Kisah Ikanesia Merajut Ekonomi Biru, Ubah Limbah Ikan Jadi Masa Depan Pesisir

harianfajar
17 jam lalu
Cover Berita

Oleh: SAKINAH FITRIANTI
Bekasi, Jawa Barat

Siang itu, Jumat 12 Desember, penulis menyambangi sebuah kawasan industri di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Di balik pagar sederhana dan bangunan gudang bercat kusam, denyut masa depan ekonomi biru sedang dirajut perlahan. Bau anyir yang kerap melekat pada limbah ikan nyaris tak tercium.

Yang terdengar justru suara toples-toples beradu ringan, tutup berdecit saat diputar, dan butiran pakan jatuh perlahan, seolah menandai perubahan, dari limbah menjadi nilai. Sesekali juga terdengar langkah kaki pekerja, dan gemericik air dari kolam-kolam budi daya ikan air tawar.

Farhan Yusran, CEO sekaligus Founder Ikanesia, menyambut langsung kedatangan FAJAR. Ia tak sekadar bercerita. Farhan mengajak menyusuri setiap sudut ruang produksi, tempat limbah ikan yang sudah menjadi butiran pakan dan serangga berprotein tinggi dipilah, diolah, dan diubah menjadi pakan bernilai.

Di tengah krisis iklim yang makin nyata, ketika musim tak lagi bisa ditebak dan laut kian rentan, limbah ikan bukan sekadar persoalan bau dan sisa. Ia adalah ancaman ekologis yang memperparah pencemaran pesisir. Namun dari persoalan inilah, Ikanesia memilih mengambil jalan berbeda untuk menghentikan pencemaran, dengan mengolah ikan-ikan yang membusuk menjadi pakan berkualitas dan bernilai.

Cuaca di pesisir tak lagi mudah ditebak. Musim yang dahulu datang teratur kini bergeser tanpa aba-aba. Hujan turun lebih lama, panas terasa lebih ekstrem, dan air laut kian sulit diprediksi. Bagi nelayan dan pembudidaya ikan, perubahan iklim bukan lagi isu global yang jauh. Ia hadir setiap hari di tambak yang keruh, di hasil panen yang menurun, dan di ikan-ikan yang membusuk sebelum sempat terjual.

Dalam kondisi iklim yang makin tak menentu, limbah ikan menjadi persoalan yang semakin nyata di pesisir. Ikan-ikan rusak akibat panas, tak terserap pasar, atau membusuk karena rantai dingin terganggu, kerap berakhir di laut. Bukan karena nelayan abai, melainkan karena tak ada sistem yang menampungnya.

“Ikan busuk dibuang ke laut itu sudah jadi kebiasaan. Padahal dampaknya panjang,” ujarnya.

Ketika ikan-ikan membusuk di perairan dangkal, oksigen terlarut menurun, bakteri berkembang, dan kualitas air rusak. Dalam situasi krisis iklim, pencemaran ini menjadi beban tambahan bagi ekosistem pesisir yang sudah rapuh.

“Kita berupaya menghentikan pencemaran dari hulunya,” ucapnya.

Perjalanan itu bermula pada semester kedua ia duduk dibangku perguruan tinggi pada 2013. Di sebuah kolam sederhana di Bekasi, Farhan memulai budi daya ikan. Dari percobaan kecil itulah, Ikanesia tumbuh menjadi gerakan yang mengubah cara pandang terhadap pakan ikan.

“Kami sadar pakan adalah kunci budi daya berkelanjutan. Selama ini, pakan bergantung pada bahan impor yang mahal dan meninggalkan jejak karbon besar,” ujarnya kepada penulis di sela-sela kunjungan.

Di dalam area produksi, penulis menyaksikan langsung proses yang jarang terlihat oleh publik. hasil dari pengolahan limbah ikan itu masuk ke tahap pemanasan bersuhu tinggi. Uap tipis mengepul dari mesin pengolah, menghilangkan bakteri dan bau, sekaligus mengunci kandungan protein di dalamnya. Dari bahan yang semula dianggap sisa, perlahan terbentuk pakan yang aman dan siap digunakan.

Perjalanan butiran pakan itu belum berakhir. Dari ruang pengolahan, hasil pemanasan mengalir ke tahap berikutnya, pengemasan. Di ruangan ini, suara toples beradu pelan dan kantong-kantong pakan yang diisi bergantian menjadi irama kerja. Butiran pakan ditakar dengan cermat, dituangkan perlahan, lalu kemasan ditutup rapat dan disusun rapi.

