Liputan6.com, Jakarta - Julukan Kampung Zombie bukan sekadar istilah sensasional bagi deretan rumah di kawasan Cililitan, Jakarta Timur. Nama itu lahir dari pemandangan yang nyaris sureal, rumah-rumah yang tampak hidup di lantai atas, sementara bagian bawahnya mati—kosong, gelap, dipenuhi lumpur dan sisa banjir yang tak pernah benar-benar pergi.
Di bantaran sungai itu, kehidupan berjalan seperti makhluk yang bangkit dari genangan. Penghuninya beraktivitas di lantai dua atau tiga rumah, sementara lantai dasar dibiarkan membusuk oleh endapan tanah dan air. Kampung ini sudah lama akrab dengan banjir kiriman dari Bogor, dan dari situlah identitas “zombie” melekat.
Advertisement
Reporter Liputan6.com Siti Khoirul Inayah, yang menyambangi lokasi Kampung Zombie pada Kamis, 7 Januari 2026 sore, tampak melihat bagaimana kontrasnya bangunan langsung terasa. Ada rumah yang ditinggikan hingga beberapa meter, seolah bersiap melawan banjir berikutnya. Di sebelahnya, bangunan lama tampak tenggelam, rendah, dan rapuh. Di beberapa titik, lantai dasar sudah berubah fungsi bukan lagi ruang keluarga, melainkan ruang lumpur.
Di kampung itulah Yudi (50) bertahan. Pedagang bakso cuanki asal Cikarang itu sudah lebih dari setahun mengontrak rumah di Kampung Zombie bersama anaknya. Alasan Yudi sederhana dan klasik, harga sewa.
“Kalau di sini ada yang Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per bulan. Saya sendiri Rp400 ribu,” kata Yudi.
Harga murah itu, menurutnya, sebanding dengan risiko. Kontrakan dengan tarif rendah biasanya memiliki kamar mandi di luar rumah, dipakai bersama oleh lima hingga enam keluarga.
“Kalau yang Rp300 ribu sampai Rp400 ribu itu kamar mandinya di luar, jadi kalau mandi harus antre. Yang Rp600 ribu sampai Rp1,2 juta baru kamar mandinya di dalam,” tuturnya.
Yudi pindah ke Cililitan atas saran sesama pedagang. Katanya, Jakarta menjanjikan omzet lebih besar. Namun realitas tak sepenuhnya seindah cerita.
“Penghasilan enggak jauh beda sama di Cikarang. Bedanya, di sini harus siap banjir,” ujarnya lirih.
.jpg)


