Pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, IHSG dibuka menguat 0,34 persen ke level 8.956.
Kenaikan IHSG diikuti dengan laju indeks saham LQ45 yang naik 0,67 persen atau berada pada level 873.
Baca juga: Penangkapan Presiden Nicolas Maduro Berikan Tekanan Sementara di Pasar Keuangan
Kemudian indeks saham unggulan syariah JII naik 0,46 persen pada level 872. Kenaikan IHSG ditopang dari saham MEDC, UNVR, INKP, GOTO, BBCA dan TOWR.
Sementara itu pada penutupan perdagangan kemarin IHSG turun 0,22 persen ke level 8.925,47. Indeks LQ45 dan IDX30 masing-masing melemah 0,43 persen dan 0,72 persen.
Secara sektoral, kinerja bursa domestik bervariasi. Sektor energi mencatat penguatan 0,49 persen seiring lonjakan harga minyak dunia.
Sektor transportasi dan infrastruktur juga menguat masing-masing 1,75 persen dan 1,43 persen. Sebaliknya, sektor bahan baku terkoreksi tajam 3,22 persen, sementara sektor teknologi turun 1,10 persen. Wall Street Menguat Pasar saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat signifikan, sementara Nasdaq Composite justru melemah akibat aksi rotasi investor keluar dari saham-saham teknologi.
Dow Jones melonjak 270 poin atau 0,55 persen ke level 49.266. Sebaliknya, Nasdaq terkoreksi 0,44 persen ke posisi 23.480. Indeks S&P 500 relatif stagnan, hanya naik tipis 0,01 persen ke level 6.921.
Rotasi sektor terlihat jelas di tengah kekhawatiran valuasi saham teknologi yang sudah tinggi, seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke 4,17 persen, sementara yield 2 tahun berada di 3,49 persen. Indeks volatilitas (VIX) bergerak naik tipis ke level 15,45.
Di Eropa, bursa saham bergerak terbatas. FTSE 100 Inggris turun 0,04 persen, DAX Jerman naik tipis 0,02 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,12 persen. Sementara itu, pasar Asia justru tertekan. Nikkei Jepang anjlok 1,63 persen, Hang Seng Hong Kong turun 1,17 persen, dan Shanghai Composite melemah tipis 0,07 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 6,16 persen. Namun, risiko Indonesia tercermin dari kenaikan CDS 5 tahun ke level 68,49. Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp16.798 per dolar AS, sejalan dengan penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 98,87. Harga Komoditas Dari pasar komoditas, harga minyak melonjak tajam. Minyak WTI naik hampir 4 persen ke USD58,55 per barel, sementara Brent menguat lebih dari 4 persen ke USD62,54 per barel. Emas juga menguat, dengan harga emas Comex naik 0,52 persen ke USD4.487 per troy ounce.
Sebaliknya, sejumlah logam industri tertekan. Harga nikel anjlok lebih dari 4 persen, tembaga turun 0,81 persen, dan perak melemah 1,69 persen. Harga bijih besi juga terkoreksi ke USD107,65 per ton.
Di sisi energi lainnya, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Januari–April bergerak menguat tipis, sementara batu bara Rotterdam justru melemah. Harga CPO Malaysia kontrak Maret naik terbatas ke level 4.042 ringgit per ton.
Pergerakan pasar global ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang mulai menyeimbangkan portofolio di tengah ketidakpastian arah suku bunga global dan dinamika pertumbuhan ekonomi 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)




