EtIndonesia. Kebijakan energi global mengalami perubahan besar setelah Menteri Energi AS, Chris Wright mengumumkan rencana Washington untuk mengambil alih pengendalian penjualan minyak mentah Venezuela secara tak terbatas, sekaligus menjualnya ke pasar internasional. Pernyataan ini disampaikan Wright dalam konferensi energi Goldman Sachs yang digelar di Miami, Florida, pada 7 Januari 2026.
Menurut Wright, AS akan terlebih dahulu memasarkan minyak Venezuela yang sudah tersimpan di fasilitas penyimpanan, kemudian melanjutkan penjualan produksi minyak negara itu tanpa batas waktu. Penjualan akan dilakukan oleh Pemerintah AS, dengan hasil pendapatan disetorkan ke rekening yang dikendalikan oleh Washington.
Wright menyatakan bahwa langkah ini dimaksudkan sebagai alat untuk mendorong perubahan politik dan ekonomi di Venezuela yang sedang bergejolak, sekaligus memberi manfaat tidak hanya bagi pasar energi global tetapi juga bagi rakyat Venezuela melalui aliran hasil penjualan tersebut.
Perubahan Arah Ekspor Minyak Venezuela
Sejak bertahun-tahun, Venezuela menjadi salah satu eksportir minyak utama ke Tiongkok, dengan estimasi sekitar 40% ekspor minyaknya ditujukan ke pasar Asia tersebut pada periode 2024–2025.
Namun kebijakan AS yang kini mengambil alih penjualan dan pengelolaan hasil penjualan minyak secara penuh berarti arus perdagangan minyak Venezuela akan berubah drastis. Wright menyatakan bahwa AS ingin menjual minyak Venezuela ke pasar global, termasuk kilang-kilangnya sendiri di AS, serta kepada pembeli internasional lain.
AS juga telah mencapai kesepakatan awal dengan pemerintah sementara Venezuela untuk mengekspor sekitar 30–50 juta barel minyak mentah Venezuela ke AS pada fase awal, senilai sekitar 1,8–2,8 miliar dolar. Hasil penjualan minyak tersebut akan dikendalikan oleh AS melalui rekening yang dikelola Washington terlebih dahulu.
Dampak Geopolitik dan Analisis Ahli
Menurut beberapa pengamat geopolitik, termasuk analis dan akademisi dari Eropa, langkah AS ini memiliki tujuan strategis besar untuk melemahkan pengaruh rival global, terutama Tiongkok, yang selama ini menjadi pembeli minyak Venezuela terbesar. Pengambilalihan aliran minyak Venezuela oleh Washington dinilai dapat mengurangi ketergantungan energi global Tiongkok terhadap Caracas serta memutus hubungan strategis antara Venezuela, Iran, Rusia, dan Partai Komunis Tiongkok. (Catatan: Laporan wawancara dari majalah L’Express seperti dikutip sebelumnya dalam pertanyaan pengguna.)
Para analis juga menekankan bahwa tujuan Pemerintah AS bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga termasuk perubahan internal rezim Venezuela dan restrukturisasi hubungan diplomatik energi global.
Reaksi Publik dan Komentar Netizen
Di media sosial dan platform diskusi internasional, pengumuman tentang kendali minyak Venezuela oleh AS memicu gelombang komentar satir dan kritik. Beberapa netizen menanggapi secara sarkastik dengan menyampaikan bahwa tindakan seperti itu akan membuat zona larangan terbang atau pembelaan udara Tiongkok tidak relevan. Ada pula komentar yang menyebut bahwa kemampuan militer Taiwan — dengan peralatan buatan AS — secara teori bisa melakukan operasi serupa, menciptakan suasana yang dipandang semakin kompleks dan menegangkan di arena geopolitik.
Implikasi Lebih Luas
Langkah ini terjadi pada momen yang bersamaan dengan dukungan AS terhadap perubahan politik di Iran, serta sanksi yang dikenakan pada perusahaan energi besar Rusia seperti Lukoil dan Rosneft. Sanksi tersebut dipandang memperdalam tekanan terhadap hubungan energi antara Rusia dan Tiongkok, serta dapat memicu serangkaian sanksi lanjutan yang berpotensi menahan impor minyak China dari pasar energi Rusia.
Secara keseluruhan, keputusan AS untuk mengendalikan dan menjual minyak Venezuela secara tak terbatas mencerminkan pergeseran signifikan dalam peta geopolitik energi global, dengan kemungkinan dampak ekonomi, strategis, dan diplomatik jangka panjang yang masih akan terus berkembang.




