Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kemampuan ekonomi petani Kalimantan Timur mengalami kemunduran menjelang akhir tahun 2025.
Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi indikator daya beli masyarakat pertanian tercatat turun menjadi 148,33 pada November 2025, atau 0,43% dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Kalimantan Timur Yusniar Juliana menyatakan penurunan ini terjadi akibat disparitas pergerakan harga yang tidak menguntungkan petani.
Kepala BPS Kalimantan Timur Yusniar Juliana menyatakan Indeks harga produk pertanian yang mereka jual justru turun 0,13%, sementara biaya hidup dan produksi yang harus mereka tanggung malah naik 0,31%.
Dengan kata lain, petani harus mengeluarkan lebih banyak uang sementara pendapatan mereka stagnan.
"Jika dibandingkan dengan NTP pada bulan yang sama tahun lalu, NTP November 2025 secara umum mengalami kenaikan sebesar 4,03%," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga
- Harga Pupuk Subsidi 2026, Prabowo Janjikan Ini Kepada Petani
- Prabowo Beri Hormat ke Petani hingga Mentan Usai Swasembada Beras Terwujud
- Kesejahteraan Petani Meningkat, NTP Capai 125,35 Desember 2025
Kendati demikian, tidak semua subsektor pertanian mengalami nasib serupa. Sektor perkebunan rakyat mencatat penurunan paling tajam dengan NTP yang anjlok 0,92%, diikuti tanaman pangan yang turun 0,46%, dan peternakan yang merosot 0,60%.
Di sisi lain, petani hortikultura justru merasakan angin segar dengan kenaikan signifikan sebesar 2,79%, terutama didorong oleh lonjakan harga sayuran yang mencapai 5,83%.
"Kenaikan tertinggi dialami kelompok sayur-sayuran sebesar 5,83%, diikuti kelompok tanaman obat-obatan sebesar 0,51%, dan kelompok buah-buahan sebesar 0,17%," katanya.
Yusniar mengungkapkan dari 38 provinsi di Indonesia, 22 provinsi justru mengalami penurunan NTP pada periode yang sama.
Kalimantan Timur berada di posisi tengah dengan penurunan 0,43%, lebih baik dibandingkan Kalimantan Barat yang anjlok 1,58%, namun lebih buruk dari Kalimantan Selatan yang justru naik 0,81%.
Lebih jauh, Yusniar menjelaskan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang mengukur profitabilitas usaha pertanian juga ikut tertekan, turun 0,35% menjadi 154,13.
Tak pelak, hal ini mengonfirmasi bahwa petani tidak hanya menghadapi tekanan konsumsi, tetapi juga kesulitan dalam menjalankan usaha pertanian mereka.
Sektor perkebunan rakyat, kendati mengalami penurunan, tetap menjadi subsektor dengan NTP tertinggi di Kalimantan Timur dengan angka 211,45.
Namun, angka ini tidak boleh menutupi fakta bahwa sebagian besar petani di subsektor lain masih bergelut dengan margin keuntungan yang tipis.
Adapun, dia menuturkan survei pemantauan harga yang dilakukan BPS mencakup enam kabupaten yaitu Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara.
Dengan basis tahun 2018, NTP November 2025 menunjukkan bahwa harga produk pertanian telah naik rata-rata 84,17%, sementara biaya yang harus dibayar petani naik 24,16%. Menariknya, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, NTP secara tahunan masih tumbuh 4,03%.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461718/original/089739600_1767433302-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48.jpeg)


