“Sains tidak boleh eksklusif, teknologi harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan pengetahuan tidak boleh tumbuh meninggalkan masyarakat,” kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Praktisi kehumasan Universitas Kristen Maranatha, Iwan Santosa, mengatakan ada empat masalah saintek masih eksklusif. Pertama, informasi saintek umumnya terlalu teknis, menggunakan istilah akademik yang sulit dicerna khalayak umum.
Kedua, minat dan keterlibatan masyarakat terhadap konten bertema riset dan inovasi masih rendah dibandingkan dengan konten populer lainnya. Ketiga saintek dipersepsikan eksklusif dan dianggap milik kalangan ahli bukan alat yang mudah digunakan masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir, ekosistem komunikasi saintek belum terbentuk. Hal ini mengakibatkan sinergi antara humas, akademisi, dan masyarakat dalam menyebarluaskan pengetahuan secara partisipatif dan berdampak, masih sangat terbatas.
Program Semesta adalah keterlibatan humas kampus yang ditempatkan dalam posisi strategis. Salah satu bagian dari program Semesta, yakni Resona Saintek, mendorong humas untuk menjembatani pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat lokal.
Melalui program ini, humas kampus ditempatkan sebagai fasilitator dan komunikator sains untuk mengarusutamakan isu-isu saintek di ruang publik. Peran strategis humas diperkuat untuk memperluas akses dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sains dan teknologi.
Resona Saintek dilaksanakan pada periode 12 September 2025 hingga 14 Desember 2025. Hasil capaian kinerja dan luaran seluruh rangkaian program Semesta dipamerkan dalam ajang apresiasi “Repertoar 2025” di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta pada 20 Desember 2025.
Baca Juga :
Semangat Membicarakan Sainstek Mesti MenularProgram Resona saintek diikuti oleh 11 kampus terpilih berdasarkan seleksi ketat dari hampir tiga ribu PTN dan PTS nasional. Kesebelas kampus ini menjadi pionir pelaksanaan program kampanye tematik pembumian saintek yang baru pertama kali diadakan di Indonesia.
Kampus tersebut adalah:
- Institut Teknologi Sumatera
- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
- Universitas Gadjah Mada
- Universitas Kristen Maranatha
- Universitas Jenderal Soedirman
- Universitas Muhammadiyah Kudus
- Universitas Veteran Bangun Nusantara
- Universitas Dhyana Pura
- Politeknik Negeri Jember
- Politeknik Bintan Cakrawala
- Politeknik Negeri Padang.
“Kami merasakan langsung bagaimana Humas Maranatha bisa berperan strategis sebagai komunikator sains dalam upaya nasional pembumian saintek. Jujur, prosesnya tidak mudah dan banyak tantangan,” ujar Iwan.
Kuncinya, kata dia, adalah kerja keras dan kerja cerdas, sistematis tapi adaptif dalam membangun komunikasi kehumasan melibatkan kolaborasi dan partisipasi dari semua komponen pentaheliks. Dia menyebut Kemdiktisaintek sangat membantu memfasilitasi untuk menjadi motor pembumian saintek di tengah masyarakat.
Universitas Kristen Maranatha dalam program Resona Saintek mengangkat tema “Kampanye Kehumasan Terpadu Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia”. Produk inovasi saintek yang diangkat dalam kampanye ini adalah “Batik Kura-Kura”, “Batik Naskah Kuno”, dan “Batik Bersuara”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467447/original/017508900_1767886053-Panglima_TNI_Jenderal_Agus_Subiyanto_memberikan_penghargaan_kepada_anggota_TNI_sekaligus_atlet_peraih_medali_di_SEA_Games.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1054770/original/086206300_1539601356-035217700_1447467756-sepak-bola.jpg)