Gaza: Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza masih jauh dari mencukupi, meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama tiga bulan.
“Kita sudah memasuki bulan ketiga gencatan senjata, tetapi bantuan belum tersedia dalam skala yang dibutuhkan penduduk. Memang ada makanan yang masuk, tetapi selain makanan, sangat sedikit bentuk bantuan lain yang diterima,” kata Lazzarini, dikutip dari laporan Anadolu, Jumat, 9 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa banyak warga Gaza masih bertahan di tempat penampungan darurat berbahan karet yang rapuh. “Yang datang hanya tenda-tenda yang tidak kedap air, yang jelas tidak memberikan perlindungan memadai. Pada dasarnya, mereka masih kekurangan hampir segalanya,” ujar Lazzarini.
Lazzarini juga menyoroti kondisi keamanan yang semakin kompleks di Gaza.
“Gaza kini terbelah dua. Ada yang disebut ‘Garis Kuning’. Warga tidak selalu tahu di mana batas ini berada, yang pada akhirnya menambah risiko kematian yang mereka hadapi,” kata Lazzarini.
Ia menambahkan bahwa cuaca dingin menjadi penderitaan tambahan bagi warga yang telah mengalami dua tahun perang brutal, kehancuran, pembantaian, serta pengungsian paksa.
Di tengah keterbatasan tersebut, Lazzarini mengatakan UNRWA terus berpacu dengan waktu untuk mempertahankan layanan dasar. Melalui staf berbasis komunitas, UNRWA masih memberikan layanan kesehatan harian, menjalankan kampanye vaksinasi, memastikan akses air bersih, serta mengelola sampah guna mencegah wabah penyakit.
“Di tengah semua tantangan lingkungan, kami berhasil mengaktifkan kembali pembelajaran tatap muka untuk lebih dari 60.000 anak, serta pembelajaran jarak jauh bagi lebih dari 290.000 anak,” ujar Lazzarini.
Ia menekankan pentingnya mencegah anak-anak tetap terjebak dalam trauma di tengah puing-puing, karena kondisi tersebut berisiko “kehilangan satu generasi” yang pada akhirnya dapat memperkuat ekstremisme. UNRWA di Ambang Krisis Finansial Lazzarini juga mengungkapkan bahwa kontribusi Amerika Serikat terhadap UNRWA masih dibekukan sejak Februari 2024, menyusul tuduhan terhadap staf UNRWA pada masa pemerintahan AS sebelumnya.
Ia menyebutkan bahwa negara-negara lain yang sempat menghentikan pendanaan telah kembali memberikan dukungan setelah investigasi selesai dan langkah korektif diambil. Namun, Amerika Serikat tidak mengikuti langkah tersebut. “Pemerintahan Trump telah mengonfirmasi keputusannya untuk mengakhiri dukungan terhadap badan ini,” kata Lazzarini.
Ia menekankan bahwa hilangnya donor terbesar telah menciptakan kekurangan dana yang signifikan, di saat UNRWA berada dalam tekanan yang sangat berat. Menurutnya, badan tersebut kini beroperasi di ambang kolaps secara finansial dan terpaksa menerapkan langkah-langkah penghematan yang keras sepanjang tahun ini.
Upaya diversifikasi sumber pendanaan, lanjut Lazzarini, belum mampu menutup kekosongan akibat dihentikannya bantuan dari AS. Tekanan keuangan ini secara serius membatasi operasi UNRWA dan semakin menyulitkan pelaksanaan mandat yang diberikan Majelis Umum PBB. Legislasi Israel Hambat Operasi UNRWA Terkait dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel, Lazzarini menilai situasi harus dilihat secara terpisah di setiap wilayah. Ia menjelaskan bahwa sejumlah aktivitas UNRWA di Yerusalem Timur yang diduduki terhenti sepenuhnya akibat legislasi Israel dan klaim Tel Aviv bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari kedaulatan Israel.
Ia merujuk pada undang-undang yang membatasi atau melarang kontak antara otoritas Israel dan pejabat UNRWA, yang berdampak pada kehadiran staf internasional serta pengiriman bantuan ke Gaza. Selain itu, ia menyebut undang-undang lain yang memutus pasokan listrik dan air ke fasilitas UNRWA di Yerusalem Timur, termasuk ketentuan penyitaan bangunan dan lahan.
Langkah-langkah tersebut, menurut Lazzarini, bertentangan langsung dengan putusan Mahkamah Internasional dan merupakan pelanggaran hukum internasional. Ia menilai tindakan itu mencerminkan pendekatan sepihak Israel.
Meski demikian, Lazzarini menyatakan UNRWA masih memiliki sekitar 12.000 staf di Gaza yang terus memberikan edukasi kesehatan publik, akses air bersih, layanan pengelolaan limbah, serta dukungan psikososial setiap hari. Ia mengakui bahwa jumlah dan skala bantuan masih belum memadai, namun menegaskan, “Meski menghadapi berbagai hambatan, kami tetap sangat aktif di lapangan.”
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3434268/original/073102000_1618904085-Kolase_-_Persija_Jakarta_Vs_Persib_Bandung.jpg)


