TABLOIDBINTANG.COM - Ammar Zoni kembali buka suara terkait tudingan yang menyebut dirinya sebagai bandar narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Kamis (8/1), Ammar dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut dan mengaku hanya menjadi korban situasi peredaran narkoba di dalam sel.
Di hadapan majelis hakim, Ammar menjelaskan awal mula dirinya terseret dalam perkara ini. Semua bermula ketika seorang tahanan bernama Jaya dipindahkan ke kamar selnya, sekitar satu minggu sebelum penggerebekan dilakukan aparat.
Menurut Ammar, Jaya bukan orang biasa. Ia disebut sebagai kaki tangan dari seorang narapidana bernama Andre, yang dikenal luas sebagai bandar besar narkoba di Lapas Salemba.
"Kita semua tahu bandar narkoba di Rutan Salemba itu adalah Andre. Dia bos besar lah ya, bos narkoba," ujar Ammar di persidangan.
Ammar mengungkapkan, Jaya mendekatinya dan menawarkan sebuah “pekerjaan” dengan dalih mencari tambahan uang untuk tahun baru. Jaya meminta Ammar menjadi pengawas barang haram tersebut. Sebagai imbalan, Ammar dijanjikan upah sebesar Rp 10 juta.
Alih-alih tergiur, Ammar justru mengaku tertawa mendengar tawaran tersebut. Ia merasa nilai yang ditawarkan sama sekali tidak sebanding dan merendahkan harga dirinya.
"Saya ketawa, Yang Mulia. Harga saya nggak segitu. Buat apa saya harus ngelihatin narkoba juga segala macam?" kata Ammar tegas kepada Hakim.
Ammar menambahkan bahwa pengalaman pahitnya dengan narkoba di masa lalu membuatnya tidak mungkin mau kembali terlibat, terlebih hanya demi uang Rp 10 juta.
"Malah karena narkoba itu kan saya sudah berkali-kali kena masukan," lanjutnya.
Meski mengaku menolak tawaran tersebut, Ammar merasa dirinya justru menjadi sasaran utama saat penggerebekan dilakukan pada 3 Januari 2025. Dari empat orang yang berada di dalam sel, Ammar menyebut hanya dirinya yang diperiksa secara intensif.
Ia juga mempertanyakan proses ditemukannya barang bukti berupa ganja di ventilasi pintu kamar. Menurut pengakuannya, saat penggeledahan awal tidak ditemukan apa pun. Namun, tak lama kemudian, seorang petugas bernama Pak Eka datang membawa ganja dan mengklaim barang tersebut ditemukan di atas ventilasi.
"Dia membuat saya seolah-olah saya menjadi induknya, saya menjadi orang terakhirnya. Lah saya bilang bagaimana ceritanya saya nggak kenal sama mereka semua," pungkas Ammar.




