekerjaan.
Fenomena Red Mind kebalikan dengan Blue Mind. Ahli biologi kelautan Wallace J. Nicholas, penulis buku Blue Mind. Blue Mind menegaskan bahwa interaksi dengan air memicu respons positif pada otak yang membuat seseorang merasa dirinya lebih tenang dan bahagia. Hal ini dikarenakan saat melihat hamparan air dan deburan ombak membuat otak melepaskan dopamin, serotonin dan oksitosin, yakni hormon hormpn yang bertanggung jawab atas rasa bahagia dan tenang. Laut /pantai sendiri secara psikologis diasosikan dengan ketenangan dan stabilitas karena warna nya yang biru. Warna biru memberikan sinyal “istirahat” untuk sistem saraf yang sedang tegang.
“Pink Noise”, sebagai TerapiKetika anda mencoba untuk menutup mata dan membayangkan suara ombak, terasa menenangkan bukan?
Suara deburan ombak memiliki pola yang unik, konsisten, berirama, tetapi tidak monoton. Dalam kajian sains audio, suara deburan ombak mendekati apa yang disebut dengan Pink Noise.
Hal ini berbeda sekali dengan suara kebisingan di perkotaan, di mana suara bising lalu lintas yang tajam dan keras membuat otak berada dalam kondisi Red Mind. Frekuensi yang merata, tetapi intensitasnya menurun pada frekuensi tinggi merupakan karakteristik dari Pink Noise. Suara inilah sangat efektif untuk menyinkronkan gelombang otak kita.
Kerap di temui, orang yang sedang berlibur ke pantai justru tertidur pulas di pinggir pantai meski tanpa kasur empuk. Hal ini karena suara ombak membentuk otak bergeser dari gelombang Beta ke gelombang Alpha. Gelombang Beta menunjukkan kondisi stres dan fokus tinggi sedangkan gelombang Alpha menunjukkan kondisi rileks dan reaktif.
Resep Medis dari AlamJadi, pergi ke pantai sebenarnya lebih dari sekadar flexing liburan, namun itu adalah kebutuhan biologis. Pergi ke pantai semakin relevan untuk menjaga kewarasan dan sebagai “resep” di era di mana kita semakin terputus dari alam dan semakin sibuk terikat pada layar handphone dan kesibukan pekerjaan. Laut dan pantai tidak menjadi tempat untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk memulihkan kapasitas dalam menjalani (recharging).
Jadi, saat berikutnya anda merencanakan liburan ke pantai, jangan merasa salah. Karena, pantai bisa menjadi tempat “pulang” bukan hanya sekadar “healing.” Anggaplah sebagai biaya pemeliharaan kesehatan mental yang dirasa cukup mahal.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F05%2F969f851647f2ffb48453361dc9b707b8-20251206TOK91.jpg)
