GenPI.co - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim akhirnya mengungkapkan kegelisahannya lewat media sosial karena tak diizinkan berbicara dengan media saat sidang.
Nadiem yang tengah terjerat kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek ini melalui akun media sosial Instagram @nadiemmakarim membeberkan kejanggalan kasusnya.
Surat ini sempat dibacakan salah satu kuasa hukumnya dalam persidangannya pada Senin (5/1).
“Karena saya tidak diperbolehkan berbicara kepada media, saya terpaksa menulis surat ini untuk dibacakan pengacara saya," kata Nadiem, dikutip Jumat (9/1).
Nadiem mengaku heran dituduh menerima dana Rp809 miliar dari proyek pengadaan laptop Chromebook.
"Apakah masuk akal keuntungan yang saya dapatkan Rp809 M kalau total omzet Google dari pengadaan Chromebook hanya sekitar Rp621 M? Apakah ada kejahatan yang membayar lebih dari keuntungan?," terang Nadiem.
Nadiem mempertanyakan Apakah masuk akal memilih Operating System yang lisensinya Gratis, yaitu Chrome OS yang menghemat negara Rp 1.2T dibandingkan dengan Windows yang berbayar dibilang merugikan negara?
Selanjutnya, apakah masuk akal bahwa kebijakan yang memilih Operating System gratis menyebabkan harga laptop kemahalan.
“Apakah masuk akal Rp 621M biaya lisensi Chrome Device Management, yaitu fitur aplikasi yang bisa mengontrol dan memonitor setiap laptop di setiap sekolah dituduh "tidak berguna" dan menjadi kerugian negara?” tanya dia.
Nadiem menegaskan pastinya semua pihak tidak menginginkan anak anak dan guru menonton pornografi, ketagihan gaming, atau bermain judi online.
Maka dari itu, Nadiem bertanya apakah tidak menginginkan data penggunaan laptop per sekolah sehingga ada akuntabilitas dan transparansi dalam pengadaan.
Selanjutnya, Nadiem mempertanyakan apakah masuk akal pengadaan laptop yang didampingi Kejaksaan, diaudit oleh BPK, dan diaudit dua kali oleh BPKP di tahun 2024 dan dinyatakan tidak ada kerugian.
“Tiba tiba dinyatakan menimbulkan kerugian 1.5T oleh BPKP di 2025 setelah saya dijadikan tersangka?” terang dia.
Di sisi lain, Nadiem merasa tidak masuk akal narasi berbulan bulan Chromebook tidak bisa digunakan di sekolah tiba-tiba hilang dari dakwaan dan berubah menjadi Chromebook kemahalan.
“Kenapa bisa terjadi?” tanya dia.
Selain itu, Nadiem juga heran tentang narasi berbulan bulan mengenai WA Grup Mas Menteri yang membahas pengadaan Chromebook sebelum menjadi Menteri tiba tiba hilang dari dakwaan.
“Apakah karena tidak pernah ada?” tegas Nadiem.(*)
Video heboh hari ini:



