Akademisi: Danantara fondasi agar ekonomi jangka panjang tidak rapuh

antaranews.com
23 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Firmansyah memandang bahwa keberadaan Danantara bukan menjadi obat cepat perekonomian tumbuh melainkan instrumen strategis yang membentuk fondasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang tidak mudah rapuh.

“Jadi, kualitas pertumbuhannya naik, bukan sekedar kecepatannya. Ekonominya akan kuat, tidak gampang ter-shock. Kalaupun shock, bisa teredam dengan baik, sehingga lebih stabil atau lebih kuat. Dan mudah-mudahan kuatnya di level tinggi terus,” kata Firmansyah dalam diskusi publik bersama Indef secara daring di Jakarta, Kamis.

Pandangan tersebut ia sampaikan berdasarkan hasil riset yang dilakukan menggunakan Overlapping Generations Model untuk Indonesia (OG-IDN), sebuah model ekonomi jangka panjang yang digunakan untuk melihat dampak kebijakan fiskal dan investasi lintas generasi.

Melalui model tersebut, Danantara dianalisis sebagai lembaga pengelola dana abadi yang bekerja dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga dampaknya tidak diasumsikan muncul secara langsung.

Dalam simulasi, menurut dia, implementasi Danantara dibagi ke dalam beberapa fase, mulai dari tahap awal pembentukan dan pembangunan kepercayaan, fase percepatan investasi, hingga fase konsolidasi dan pematangan peran ekonomi.

Hasil simulasi OG-IDN menunjukkan bahwa pembentukan Danantara berdampak pada sejumlah indikator makroekonomi utama.

Secara agregat, lanjutnya, terdapat peningkatan output atau produk domestik bruto (PDB) dan stok kapital, yang menegaskan bahwa Danantara bekerja terutama dari sisi penawaran.

“Artinya Danantara bekerja bukan dengan mendorong permintaan agregat, tapi dengan memperbaiki mesin produksi ekonomi. Ketika produktivitas dan insentif investasi membaik, kapital terakumulasi lebih besar, dan itulah yang mengangkat PDB secara keseluruhan,” kata Firmansyah menjelaskan.

Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa belanja rumah tangga meningkat secara bertahap dan tidak melonjak di awal, sementara penawaran tenaga kerja naik di seluruh kelompok pendapatan seiring membaiknya produktivitas, upah, dan insentif kerja.

Selain mendorong aktivitas ekonomi, simulasi menunjukkan perbaikan upah riil yang menguat setelah fase awal penyesuaian, sementara dari sisi fiskal dampaknya tetap terkendali seiring berjalannya waktu.

“Simulasi OG-IDN menunjukkan bahwa Danantara adalah reform fiskal yang layak secara makro, adil secara antargenerasi, dan aman secara fiskal, selama dikelola dengan tata kelola yang disiplin dan berorientasi produktivitas,” kata Firmansyah.

Namun demikian, Firmansyah juga memberi sejumlah catatan penting terkait dampak dan prasyarat kebijakan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa konsumsi masyarakat dalam jangka pendek diperkirakan menghadapi tekanan sebagai bagian dari proses penyesuaian, dengan dampak yang tidak merata dan lebih terasa pada kelompok berpendapatan rendah. Karena itu, diperlukan kebijakan pendamping yang lebih terarah.

Manfaat Danantara juga sangat bergantung pada kualitas tata kelola, kejelasan pemilihan proyek, serta disiplin fiskal. Tanpa pengelolaan yang ketat dan pengawasan bersama, tujuan kebijakan berisiko tidak tercapai.

Firmansyah juga menekankan bahwa Danantara bukan pengganti kebijakan jangka pendek, khususnya dalam isu lapangan kerja, sehingga perlu dikombinasikan dengan kebijakan padat karya, perlindungan sosial, stimulus UMKM, dan konsumsi.

Menurut dia, pendekatan ini bukan kelemahan, tetapi desain kebijakan yang secara sadar menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan penguatan fundamental ekonomi jangka menengah dan panjang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemprov DKI Bongkar Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Gunung Semeru 8 Kali Erupsi hingga Pagi Ini, PVMBG: Waspada Awan Panas
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Peluang Fintech untuk Pembangunan, Dari Inovasi Teknologi ke Penciptaan Lapangan Kerja
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Usai Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Dema UIN Alauddin Minta Seluruh Aktivis yang Dikriminalisasi Dibebaskan
• 1 jam lalufajar.co.id
thumb
Tersangka Kasus Ijazah Eggi Sudjana Temui Jokowi di Solo, Bahas Apa?
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.