Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (9/1/2026). Sejumlah saham berkapitalisasi pasar jumbo pendorong indeks komposit hari ini antara lain adalah BBCA, DSSA hingga AMMN.
Melansir IDX Mobile, IHSG ditutup menguat 0,13% atau 11,28 poin ke 8.936,75. Indeks hari ini bergerak di rentang 8.908,17 hingga 8.981,02. Hari ini, terdapat 381 saham yang ditutup menguat, 331 saham ditutup melemah, dan 246 saham tidak berubah.
Menilik saham dengan market cap terbesar pendorong IHSG, ada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang naik 3,16% ke Rp8.150, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 0,93% ke Rp8.125, dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang menguat 0,05% ke Rp103.225.
Berikutnya, ada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang ditutup naik 2,07% ke Rp1.230, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 0,32% ke Rp3.100, dan saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menguat 0,15% ke Rp17.225.
Dengan penguatan ini, IHSG telah melaju 2,16% dalam sepekan terakhir, di mana indeks komposit melalui pekan ini dengan empat kali penguatan dan sekali ditutup melemah pada perdagagan Kamis (8/1). Sementara itu, secara year to date (YtD) IHSG melaju 3,35%, di mana pada perdagangan awal 2026, Jumat (2/1) indeks komposit ditutup menguat 1,17%.
Adapun, pada sesi I perdagangan tadi, IHSG menguat 0,39% ke 8.960,23. Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan secara teknikal terjadi pelebaran pada positive slope dan stochastic RSI berada di area overbought. Dengan kondisi tersebut, IHSG sempat ditaksir akan bergerak dalam rentang 8.960-9.000 pada sesi kedua perdagangan hari ini.
Sejumlah sentimen pasar yang menyertai gerak IHSG adalah investor mencermati sejumlah data yang telah dirilis pemerintah, seperti defisit APBN mencapai yang Rp695,1 triliun per Desember 2025, atau setara dengan 2,92% dari PDB. Defisit ini lebih tinggi dari defisit 2024 sebesar 2,3% dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 sebesar 2,53% dari PDB.
"Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai 91,7% dari target dan realisasi belanja negara sebesar 96,3% dari anggaran," tulis sekuritas.
Data lainnya, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$156,5 miliar pada Desember 2025 dari US$150,1 miliar di November 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




.jpeg)