Tak lama berselang, paket-paket itu berpindah tangan. Sebagian telah dipesan melalui berbagai platform digital, sebagian lain diambil langsung oleh kurir yang datang silih berganti ke gudang. Dari ruang sederhana di Babelan, pakan dari limbah itu bersiap menempuh perjalanan baru menuju kolam-kolam ikan di berbagai daerah.

“Kalau limbah ini tidak kita kelola, laut yang menanggung akibatnya,” katanya.

Pendekatan ini bukan hanya mencegah pencemaran, tetapi juga memangkas emisi dari pakan berbahan impor yang selama ini menempuh ribuan kilometer sebelum tiba di tambak atau kolam-kolam ikan budidaya maupun akuarium ikan hias.

“Limbah yang selama ini dianggap beban, justru menyimpan potensi nutrisi besar. Di sini, semuanya kami putar kembali menjadi pakan yang ramah bagi laut dan iklim,” paparnya.

Mengolah limbah menjadi pakan, kata Farhan, bukan sekadar efisiensi, melainkan memutus siklus pencemaran. Setiap kilogram limbah yang tak dibuang ke laut berarti satu langkah menjauh dari air tercemar dan bau anyir pesisir.

Ikanesia berhasil menekan harga pakan hingga sekitar delapan ribu rupiah per unit, jauh lebih murah dibanding pakan impor. Di tengah fluktuasi harga dan gangguan rantai pasok global, ini menjadi napas lega bagi petani ikan dan pelaku usaha kecil.

Tidak berhenti pada pakan, penulis juga diajak melihat kolam-kolam budi daya ikan air tawar yang berada di area yang sama. Air kolam tampak jernih, menjadi bukti langsung bahwa pakan berbasis limbah ini bekerja.

Pendekatan ekonomi biru itu juga menjelma dalam budi daya ikan hias. Di sudut lain fasilitas Ikanesia, suasana berubah lebih tenang. Deretan wadah transparan tersusun rapi, masing-masing berisi ikan cupang dengan warna menyala merah menyembur seperti api, biru metalik berkilau, hijau toska yang berubah mengikuti cahaya. Sirip-siripnya mengembang perlahan, anggun di air yang terjaga.

Spesialis akuakultur ikan hias Ikanesia, Himawan, menjelaskan bahwa ikan-ikan ini telah menembus pasar ekspor.

“Bahkan pembeli dari luar negeri sering memesan ikan disini. Untuk kualitas tertentu, harganya bisa mencapai USD100 dolar per ekor,” ujarnya.

Katanya, integrasi pakan berbasis limbah dan budi daya ikan hias menciptakan rantai nilai yang utuh. Limbah yang nyaris mencemari laut kini menghidupi ikan-ikan bernilai tinggi yang berenang hingga pasar global.

Dari Babelan hingga Belitung, dari kolam kecil hingga pesisir timur Indonesia, Ikanesia merajut masa depan ekonomi biru dari sesuatu yang nyaris dibuang.

Di tengah krisis iklim, kisah ini menunjukkan bahwa solusi tak selalu lahir dari teknologi raksasa. Kadang, ia bermula dari limbah yang diolah, kolam yang dirawat, dan keberanian melihat pakan sebagai alat perubahan.

“Ketika ikan busuk tak lagi dibuang ke laut, ketika air kembali terjaga, dan ketika limbah berubah menjadi nilai, di situlah ekonomi biru menemukan maknanya yang paling manusiawi,” ucapnya.

Belitung: Memulihkan Pesisir yang Terluka
Dampak perubahan iklim semakin berat di wilayah yang telah lama terdegradasi. Di Belitung, lubang-lubang bekas tambang timah menjadi simbol kerusakan lingkungan yang diperparah oleh cuaca ekstrem dan kualitas air yang buruk.

“Ikanesia hadir dengan pendekatan pemulihan. Melalui sistem akuakultur berkelanjutan yang dikombinasikan dengan bioremediasi berbasis mikroalga, lubang bekas tambang dialihfungsikan menjadi tambak ikan nila,” jelas Farhan.

