Trump Perintahkan Pembelian Obligasi KPR USD 200 Miliar, Bidik Bunga Murah

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pembelian obligasi hipotek atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) senilai USD 200 miliar. Tujuannya untuk suku bunga kredit KPR dan meningkatkan keterjangkauan perumahan.

Trump menyatakan langkah tersebut dimungkinkan karena keputusannya pada masa jabatan pertamanya untuk tidak menjual Federal National Mortgage Association dan Federal Home Loan Mortgage Corporation (Fannie Mae dan Freddie Mac), dua lembaga pembiayaan hipotek milik pemerintah AS yang berperan menjaga likuiditas pasar kredit perumahan dengan membeli dan mengemas KPR menjadi obligasi.

Menurut Trump, kedua entitas tersebut kini memiliki nilai dan cadangan kas besar, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membeli obligasi hipotek dalam skala besar guna menekan suku bunga KPR dan meningkatkan keterjangkauan perumahan. Ia pun menginstruksikan perwakilannya untuk merealisasikan pembelian obligasi tersebut.

“Saya menginstruksikan para perwakilan saya untuk membeli obligasi hipotek senilai USD 200 miliar. Ini akan menurunkan suku bunga KPR, menurunkan cicilan bulanan, dan membuat biaya kepemilikan rumah menjadi lebih terjangkau," katanya dalam unggahan di Truth Social, Jumat (9/1).

Dalam cuitannya, Trump menyinggung eks Presiden AS Joe Biden yang menurutnya selama ini abai terhadap pasar perumahan AS, tingkat kejahatan tinggi, hingga inflasi tak terkendali.

"Semuanya rusak, tetapi saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, telah memperbaikinya! Sekarang, saya memberikan perhatian khusus pada pasar perumahan. Ini adalah salah satu dari banyak langkah saya untuk memulihkan keterjangkauan rumah, sesuatu yang dihancurkan sepenuhnya oleh Pemerintahan Biden," katanya.

Terpisah, dikutip dari Reuters, Direktur Federal Housing Finance Agency Bill Pulte menyebut Fannie Mae dan Freddie Mac akan melaksanakan kebijakan tersebut. Namun, data keuangan terbaru menunjukkan total kas kedua perusahaan itu masih jauh di bawah angka USD 200 miliar seperti yang diklaim Trump.

Gedung Putih belum memberikan penjelasan lebih lanjut terkait sumber dana yang akan digunakan. Para analis menilai rencana tersebut, jika diterapkan, berpotensi menyerupai stimulus ekonomi melalui pembelian aset seperti yang pernah dilakukan Federal Reserve saat pandemi, meski mekanisme pendanaannya masih belum jelas.

Isu keterjangkauan biaya hidup, termasuk perumahan, menjadi sorotan utama publik AS, di tengah menurunnya tingkat persetujuan terhadap Trump akibat kekhawatiran atas kondisi ekonomi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KOI Apresiasi Pemerintah atas Bonus Atlet SEA Games 2025
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Polisi Langsung Analisis Barang Bukti
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Kisah Nafil WNI Pekerja di Dubai: Tak Ada Pajak Penghasilan, tapi...
• 10 jam laluinsertlive.com
thumb
B40 pangkas impor solar dan tekan emisi hingga 38,88 juta ton CO2e
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Gunung Semeru Erupsi Lagi Hari Ini, Awan Panas Meluncur 5.000 Meter ke Tenggara
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.