Kedunguan Emosional: Sisi Gelap Maskulinitas

kumparan.com
22 jam lalu
Cover Berita
Mitos “Laki-laki Logis” dan Matinya Empati

Istilah “laki-laki logis” telah lama berkelindan dengan konstruksi gender di masyarakat. Penting untuk digarisbawahi bahwa gender bukanlah kodrat biologis yang kaku, melainkan konstruksi sosial yang mencakup peran, perilaku, identitas, dan atribut yang dilekatkan pada laki-laki maupun perempuan.

Dalam tatanan ini, laki-laki dididik untuk tampil agresif dan tabu menunjukkan kerentanan. Melalui representasi media, citra laki-laki dikunci pada narasi sebagai sosok pemimpin yang aktif, kuat, dan terutama: logis.

Namun, narasi bahwa laki-laki adalah makhluk yang murni logis sebenarnya adalah mitos yang keliru. Sebagai manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama dianugerahi spektrum emosi yang luas.

Maka, kecerdasan emosional bukanlah bakat alami satu gender saja, melainkan keterampilan yang seharusnya diasah oleh siapa pun, terutama dalam konteks relasi. Sayangnya, sisi gelap maskulinitas membuka gambaran pahit bahwa banyak sekali laki-laki yang pasif secara emosional.

Ada dua kemungkinan mengapa ini terjadi. Pertama, banyak laki-laki terjebak dalam stigma bahwa mengekspresikan emosi—seperti kesedihan atau kebutuhan untuk menenangkan pasangan—adalah tindakan yang terlalu "feminin".

Kedua, laki-laki yang sadar akan ketidakmampuannya mengekspresikan emosi, tetapi alih-alih belajar, mereka justru menjadikannya alibi untuk berhenti berusaha. Mengatakan "aku memang begini" akhirnya menjadi tameng untuk tetap berada dalam zona nyaman, sementara pasangan dipaksa memaklumi kekosongan tersebut.

Perempuan Menjadi “Guru Emosi”

Saat laki-laki enggan mempelajari kecerdasan emosi dan bersembunyi di balik tameng ketidakmampuan, perempuan otomatis akan dipaksa “memaklumi” dan dibebani peran sebagai “guru emosi”.

Mereka akan mendiktekan instruksi tentang bagaimana seharusnya laki-laki berperilaku atau memperlakukan mereka (perempuan) sebagai pasangan. Ketimpangan ini menciptakan relasi yang parasitik; yang satu terkuras secara mental karena terus “mengajar”, sementara pihak lain menunggu untuk diajar dan tenang dalam kepasifannya.

Jika kita sepakat bahwa konstruksi bersifat cair dan dapat dinegosiasikan, sudah waktunya laki-laki membenah diri. Kecerdasan emosional harus dipandang sebagai aset yang sama pentingnya dengan kemampuan mencari nafkah.

Kemampuan merespons emosi, menenangkan pasangan, dan berkomunikasi secara dua arah seharusnya menjadi standar baru bagi harga diri laki-laki dewasa.

Maskulinitas yang utuh tidak lagi ditemukan dalam sikap diam yang membatu, tetapi dalam keberanian untuk hadir secara emosional dan bertanggung jawab atas rasa aman pasangannya.

Ego Maskulin dalam Kata Maaf

Dalam narasi maskulinitas tradisional, laki-laki dididik untuk menjadi pihak yang dominan dan kuat. Konstruksi ini secara tidak langsung menanamkan pemahaman bahwa tindakan dan pikiran laki-laki selalu benar.

Akibatnya, banyak laki-laki yang menganggap permintaan maaf bukan sebagai bentuk tanggung jawab moral, melainkan sebuah “kelemahan” atau “kekalahan” yang menjatuhkan harga diri mereka. Maka, permintaan maaf bagi laki-laki bukan lagi sekadar soal objektivitas salah atau benar, melainkan juga pertarungan ego.

Karena ego tersebut, permintaan maaf yang muncul terkesan setengah hati: defensif, formalitas, dan tanpa perubahan perilaku nyata. Mereka enggan terlibat dalam perbincangan emosional yang mendalam karena dianggap tidak “jantan”. Dengan bias gender yang kental, percakapan emosional dianggap sebagai ranah perempuan, sehingga mereka merasa punya hak istimewa untuk tetap abai.

Ketidakmampuan mengolah emosi akhirnya menjadi tameng untuk melindungi diri sendiri agar tidak terlihat rapuh. Pada akhirnya, mementingkan ego menjadi pilihan paling praktis agar laki-laki tidak perlu repot belajar memahami atau menenangkan pasangan, meski harus mengorbankan perasaan pasangan yang terluka.

Definisi Ulang Maskulinitas

Hubungan yang dibangun di atas ketimpangan adalah hubungan yang tidak sehat. Memaksa perempuan menyesuaikan langkah dan mengajari laki-laki terlalu banyak adalah bentuk beban emosional yang merusak.

Maka, penting untuk mendefinisikan ulang maskulinitas bahwa menjadi laki-laki yang utuh berarti menjadi sosok yang cerdas secara emosi, ramah empati, dan berani bertanggung jawab atas rasa aman orang lain.

Selain itu, menjadi laki-laki bukan berarti memiliki hak istimewa untuk tidak peka dan terlena dalam kenyamanan di atas luka orang lain. Sudah saatnya laki-laki berhenti bersembunyi di balik kata “tidak bisa” dan mulai belajar “hadir” karena belajar memahami adalah bentuk kekuatan maskulinitas yang sesungguhnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gol cepat jadi kunci kemenangan Persita atas Borneo FC
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Gunung Semeru Kembali Erupsi, Muntahkan Awan Panas Guguran
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prediksi Persita Vs Borneo FC Samarinda: Pesut Etam Incar Status Juara Paruh Musim
• 23 jam lalubola.com
thumb
Masuk ke Gedung lalu Harus Tinggal KTP, Amankah Data Pribadi Kita?
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Menko Yusril: Pilkada Langsung atau Melalui DPRD Sama-sama Konstitusional
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.