Pakan lokal berbahan limbah ikan, produk sampingan pertanian, dan serangga digunakan untuk menjaga keseimbangan ekosistem air. Upaya ini mendapat pengakuan sebagai penggerak utama perubahan di Belitung melalui inisiatif dampak yang diselenggarakan GoTo Impact Foundation, Instellar Indonesia, dan ANGIN. Program ini direncanakan berjalan pada kuartal pertama 2025.

Blue Economy di Tengah Tekanan Iklim
Di Kebalen, Kabupaten Bekasi, pendekatan tersebut diwujudkan melalui Program Blue Economy bersama Ikanesia yang merupakan perusahaan yang berinovasi dalam memproduksi pakan ramah lingkungan dan budi daya ikan hias.

“Program ini mengembangkan ekonomi biru berbasis komunitas dengan fokus pada empat bidang utama, di antaranya kita terlibat pada pemberdayaan petani ikan, dan penciptaan wirausahawan baru,” pungkasnya.

Ikanesia merupakan salah satu dari 15 startup yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program kewirausahaan KINETIK NEX yang menggandeng 15 startup energi bersih dan iklim di Indonesia untuk mempercepat transisi energi hijau nasional dan juga aktif memanfaatkan media sosial seperti live streaming di TikTok untuk edukasi dan pemasaran, membuka akses yang lebih luas bagi konsumen dan pelaku usaha kecil.

Salah satu terobosannya adalah merevolusi budi daya bandeng dengan pakan rendah karbon berbasis limbah ikan. Sistemnya tidak konvensional. Pakan ditukar dengan hasil panen melalui mekanisme barter.

Dalam kondisi iklim yang kian tak menentu, skema ini memberi perlindungan bagi petani. Risiko cuaca ekstrem tidak langsung berubah menjadi kerugian finansial.

“Bandeng hasil panen kemudian diolah menjadi bandeng presto. Sebanyak 70 persen dijual dengan harga terjangkau, sementara 30 persen sisanya didistribusikan ke sekolah-sekolah dan anak-anak kurang gizi di Kebalen. Perubahan iklim memperparah kerentanan pangan. Kami ingin hasil laut kembali kepda masyarakat pesisir,” ujarnya.

Lebih dari sekadar budi daya ikan, Farhan menyebut bahwa inisiatif ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan, mengurangi stunting, dan menciptakan mata pencaharian baru di tengah tekanan iklim.

“Bagi kami, keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi bagaimana pangan tetap tersedia, anak-anak tumbuh sehat, dan masyarakat pesisir punya masa depan di tengah krisis iklim,” katanya.

Produksi yang Lebih Dekat dengan Laut
Ke depan, Ikanesia berencana memperluas dampaknya ke wilayah timur Indonesia, termasuk Makassar dan Kabupaten Pangkep. Wilayah pesisir ini dinilai strategis karena ketersediaan limbah perikanan yang melimpah serta komunitas nelayan yang kuat.

Alih-alih mengirim pakan dari Jawa, Ikanesia ingin membangun fasilitas pengolahan langsung di dekat sumber bahan baku. Langkah ini bertujuan memangkas emisi logistik sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

“Perubahan iklim menuntut produksi yang lebih dekat dengan sumbernya, dan akan memangkas biasa distribusi jika prosesnya juga lebih dekat dengan sumber bahan bakunya,” ujar Farhan kembali.

Bagi wilayah pesisir timur yang rentan terhadap krisis iklim, pendekatan ini bukan hanya efisien, tetapi juga strategis dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekonomi.

“Pesisir timur itu hidup dari laut. Banyak warganya nelayan tangkap, sementara ibu-ibunya mengolah kepiting, membersihkan daging dan cangkangnya. Karena itu, pendekatan ini kami nilai bukan hanya efisien, tetapi strategis untuk menjaga lingkungan dan memastikan ekonomi mereka tetap berjalan di tengah krisis iklim,” katanya. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sebut KPK Agak Lambat, Luluk Nur PKB Tetap Apresiasi Penetapan Tersangka Eks Menag Yaqut
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Modus Jemput Pakai Sepeda Mini, Pedagang Takoyaki di Kalideres Tega Cabuli Bocah di Bawah Umur
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Bakal Diisi Rafale, Skadron Udara 12 Pindahkan Jet Tempur Hawk ke Lanud Supadio
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp40,99 Triliun sepanjang 2025
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Isu Kenaikan Gaji PNS 2026 Menguat, Ini Penjelasan Menkeu
• 14 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.